Kibar Merah Putih di Tangan Nong Kesik

Kibar Merah Putih di Tangan Nong Kesik

Ngkiong.com – Bendera kita, Merah Putih, bisa membawa kasus kalau dipegang tangan yang tak bertanggung jawab. Sejarah perjalanan bangsa kita mencatat banyak bukti. Saya tak perlu menunjuk catatan tentang itu di sini. Itu tugas ahli sejarah dan sosiolog.

Di tangan orang yang cinta Merah Putih, sebagai simbol NKRI, barang berharga itu dapat menjadi inspirasi  menarik. Inilah yang terjadi beberapa hari belakangan ini. Catatan kecil ini adalah narasi sederhana seorang warga biasa. Gambaran isi hati seorang ayah dengan tiga orang anak, yang tak jarang terkesima dengan munculnya guru kehidupan luar biasa dari sosok seorang anak kecil di tengah kita.

Saya rasa sebagian dari kita sudah lupa dengan seorang anak yang videonya banyak beredar di Youtube dan medsos yakni Jhony dari Belu. Video aksi Jhony dapat pembaca saksikan di sini.

Baca Juga: Kentut-Kentut Orang Idealis Bagian Ketiga

Dalam peristiwa tersebut, Jhony berhasil memperbaiki Sang Merah Putih yang hampir tidak bisa berkibar dalam upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI. Sebuah tindakan spontan dan heroik, yang kemudian justru mengubah kisah hidupannya. Jhony mendapat sambutan dan hadiah dari berbagai kalangan. Dia dijuluki pahlawan kecil dengan keberanian luar biasa. Mengapa? Sebagai seorang warga biasa saya punya jawabannya.

Banyak orang melihat aksi heroik anak Timor itu, keberanian dan pengorbanan tanpa pamrih yang sudah lama hilang ditelan zaman. Tindakan spontannya itu menggarisbawahi kebutuhan kita yang mendesak akan hadirnya tokoh anutan sejati dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Ajaibnya, kita menemukan mutiara itu dalam diri seorang anak kecil; kelompok warga negara yang sering diabaikan oleh orang dewasa. Jhony jadi tanda tanya dan tanda seru; ia menjadi penggugat keteledoran besar kita, sekaligus tanda harapan munculnya generasi milenial yang patriotis, cerdas, dan berani.

Baca Juga: Bunuh Diri dan Solusi Permasalahan

Episode Penting Nong Kesik

Sebuah peristiwa serupa juga baru saja terjadi. Bukan lagi di tanah cendana, tetapi di pinggir pantai Sadang Bui, Maumere. Videonya sedang ramai diperbincangkan di jagat maya. Saya menonton video berdurasi pendek tersebut dari kiriman seorang sobat. Video itu berjudul Momen Mengharukan dari Kunjungan Presiden Jokowi di Maumere.

Dalam video tersebut seorang anak  memainkan peran yang kecil, tapi membawa pesan besar.  Kisah persisnya seperti ini. Ketika pesawat kepresidenan hendak landing di bandara Frans Seda Maumere, banyak orang berebut untuk melihat dan menyambut sang pemimpin negara di pinggir jalan sebelah utara bandara. Nong Kesik ada di antara para penyambut itu, ia menggenggam bendera kecil. Mungkin bendera yang terbuat dari kertas minyak.

Saat hidung pesawat tampak dari arah utara bandara, bocah itu berlari dari arah barat ke timur, sambil mengibarkan bendara kecilnya. Mungkin sambil berteriak gembira, “Jokowi, Jokowi, kami mencintai Bapak!”

Tak ada yang peduli. Orang-orang di situ mungkin hanya tersenyum melihat aksi Nong Kesik. Toh, itu biasa untuk anak-anak. Gembira tanpa diperintah, bersemangat apa adanya tanpa rekayasa. Spontan sebagaimana hati kecilnya menggiring. Lebih-lebih yang datang itu adalah orang nomor satu di negeri ini. Seorang presiden atau kepala negara Republik Indonesia, yang fotonya bersama wakil presiden wajib dipajang di ruang kelas atau kantor. Tentu ada rindu untuk melihat secara langsung sosok Presiden Joko Widodo,

Nong Kesik tak peduli, apakah Bapak Jokowi melihat dia dan bendera kecilnya yang terus melambai menyambutnya. Toh jendela pesawat tak mungkin dibuka seperti jendela angkot; untuk sekadar membalas sambutan si kecil itu. Dia juga tak berpretensi untuk mencari muka di depan presiden yang murah hati membagi banyak sepeda bagus dengan hanya menjawab pertanyaan sederhana darinya.

Nong Kesik peduli pada rasa cintanya pada Jokowi, seorang kepala negara yang merepresentasikan hadirnya negara untuk kesejahteraan Nian Tanah Sikka melalui bendungan Napun Gete. Kegembiraan alami seorang anak menyambut seorang bapak yang membawa air kehidupan di tengah gersangnya tanah dan keringnya rezeki digerus Corona.

Baca Juga: Di Kampung Tal, Saya Belajar Bagaimana Bersyukur

Sumber Air So Dekat

Sekarang, mungkin juga hari-hari yang akan datang, kita barangkali merusak kegembiraan anak Sikka, Nong Kesik, dengan membuat atau sengaja membuat kasus yang menghancurkan Merah Putih kecil yang berkibar di tangan seorang bocah. Menginjak-injak kibar bendera putih hati seorang anak kecil dan menodai merah berani darah seorang kandung bangsa yang sedang bertumbuh kembang dalam cemas.

Ya. Kita orang tua, yang sudah dewasa tak jarang bersikap angkuh meremehkan anak-anak yang hati dan perasaannya tulus murni tanpa prasangka. Anak-anak, seperti Nong Kesik ini, tahu dengan sanubarinya yang tajam, datangnya air kehidupan dari tangan seorang bapak bagi ratusan juta jiwa anak bangsa. Dan ketika tangan sang ayah bangsa itu menyalurkan air melalui waduk Napun Gete, ia yakin sumber hidup baru untuk keluarga tanah kelahirannya so mendekat. Sedekat dan akrab bersahabat senyum sukacita Jokowi yang larut hanyut dalam euforia cinta masyarakat Sadang Bui di kerumunan massa.

Dari ujung barat Nusa Bunga, saya rindu akan hadirnya Nong Kesik, dengan kibar bendera kecilnya yang akan menjadi pengingat istimewa bagi semua. Juga bagi bapak Jokowi di tengah lelah berdarah-darah cintanya pada semua anak bangsa.*

Oleh : Fransiskus Posenti, Penulisa Adalah Pegiat Literasi KejArif, Cancar-Manggarai

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP