Diam dan Dengarkan

Diam dan Dengarkan
Diskusi Film Dokumenter Diam & Dengarkan bersama UKM Litera UNIKA Santo Paulus Ruteng dan Rumah Baca Aksara Ruteng. (Foto: Dok Ngkiong)

Ngkiong.com – Film dengan judul Diam & dengarkan merupakan film dokumenter yang berdurasi satu jam dua puluh enam menit karya Anatman Pictures yang diproduksi tahun 2020. Film dokumenter pada umumnya berpusat pada dua hal yaitu naratif dan sinematik. Naratif mengacu pada bahan materi yang diolah seperti tema dan konflik, sedangkan sinematik mengacu pada gaya mengolahnya. Penulisan ini tertuju pada persoalan naratif semata.

Film dokumenter dengan judul Diam & Dengarkan ini menyajikan dan membahas persoalan krisis lingkungan  yang saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Film dokumenter ini dibagi ke dalam enam bagian besar yaitu kiamat yang tak terhindarkan, Mens sana in Corpore Sano, Kerajaan Plastik,  Air Sumber Gaya Hidup, Kehutanan Yang Maha Esa, dan Samudra Cinta.

Pertama-tama, judul Film dokumenter ini menggunakan diksi imperatif (perintah) dengan menitikberatkan agar penonton (yang sedang melaksanakan karantina di rumah)  bisa benar-benar melihat persoalan yang kurang diperhatikan selama ini. 

Di bagian awal, ditampilkan awal mula kehadiran spesies yang mendiami bumi. Homo sapiens (manusia) merupakan binatang insignificant/dominan ditampilkan sebagai sumber dari beberapa bentuk persoalan lingkungan yang ada. Kemudian, homo sapiens ada sampai saat ini juga telah melewati banyak persoalan mulai dari Lepra, Cacar, Black Death, Spanish Flu, sampai Covid-19.

Baca juga:Asistensi dan Nasib Para Alumni STKIP Ruteng

Hal menarik yang dibahas dalam film ini yaitu pembahasan tentang hal spiritualitas. Spiritualitas (sumber motivasi dan emosi yang berhubungan dengan Tuhan) menjadi jalur evakuasi dari kecemasan dan ketakutan yang dialami manusia. Pandemi, ketika orang-orang berada di rumah-tanpa aktivitas, mereka perlu menemukan ketenangan diri.  Manusia diajak untuk kembali ke dalam dirinya seperti meditasi atau berdoa.   

Manusia biasanya menciptakan daya khayal tentang hal yang tidak ada, tetapi untuk hal-hal yang mungkin terjadi sangat terbatas. Selama pandemi ini bahkan ada orang yang berpikir bahwa pandemi merupakan sebuah hukuman dari Tuhan. Hal ini, tidak salah karena manusia merupakan mamalia yang memiliki limbik sistem. Manusia punya kecenderungan percaya pada punishment (hukuman) dan reward (penghargaan).

Hal penting lainnya yang perlu kita pahami terkait dengan persoalan yang diangkat dalam film ini adalah terkait konsep penting yaitu alam mengikutsertakan manusia sekaligus menjadi bagian dari alam.  Manusia dan alam sama dalam hal ini saling memengaruhi. Bahwasannya logika yang berlaku untuk alam merupakan bentuk relasi yang dibangun oleh manusia terhadap alam.

Titik berat yang dibahas dalam film ini yaitu terkait manusia yang tidak pernah merasa cukup. Keinginan manusia yang tidak terbatas telah menyebabkan kerusakan lingkungaan. Rusaknya lingkungan merupakan konsekuensi logis dari upaya manusia untuk mempertahankan eksistensinya. Resurection (pengorbanan), menjadi diksi yang tepat untuk menggambarkan proses menuju tatanan kehidupan yang ideal yang diciptakan oleh imaji manusia. Manusia menciptakan sebuah fiksi tentang kehidupan yang utopis. Sebuah kebahagiaan yang berlimpah.

Persoalan plastik, kerusakan air, dan pembabatan hutan merupakan persoalan utama yang ditampilkan dalam film ini. Jika ditelisik dengan cermat, ketiga persoalan besar ini merupakan konsekuensi dari pemenuhan hasrat dari manusia. Pasar bebas telah menjadi sarana bagi manusia untuk memenuhi keinginan dan mencapai hasratnya. Gaya hidup yang sedang tren secara tidak langsung berdampak buruk bagi kualitas lingkungan.  

Pembahasan yang menjadi sorotan dalam film ini tentang hubungan  kemajuan sebuah negara yang  selalu berbanding terbalik dengan kondisi bumi. Hal ini bisa dibuktikan dengan segala bentuk eksploitasi hasil bumi untuk pemenuhan kebutuhan manusia mulai dari makanan, listrik dan berbagai macam hal pendukung peningkatan standar hidup manusia.

Pada akhirnya, manusia dan alam mengalami keretakan dalam relasi saling mempengaruhi. Eksplotasi yang berlebihan terhadap alam oleh manusia yang kita saksikan bersama telah melahirkan krisis lingkungan yang ada. Secara logis alam memiliki dinamika internal yang dengan sendirinya ada dalam dirinya.   

Baca juga: Istilah-istilah di Sekolah Calon Imam

Perlawanan itu sebuah hal yang inheren oleh alam. Dalam artian, semua perilaku yang diterima oleh alam dalam sejarah panjangnya akan dengan sendirinya kembali kepada manusia. Eksploitasi yang dilakukan manusia terhadap alam akan kembali kepada manusia. 

Dengan demikian pandemi covid-19 telah menggerakkan manusia untuk berdiam diri, merefleksikan kembali proses panjang kehidupan umat manusia dan semua hubungannya dengan alam. Umat manusia perlu menciptakan kembali imaji kolektif yang lebih bernilai positif.

Sebagai penutup, kita semua perlu menjawab terkait dengan pertanyaan, pembangunan dengan model seperti apa yang tidak berdampak buruk bagi lingkungan?. Tentu pertanyaan ini harus lahir dari sebuah jawaban yang paling masuk akal, agar kita tidak lagi melanjutkan kerusakan yang telah ada.

Oleh : Vian Agung, Redaktur Ngkiong.

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Google Analytics Stats

generated by GAINWP