Filosofi Kloset

Filosofi Kloset

Ngkiong.com – Sebagai siswa yang tinggal di asrama, hampir pasti saya dan teman-teman selalu bersua dengan kloset. Kloset menjadi destinasi paling sahih untuk membuang air kecil atau pun air besar. Demi menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan, kebiasaan untuk kencing dan berak sembarang mesti dihilangkan. Tindakan ini juga adalah soal bagaimana membangun dan membentuk etika yang baik dalam kehidupan berasrama. Toh, kenyamanan dan ketenangan semua anggota yang rasakan.

Akhir-akhir ini saya menemukan makna dan pelajaran hidup dari barang yang satu ini. Kebanyakan kita menganggap kloset sebagai  barang yang biasa dan menjijikkan. Anggapan ini merupakan sebuah kewajaran. Sesekali kita semua merasakan dan mengalami hal yang sama.

Rm. Mangun pernah mengatakan, suatu karya besar sering kali muncul dari tempat-tempat yang dianggap paling hina. Beliau mungkin berangkat dari pengalamannya sendiri. Karya-karya besarnya banyak terinspirasi dari kehidupan orang-orang kecil di sekitar Kali Code. Yang terpenting adalah kepekaan hati dan ketajaman rasa untuk mengambil makna di balik setiap peristiwa hidup yang dianggap sepele sekalipun. Namun bukan berarti saya ingin mengatakan bahwa tulisan ini adalah karya besar, he he he….

Sebagian besar dari kita tentunya sudah pernah menggunakan kloset dari model yang sederhana hingga yang modern. Akan tetapi satu hal yang pasti bahwa kloset model apapun akan berumur panjang jika digunakan secara baik dan benar. Panjang atau tidaknya umur kloset –dan barang lainnya-, ditentukan oleh sejauh mana barang tersebut dirawat dan dijaga. Kloset akan berumur panjang bila tetap dibersihkan secara rutin setelah digunakan.
Baca Juga: Tak Perlu Malu untuk Menulis Sesuatu

Kalau boleh jujur, kadang kita lalai merawat barang-barang yang kita gunakan termasuk kloset. Padahal barang tersebut akan sangat membantu kita dalam menciptakan lingkungan yang sehat. Kita tidak mungkin membuang kotoran di tempat yang tak seharusnya seperti zaman dulu lagi. Akibat kelalaian membersihkan, menyiram, dan menyikat lubang kloset setelah  buang air besar ataupun buang air kecil, kloset menjadi bau dan menguning.

Ketika habitus ini terus dipelihara dalam jangka waktu yang lama, sadar atau tidak, kloset akan sulit dibersihkan lagi. Kalaupun bisa itu membutuhkan waktu yang lama dan tenaga ekstra. Lain halnya ketika setelah menggunakan kloset langsung disiram atau disikat. Lalu, apa makna filosofis dari kloset ini untuk kita?

Bagi saya, filosofi kloset mengajarkan kepada kita dua hal penting berikut. Pertama, seperti halnya kloset yang menguning bila kelamaan tidak dibersihkan, dan menimbulkan bau tidak sedap, begitupun halnya akan terjadi dengan diri kita. Semakin kita terlampau nyaman memelihara kebiasaan buruk serta lumpuhnya kesadaran untuk memperbaiki diri, tanpa disadari hal itu akan merusak citra diri kita dari dalam. Akibatnya, seluruh diri kita, tindak tutur, dan laku hidup, menampakkan sesuatu yang tidak berkenan bagi orang lain yang berjumpa dengan kita.

Lebih jauh, orang lain merasa tidak nyaman dekat dengan kita sehingga mereka akan menjauhi kita. Ketika dijauhi, muncul perasaan depresi yang berujung pada tindakan menyalahkan orang lain dan situasi. Selain itu, kita akan mengidap penyakit kronis: tidak lagi menerima diri sendiri apa adanya.

Filosofi Kloset
Image: Dok genpi.com


Baca Juga: Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Keempat

Kedua, filosofi kloset menjadi awasan bagi kita bahwa sesuatu atau seseorang itu buruk tidak berasal dari dirinya sendiri. Dalam bahasa St. Paulus, sesuatu tidak najis dalam dirinya. Sesuatu menjadi najis karena kita yang memandangnya najis. Kloset menjadi kotor bukan karena perbuatannya sendiri (yah iyalah, memang kloset benda mati), melainkan dilakukan oleh manusia sebagai pemakai yang tidak bertanggung jawab atasnya.

Selama ini, kita mungkin cepat men-judge orang lain bahwa dia buruk tanpa sepenuhya kita mengenal secara utuh dan bulat kepribadian orang itu. Mungkin apa yang dibuatnya saat itu tidak menyenangkan kita. Namun demikian, hal itu tidak semena-mena mewakili dirinya seluruhnya. Pasti ada sesuatu yang baik yang pernah ditaburkannya bagi sesama.

Selama ini barangkali kita hanya melihat sisi buruk dari orang lain. Oleh sebab itu,  mata hati kita juga sulit melihat kebaikan pada orang lain. Sebaliknya, ketika kita hanya melihat kebaikan yang ada pada orang lain, kita akan mudah memaafkan orang lain karena sadar pasti ada hal baik pada dirinya yang menjadi miliknya dan tidak bisa digadaikan dengan apapun juga. Kita tidak lagi mudah menghakimi sesama sebab kita sendiri, saya dan Anda, juga pernah berbuat salah. Bila kita suka melihat yang buruk pada orang lain, sebenarnya kita sedang menelanjangi diri sendiri.*

Oleh: Vansianus Masir, Penulis adalah Siswa SMA Seminari Pius XII Kisol.

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP