Pengakuan Jennet

Pengakuan Jennet

Ngkiong.com – Hai, aku Jennet.  Ini nama panggilanku. Namaku yang lain, Jenny. Coba tebak, aku siapa? Kuberi beberapa klu berikut. Secara ilmiah, namaku disebut equus asinus. Di negara kita yang indah permai ini, aku agak susah hidup. Aku takut akan hujan yang terlalu banyak, karena itu bisa membuatku sakit. Oleh karena itu aku lebih suka hidup di daerah yang kering dan hangat.

Nama populerku, dalam bindo, sering dikaitkan dengan ciri kebodohan dan kedunguan. Banyak orang di sini menggunakan namaku untuk merujuk dua ciri buruk itu. Tetapi sebagian lain, termasuk yang menulis pengakuanku ini, justru mengaitkan namaku dengan ciri sebaliknya. Ciri kecerdasan. Kalau belajar, mereka sering menggunakan jasa dari keunggulan namaku. Cukup dengan menggabungkan kata jembatan di depan namaku.

Sekarang jelas kan! Bisa ditebak. Ya. Anda benar. Jembatan Keledai, cara ringkas menguatkan ingatan dalam belajar.

Aku, Seekor Keledai

Begitu mendengar atau membaca namaku, yang muncul dibenak orang adalah ciri-ciri ini. Lemah, lambat dan bodoh. Kuakui, tak seluruhnya itu salah. Ada yang benar.

Misalnya, aku lambat. Jika dibandingkan dengan si perkasa kuda, kecepatan maksimalku cuma dua puluh empat kilometer per jam. Itu seper berapa ya dari kecepatan terendah motor atau mobilmu. Silahkan hitung sendiri.

Tapi, soal lemah dan bodoh, sabar dulu. Mungkin orang tidak banyak tahu fakta tentang kami. Sekadar info pelengkap, aku sebut beberapa ya.

Pertama. Kelompok kami dipimpin oleh seorang Jack yang tangguh. Jelas dia jantan. Dia selalu berada di garis depan saat berhadapan dengan predator dan musuh.

Kami jarang berkelahi dan bertengkar. Apalagi membunuh dengan menggunakan bom. Atau bergerombol menyeruduk rumah ibadat untuk mencelakakan manusia di dalamnya.

Di bawah pimpinan Jack, kami saling menjaga dan memelihara. Tak jarang, jasa kami dipakai untuk menjaga kawanan ternak lain, seperti domba atau kambing. Jika musuh datang, kami akan menginjak-injaknya. Kami tak mudah terkejut. Tapi bunyi ledakan bom, seperti yang terjadi kemarin di Makassar, pastilah membuat kami terkejut.

Baca Juga: Flu Babi dan Kacaunya Perasaan Kami

Kedua. Kami memiliki ingatan yang kuat. Bahkan, tempat yang kami lalui dua puluh lima tahun lalu, masih bisa kami ingat baik. Dengan begitu, kami jarang tersesat. Nah…coba lihat dirimu sebagai manusia.

Masih ingat kata-katamu dua puluh lima tahun lalu? Pasti ada yang ingat. Tapi, banyak juga yang lupa. Coba cek jejak digital banyak orang yang tampil di medsos. Maaf ya, aku tak bermaksud buruk. Banyak orang lupa, meski baru setahun berlalu, bahwa saat itu dia sering menebar kebencian dan permusuhan kepada sesama. Dan saat ini ngotot berkelit sebagai tokoh panutan. Aduh jadi ngelantur. Sekali lagi, maap deh.

Kamu sebagai manusia sering menghina kami. Keledai dungu dan bodoh. Anehnya, sering juga sesama kamu mengecap yang lainnya dengan ungkapan buruk itu. Jadi ingat seorang tokoh yang sering memakai kata dungu, sebagai kata kunci dalam diskusinya. Semua orang distempeli dungu. Bahkan kepada pemimpin negara sekali pun. Mungkin beliau perlu membaca pengakuan ini. Dia perlu belajar menghargai sesama dari kaum keledai. Bukankah mengkeledaikan sesamamu itu sebentuk kedunguan yang tak lucu?

Ketiga. Pendengaran tajam. Ingat bentuk telinga kami. Berdaun lebar dan tegak berdiri. Itu bukan kebetulan. Luar biasa istimewa Tuhan merancangnya. Dengan alat pendengaran seperti itu, kami mampu mendengar suara sesama kami dari jarak enam puluh mil. Terutama di padang pasir atau gurun. Di negerimu yang penuh lekak lekuk lembah ngarai gunung, kemampuan kami mungkin berkurang.

Bagaimana dengan telingamu yang kecil itu. Katanya, kamu itu mahkota ciptaan. Tetapi, seringkali, kamu tak mendengar. Bertelinga tapi tuli. Berbiji mata dua, tapi tak melihat. Punya sepasang kaki, tapi lumpuh untuk melawat tetangga. Melenggang dengan sepasang tangan, tapi tak terulur untuk menyentuh sesama. Sudahlah, ini bukan urusan kami kaum keledai. Namun sebagai sesama ciptaan mungkin ada baiknya kita saling peduli dan berbagi. Bumi dan semesta ini diciptakan untuk semua. Termasuk untuk kami, para keledai. Betul kan? Inilah tiga dari sekian fakta unik pada kami. Masih ada loh fakta yang lebih keren lagi. Coba ingat kembali Kitab Sucimu.

Baca Juga: Sanpio Berbagi

Tunggangan Yesus, Tuhan

Saat membisikkan pengakuan ini, kamu baru saja melewati pekan suci. Sebagaimana kamu tahu, Pekan Sici itu dibuka dengan Minggu Palma. Apa yang terjadi pada hari  itu. Jelas peristiwa besar Yesus memasuki Yerusalem.

Coba ingat detil momen itu. Siapa yang mengantar tokoh itu? Akulah itu. Jenny, seekor keledai betina bersama anakku yang masih kecil.

Itulah hari paling bersejarah dalam kehidupan bangsa keledai. Tak ada hewan lain yang dipilih-Nya. Bukan si perkasa kuda. Bahkan, manusia pun tidak. Hanya aku, Seekor Jenny muda. Mungkin kamu sekarang melihat fakta itu. Coba perhatikan lebih jauh. Siapa tahu, kamu bisa menemukan suatu pelajaran kecil dari situ.

Sejarah lama dalam Alkitabmu mencatat beberapa hal penting tentang kami. Peran kami sudah tercatat sejarah, terlepas kamu mengakuinya atau tidak.

Sebut misalnya dalam kitab Bil 22, 21-37. Keledai ajaib yang bisa bicara menyelamatkan Bileam dari bahaya maut. Abraham, Yair sebagai hakim, Abigail dan Salomo menunggang keledai sebagai orang besar.

Lalu, di zaman berikutnya, Yesus Raja Semesta Alam duduk di atas punggungku memasuki Yerusalem. Tapi sabar dulu. Itu bukan yang pertama.

Baca Juga: Kibar Merah Putih di Tangan Nong Kesik

Ingat ketika bayi Yesus bersama orang tuanya, Ia terpaksa harus mengungsi jauh. Memang sih, Kitab Suci tidak secara eksplisit menyebut peran kami. Tetapi, sebagaimana lazimnya saat itu, keluarga kudus itu menggunakan jasa kami sebagai sarana transportasi. Bayangkan perjalanan tanpa keledai menempuh jarak 690 kilometer dari Betlehem ke Mesir. Mustahil dengan kaki saja. Demikian pula, ketika kembali dari Mesir ke Nazaret menempuh jarah 784 kilometer beberapa tahun kemudian. Kami jadi tungganggan andalan.

Sampai di sini, kamu lihat, perjalanan terpanjang keluarga kudus ini terjadi di atas punggung kami, bangsa keledai. Kami menerima tugas itu sebagai panggilan. Dengan ikhlas dan suka cita. Tanpa memegahkan diri, sebagaimana kepala kami selalu tertunduk.

Begitulah saat  Yesus menyuruh Muridnya untuk mengambil aku dan anakku, kami menyambut gembira tugas mulia itu. Mengantar Juru Selamat memasuki kota suci, Yerusalem. Suatu kehormatan yang tiada taranya. Tugas suci yang tak pernah dilimpahkan ke atas bahu seorang manusia sekali pun. Itulah momen tak ternilai bagi kami, ciptaan yang seringkali kamu rendahkan. Kami tak henti bersyukur pada Dia, Tuhan Yesus. Kami hanya menjalankan tugas sesuai kemampuan kami. Memikul Dia di atas punggung kami, di awal dan diujung Kehadirannya di bumi, itu adalah rahmat teramat besar untuk kami. Bahkan untuk sekalian alam, yang kami wakili.

Kata-kata Rasul Paulus dalam I Kor 1: 27-28 pertama merujuk kepada kami. “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia,…!” Aku tak perlu melanjutkannya. Silahkan kamu baca terus dan renungkan. Aku, Jenny keledai betina yang di atas punggungku pernah duduk Yesus, Sang Juru Selamat, cuma mau titip sebuah pertanyaan. Siapakah yang bodoh di hadapan Dia?

Aku ingat benar hari bersejarah itu. Untuk pertama kali, kaki kami menginjak pakaian manusia sebagai alas kaki kami. Dihiasi daun palma segar didepan bibir, kami hampir tak bisa menahan diri. Kamu tahu, bibir adalah alat kami meraup makanan. Benar-benar godaan berat. Apalagi buat anakku yang masih kecil. Tetapi, kami ingat di atas punggung duduk seorang Raja Semesta Alam. Kelaparan  dan nafsu makan jadi lenyap. Yang ada kebahagiaan yang besar. Apalagi, disambut lautan manusia yang gegap gempita.

Baca Juga: Bunuh Diri dan Solusi Permasalahan

Sebagaimana dulu, sekarang kami pun mengantar Dia sampai dengan selamat ke tempat tujuan. Kami taat dan setia pada-Nya sampai akhir. Tak ada pengkianatan dalam kamus kaum keledai.

Lalu kamu? Sejarah mencatat ini. Tak lama setelah pekik sorak sorai itu, kamu berbalik dan kamu meneriakkan pengkianatan ini. Salibkan Dia, Salibkan Dia!

Kaum manusia memang aneh. Mengaku Anak Tuhan, Pengikut Yesus, tapi justru di ujung jalan berbalik menjadi pengkianat junjungannya sendiri. Sekarang siapa yang lebih dungu? Terserah apa jawabanmu. Yang pasti, suatu hari, Dia Yang duduk di atas punggungku akan menjadi hakim kita semua di akhirat.

Maafkan aku ya. Salam hangatku di Hari Raya Paskahmu. Ketika kamu bersama Dia sejak awal perjalanan, di titik akhir kamupun akan menikmati kebahagiaan yang dijanjikanNya, Yesus Tuhan. Percayalah aku menikmati kebahagian abadi itu sekarang.

Sampai jumpa. Aku, Jenny, si keledai betina pengantar Yesus Tuhan.*

Oleh : Fransiskus Posenti, Penulis adalah pegiat Literasi, tinggal di Cancar-Manggarai.

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP