Lalong Liba; Kenangan, Pertarungan, dan Air Mata

Lalong Liba; Kenangan, Pertarungan, dan Air Mata

Ngkiong.com-Sejak kecil, kita barangkali sering mendengar sebutan bahwa “laki-laki tidak boleh menangis” atau lies. Memang entah mengapa, orang tua sepertinya tidak menyukai ketika anak kecil menangis. Saat kita bermain dan tiba-tiba pulang ke rumah sambil menangis karena dipukul atau diolok teman sebaya, alih-alih berharap pulang ke rumah untuk mencari perlindungan dan mendapatkan pertolongan, kita justru akan mendapat bentak bahkan cubitan kecil.

Hal-hal sederhana seperti ini yang kemudian tumbuh subur dalam otak saya. Suatu waktu dengan radio jadulnya, bapak mendengar kan lagu-lagu dan beberapa berita radiogram. Saat itu, grup band Lalong Liba sedang naik daun, beberapa lagunya selalu menjadi playlist wajib di oto kol dan juga radio. Malam itu lagu Lalong Liba diputar beberapa kali, salah satu penggalan lirik yang saya ingat adalah:

Nai ge ole ine wada ge oleh ame lonto tadang one tanah data”.

Entah mengapa saat setelah mendengar lagu Lalong Liba tersebut, bapak saya tiba-tiba menangis. Sebagai sesama laki-laki, saya pun langsung menertawakan bapak.

“Oe bapa kita ini laki-laki, ba’ang ge menangis lagi (Bapak, kita ini laki-laki, masa menangis)”.

Beliau hanya tersenyum lalu memeluk saya erat sekali; hal sederhana yang bertahun-tahun setelahnya tidak lagi saya dapatkan. Malam-malam setelahnya, rutinitas bapak tetap sama; mendengar, melamun, dan menangis. Dari samping, saya seperti pengganggu, yang selalu mengingatkannya bahwa laki-laki tidak boleh menangis.

Baca juga: Habitus Bully dan Solusi Permasalahan yang Harus Ditempuh

Waktu terus berjalan, usia semakin bertambah bersama dengan masalah-masalah yang melekat dalam diri setiap individu. Pemikiran awal bahwa laki-laki tidak boleh menangis perlahan hilang bahkan lenyap dari ingatan. Berubah menjadi orang yang cepat dan sering sekali menangis.

Beberapa momen yang terjadi memaksa saya untuk meneteskan air mata. Saat dosen pembimbing tiba-tiba sakit dan harus dirawat berbulan-bulan di rumah sakit membuat air mata harus jatuh. Meratapi nasib dan melihat teman-teman sibuk mengupload foto di media sosial sambil memegang balon S.Pd; atau memakai selempang bertuliskan nama lengkap dengan gelar menghadirkan ketakutan tersendiri dalam diri. Pertanyaan yang muncul adalah engkau kapan? Jalan keluar yang terbaik pada situasi seperti itu adalah pergi ke kapela adorasi, berdoa sambil menangis. Kadang ketika diingat lagi menjadi hal  yang lucu; mencari Tuhan hanya saat susah.

Barangkali masih banyak lagi momen penting yang membuat seseorang harus menangis. Bukan soal perasaan yang tebal atau tipis. Lebih dari itu, menangis adalah gambaran tentang kehidupan seseorang.Tentang perjuangan yang tidak sesuai dengan hasil, mimpi-mimpi yang tidak terwujud, atau sesuatu yang tidak terpikirkan bisa terjadi dalam hidup namun terwujud.

Baca juga: Serundeng, Kuliner Bintang yang Kalah Bersinar

Saya misalnya, bahkan setelah mendapat pekerjaan dan memiliki penghasilan sendiri masih saja sering mengeluh dan ujung-ujungnya menangis. Saat malam, biasanya sebelum tidur saya selalu mendengarkan lagu Lalong Liba. Saya bukanlah tipe orang yang suka mendengarkan lagu dan mengikuti perkembangan dunia musik. Dan setiap malam juga pasti akan menangis ketika mendengarkan lagu-lagu dari grup band dari Manggarai Barat tersebut.

Setelah diberi tanggung jawab lebih, melihat hal yang seharusnya belum layak kita lihat tentu membawa sebuah kecemasan dan ketakutan. Pertarungan-pertarungan hidup yang sebenarnya belum cukup umur untuk kita terlibat di dalamnya membuat kita melihat banyak hal dan memaksa kita untuk bertumbuh dan menjadi lebih dewasa.

Baca juga: Kokis Ené

Setelah bertahun-tahun saya baru menyadari bahwa ada alasan khusus yang membuat seseorang harus meneteskan air mata. Bapak setiap mendengarkan beberapa lagu Lalong Liba bahkan sampai sekarang tetap akan menangis. Mesti diakui juga bahwa lirik-lirik dari Lalong Liba benar-benar berangkat dari falsafah hidup. Di tengah hiruk pikuk kita mengejar uang di dunia ini, mendengar Lalong Liba seperti menyadarkan saya tentang apa sebenarnya yang harus diraih.

“Enu maram cekoen sewung ho’o tamal ali le gori rum ai go weta mai somba Mori Jari“.

Lirik ini seperti penyejuk di tengah kesibukan saya (kita?) bekerja bahkan sampai melupakan waktu istirahat dan orang-orang tercinta. Lalong Liba akhirnya mengajarkan banyak hal, cara menghadapi hidup dan dia tahu bagaimana cara kita mengenang masa lalu yang menyedihkan; menawarkan air mata misalnya.

Penulis: Arsi Juwandy, Redaktur Ngkiong

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP