Saung Ndusuk dan Betong; Riwayatmu Kini

Saung Ndusuk dan Betong; Riwayatmu Kini

Kepentingan konsumsi dalam sebuah acara seremonial selalu menjadi sorotan. Panitia konsumsi adalah sentral bagi keseluruhan acara.

Di momen-momen penting, nuru (daging) merupakan salah satu aset berharga bagi suskes tidak terselenggaranya sebuah acara. Pesta sekolah, sambut baru, penti, atau beberapa acara adat lainnya selalu membutuhkan nuru, sebagai penopang bagi terciptanya citra positif untuk penyelenggara acara tersebut. Ia menjadi satu paket komplet dengan seluruh peristiwa dalam setiap mata acara.

Pada umumnya, orang Manggarai selama beberapa tahun sebelum ini sangat akrab dengan salah satu jenis sayuran yang wajib dihidangkan yaitu saung ndusuk (daun senggani). Daun senggani ini merupakan tumbuhan dari famili Melastomataceae dan genus Melastoma.

Mungkin sebagian besar pembaca sudah tahu kebiasaan yang digunakan untuk mendapatkan saung ndusuk. Eh, sebelumnya saung ndusuk ini ada dua jenis yang dibagi oleh orang Manggarai. Ada saung ndusuk rona dan saung ndusuk wina. Saung ndusuk rona memiliki ciri-ciri berbulu dan tebal, sedangkan saung ndusuk wina memiliki daun yang cukup halus. Saung ndusuk wina-lah yang dijadikan sebagai sayur untuk dimakan. Yang dipetik biasanya harus segar dan hijau. Bahkan beberapa orang menyebutnya dengan daun adat. Mungkin karena melekat dengan peristiwa adat.

Saung ndusuk selalu menjadi pilihan utama. Di kampung-kampung, ketersediaan saung ndusuk ini cukup memadai. Ia hidup berdampingan dengan beberapa jenis tanaman lainnya. Saung ndusuk merupakan jenis tanaman liar yang tak perlu dirawat seperti beberapa jenis sayuran, salah satunya saung daeng (daun singkong).

Selama satu dekade terkahir, sebelum bapak ibu mengenal beberapa hidangan yang lebih moderen, saung ndusuk telah menjadi primadona bagi ibu-ibu. Keberadaannya di meja hidangan adalah kekuatan bagi keberlangsungan sebuah acara. Ia menjadi paduka tak bermahkota.

Baca juga: Orang-orang Bertopeng

Dedikasi saung ndusuk bagi keseluruhan acara tidak bisa dibantah khasiatnya oleh seluruh ase kae lawa Manggarai. Saung ndusuk ini biasanya dicampur dengan daging babi.

Coba tanyakan pada kakek nenek Anda sekalian. Khasiatnya selalu berbanding lurus dengan upaya untuk menciptakan kerja sama yang baik di antara beberapa pihak di dapur dengan seluruh tamu yang datang.

Masih terbersit menjelang akhir tahun 2000-an, di setiap acara adat selalu dipilih seksi khusus terkait pengumpulan saung ndusuk ini. Orang-orang yang mengurus bidang saung ndusuk merupakan orang yang paham akan jenis sayur yang pas digunakan untuk dicampur dengan daging babi. Bak pawang hujan, mereka pun punya kriteria khusus.

Saung ndusuk memiliki daya tawar cukup tinggi bagi terjaminnya cita rasa masakan dalam sebuah acara.

Baca juga: Di Indonesia Banyak Orang Baik

Pada momen tertentu, mengenang kejayaan saung ndusuk seperti sebuah nostalgia. Saung ndusuk, sebuah simbol kejayaan. Ia pernah menjadi penguasa, dicintai, dibutuhkan keberadaanya. Selama itu, perihal lain selalu dikesampingkan.

Ia perlahan dan pasti ruang geraknya digeser oleh sejumlah menu sayuran yang lebih trendy. Mama-mama di dapur sudah merasa tidak gaul jika kembali bercengkerama dengannya. Ia tak lagi menjadi jawara. Belum lagi mama-mama kampung yang sudah punya wote (anak mantu) anak kota. Sumpah mati untuk hidangkan lagi itu saung ndusuk.

gambar.pro

Saat itu, jenis sayur-sayuran tak banyak dan tak sedinamis sekarang peredarannya. Atau mungkin, pertumbuhan ekonomi telah membuatnya menjadi tak lebih menarik dari jenis-jenis sayur lainnya.

Bahkan, di awal milenium bapak-bapak dari pusat pemerintahan memborong saung ndusuk ini sampai penuh satu truck. Sebuah pemandangan luar biasa yang sudah langka untuk kembali ditemukan.

Saung ndusuk, sejalan dengan penggunaan seperangkat alat untuk terselenggaranya acara lainnya seperti  betong (bambu) pun tinggal cerita. Orang-orang sudah beralih pada terop. Seperti momen masuk minta, pesta sambut baru, teing tinu, serta beberapa acara lainnya.

Baca juga: Ceak Hutu: Ajang Mama-Mama Menjadi Tokoh Publik

Masyarakat saat ini sudah paham betul soal efisiensi dan efektivitas. Jika dikalkulasikan, pengeluaran ketika menggunakan betong atau pering, lebih hemat menggunakan terop. Hal ini membuktikan bahwa kita telah beranjak lebih jauh pada upaya kemajuan.

Usaha terop juga telah memberikan harapan akan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Coba perhatikan di beberapa anak kampung, usaha terop sudah bertumbuh dengan baik.

Bahwasannya, nilai-nilai yang kita anut dalam kehidupan bermasyarakat selalu mengalami perubahan. Hal itu  telah memberikan banyak pengaruh bagi upaya peradaban.

Saung ndusuk dan betong hanya bagian kecil yang penulis amati. Masih banyak perangkat budaya yang mungkin pembaca lainnya temukan, kemudian bandingkan keberadaan dan manfaatnya dengan situasi zaman.

Perilaku dan kebiasaan memang mengalami perubahan, tetapi ingatan tentang hal tersebut tidak mudah bersih dari memori. Seperti sebuah adagium yang mengatakan: tulisan bisa saja dihapus tetapi ingatan tidak.

Vian Agung*

Bagikan Artikel ini

One thought on “Saung Ndusuk dan Betong; Riwayatmu Kini

  1. Reply
    Tito Iksan
    27/12/2020 at 11:11 am

    Paragraf pembuka mengacu pada kehidupan pribadi Jones Luki, paragraf ini hanya versi ilmiahnya saja 😀😀. Khusus daerah Reo, kami mengenal saung ndusuk ketika mengambil bagian dlm acara adat di daerah sekitar ruteng. Kami adalah para penjunjung “saung daeng yang utuh”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP