Toe Manga Isung; Sebuah Basa-Basi Sosiolinguistik

Toe Manga Isung; Sebuah Basa-Basi Sosiolinguistik
Foto : Ilustrasi eventkampus.com

Ngkiong.com-Pengklasifikasian hadir dalam banyak ruang lingkup hidup masyarakat. Ia diciptakan untuk mempermudah proses identifikasi sekaligus sebagai sebuah penanda. Ada banyak instrumen yang dipakai untuk menciptakan sistem klasifikasi seperti bentuk benda, sifat, karateristik, warna, jumlah, volume, dan lain sebagainya.

Tidak terkecuali pada tubuh manusia. Berdasarkan bentuk hidungnya, manusia dibagi menjadi dua jenis: manusia berhidung mancung dan manusia berhidung pesek. Batasan mengenai mancung atau peseknya hidung seorang manusia masih bersifat abu-abu dan subjektif karena mancung didefinisikan dalam besaran yang tidak baku.

Kadang apa yang dianggap mancung oleh suatu kelompok masyarakat, bisa jadi tidak termasuk dalam kategori hidung mancung oleh kelompok masyarakat lainnya. Begitu pun sebaliknya.

Barangkali terdengar remeh, namun saya kira dalam masyarakat Manggarai, pembahasan mengenai bentuk dan penamaan hidung menjadi suatu isu serius yang perlu diangkat. Alasannya jelas, persepsi tentang hidung memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap hidup seseorang.

Baca juga: Ardin Liko; Pegiat Literasi dan Penyanyi Hip-hop Asal Ngada

Sebelum berbicara lebih jauh, ada baiknya kita cerna bersama konsep penamaan hidung orang Manggarai berdasarkan bentuknya. Dalam bahasa Manggarai, hidung mancung diterjemahkan ke dalam bentuk isung mongko. Sementara, hidung pesek diterjemahkan ke dalam bentuk isung lempe.

Isung lempe menelurkan dua varian: lempe nau (pesek yang sedap dipandang) dan lempe pilat (pesek yang tidak sedap dipandang). Lempe nau ialah golongan orang pesek yang sedap dipandang. Entah apa alat ukur sedap dan tidak sedapnya.

Terkait golongan pertama, Rensi Ambang, musisi Manggarai sempat mendedikasikan sebuah lagu berjudul Lena (akronim Lempe Nau).

Lena, Lena, Lena. . Lena lempe nau!

Lena, Lena, Lena.. Lena Magdalena!

Kurang lebih demikian salah satu penggalan liriknya.

Berbicara mengenai varian yang kedua, banyak juga golongan masyarakat yang menyebutnya dengan istilah: toe manga isung. Jika kita pecahkan kontrusksi toe manga isung kita mendapati akar kata: toe (tidak), manga (memiliki, mempunyai), isung (hidung). Lempe kedua ini bersinonim dengan toe manga isung, sama dengan tidak memiliki hidung. Ia bermakna negatif.

Sebagai orang yang dianugerahi hidung minimalis, saya kira terjemahan kedua ini diam-diam menyimpan bahaya laten. Kenapa hidung yang kurang mancung dikonotasikan ke dalam bentuk: toe manga isung? Siapa tu nenek moyang pertama yang populerkan ini istilah yang bikin tersinggung ni?

Baca juga:Mie; Kuliner Legend Rasa Kelas Sosial

Kita tahu bahasa dan pikiran ialah dua hal yang saling terkait satu sama lain. Ada istilah: language is the mirror of mind (bahasa itu cerminan pikiran). Cara masyarakat membahasakan sesuatu menggambarkan konstruksi pikiran tentang apa yang dibahasakannya. Konsep bahasa dan konstruksi pikiran yang terbangun tentang suatu hal memengaruhi cara pandang dan cara kelompok masyarakat memperlakukan konsep bahasa yang dimaksud.

Sebagai contoh, konsep bahasa (definisi/batasan) tentang perempuan dalam masyarakat patriarki akan sangat berbeda dengan masyarakat matriarki ataupun golongan masyarakat liberal. Bangunan definisi yang berbeda pada ketiga golongan masyarakat ini turut mempengaruhi bagaimana cara mereka memandang dan memperlakukan perempuan.

Kembali ke konstruksi toe manga isung; dari cara penerjemahan ini terbaca bahwa bagi orang Manggarai, hidung akan diterima sebagai sebuah hidung hanya ketika ia mancung. Dalam konteks ini, eksistensi hidung ditentukan oleh keber-mancung-annya. 

Hukumnya jelas: ia mancung maka ia dianggap ada. Implikasinya, kalo sebuah organ yang menggantung di atas mulut dan berfungsi sebagai gerbang masuk udara ke dalam tubuh bentuknya kurang mancung, maka masyarakat tidak menganggapnya sebagai sebuah hidung.

Bayangkan susahnya jadi hidung yang kurang mancung; ia ada tetapi dianggap tidak ada (toe manga isung) oleh masyarakat. Orang yang punya hidung namun jika bentuknya kurang mancung, ia dianggap tidak punya hidung (toe manga isung’n).

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan seorang kerabat yang telah lama tak bertatap muka. Saya kaget dan malu-malu saat dia bilang:

“Dee,, ho kaut tu’an gah. Agit manga isung’n danong (wah,, sekarang sudah besar. Dulu ia pesek a.k.a tak punya hidung) katanya menggebu-gebu kepada sang suami.

Perasaan saya ketika itu campur aduk; haru, bangga, sedih, dan iba menyatu. Saya tersimpan di memorinya sebagai sosok bocah yang tak punya hidung. Organ pernapasan yang menggantung di atas mulut ini tidak diterima sebagai sebuah hidung: barangkali karena ia hanya terlihat seperti sebuah lombok tahu krispi!? Hikss.. 

Baca juga:Tantangan Persatuan Indonesia di Era Milenial

Bangunan definisi tentang hidung dan kategorisasi yang dibentuk di tengah masyarakat memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap hidup seseorang (baca: pemilik hidung) yang mendiammaknainya. Body shiming kerap didapati oleh seseorang hanya karena warna kulit, bentuk dan ukuran anggota tubuh, termasuk bentuk hidungnya.

Saya mengenal seorang bocah yang dipanggil “pesek” oleh teman-temannya. Bocah ini sering menjadi sasaran buli. Sapaan dan perlakuan yang kerap ia terima ini tentu saja bisa mempengaruhi mental dan mengikis kepercayaan dirinya di ruang publik.

Bocah-bocah yang tumbuh dengan sapaan yang menyinggung bentuk fisik dalam lingkungan yang membuli kerap mengalami krisis kepercayaan diri. Saya menemukan banyak anak didik yang tumbuh dengan luka body shimming, entah oleh teman, lingkungan, guru, bahkan oleh orang-orang terdekatnya sendiri.

Untuk ungkapan yang “mengganggu” semacam ini, ketika seseorang tersinggung kita sering dengan enteng berkilah: baperan, kurang bergaul, mainnya kurang jauh, pulangnya kurang malam, atau apalah. Saya pikir tidak sesederhana itu.

Pada orang-orang tertentu, beberapa ucapan lepas yang terkesan sederhana bisa menjadi luka yang membekas untuk waktu yang lama. Kita perlu belajar menciptakan lingkungan yang mencintai diri sendiri dan memutuskan mata rantai ini karena kepercayaan diri ialah salah satu mutiara paling mahal dalam hidup.

Dalam dunia orang dewasa, hal yang sama kerap terjadi. Tak jarang hidung menjadi salah satu tolak ukur keluarga atau teman dekat menilai pasangan seseorang. Hal ini terbaca melalui ungkapan-ungkapan berkonotasi negatif di tengah masyarakat.

“Com asi agu hi enu/nana hitu. Agit manga isung’n” (Sebaiknya jangan dengan pria/wanita itu, hidungnya pesek.)

“Tiba te co’on hi nana/enu hitu, ce gewek isung koen” (Untuk apa kau menerima pria/wanita itu, hidungnya cuma secuil.)

Orang-orang ini kadang lupa, secara genetik anak/kerabat mereka juga punya tipografi hidung yang kurang lebih sama (mereka punya model hidung juga kurang lebih sama) tapi mereka mendambakan pasangan sang anak/kerabat yang punya hidung macam artis India. Haloo, kalian sehat? Standar ganda dan tidak adil sekali sejak dalam pikiran!

Baca juga:Peran Orang Tua dalam Pembelajaran dari Rumah

Akhir kata, seperti apa pun bentuk dan tipografi hidungmu, syukurilah.

Selama kita masih bisa menghirup nafas kehidupan, bersukacitalah.

Ata mesen tama manga nai agu sehat, to?

Luka-luka tersembunyi dan krisis kepercayaan diri menyadarkan kita bahwa jalan penerimaan diri masih sangat panjang; kita bisa mulai menyembuhkan dan menumbuhkannya dari lingkungan kecil kita!*

Oleh : Ichan Lagur, Redaktur Ngkiong

Bagikan Artikel ini

One thought on “Toe Manga Isung; Sebuah Basa-Basi Sosiolinguistik

  1. Reply
    Patrisius Jerebu
    15/08/2021 at 8:42 am

    Saya tidak tau apa motivasi admind menulis ini, apakah karena waktu kecil di anggap “toe ma isung” ata sekadar menyadarkan orang2 bahwa kebiasaan tersebut sangatlah negatif. Tapi terlepas dari itu semua saya sangat apresiasi terhadap tulisannya, sangat rapi dan pesannya tersampaikan. 👏👏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP