Sanpio Berbagi

Sanpio Berbagi

Ngkiong.com – Literasi menjadi salah satu aspek penting dalam praksis pendidikan. Dengan keterampilan literasi yang mumpuni, para peserta didik diharapkan  menjadi pribadi yang berkualitas, terutama di zaman yang diwarnai berbagai persaingan global ini. Selain itu, dengan memperkuat budaya literasi, para peserta didik diharapkan mampu berpikir dan bertindak secara kritis.

Sikap kritis menjadi kian penting di tengah kecenderungan globalisasi, ketidakpedulian, dan tercerabutnya masyarakat dari akar-akar sosial kultural. Pada titik ini para peserta didik diharapkan mampu membuat pilihan yang berjangkar pada pertimbangan dan penilaian yang memadai. Mereka diharapkan tetap menjadi agen perubahan. Perubahan selalu bermula dari ide dan pikiran yang revolusioner dan progresif; yang diwujudnyatakan dalam tindakan nyata.

Baca Juga: Kibar Merah Putih di Tangan Nong Kesik

Salah satu problem mendasar dunia pendidikan Indonesia ialah rendahnya budaya literasi. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia masih sangat memprihatinkan, yakni hanya 0,001%. Ini berarti dari setiap 1.000 orang Indonesia, hanya terdapat 1 orang yang rajin membaca (https://www.kominfo.go.id/). Sejurus dengan itu, dalam riset bertajuk Worlds Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61) (https://www.kominfo.go.id/).

Sebagai sebuah lembaga pendidikan dan rumah formasi, Seminari Pius XII Kisol mencoba menjawab persoalan tersebut melalui sejumlah program dan kegiatan. Lembaga yang bernaung di bawah visi terbentuknya peserta didik yang berkarakter 5S (Santitas, Solidaritas, Sosialitas, Sciencia, dan Sanitas) ini berusaha merancang program yang linear dengan visi-misi tersebut. Tulisan ini berusaha untuk menerangkan secara lebih terperinci berbagai program dan kegiatan yang dimaksud.

Fokus pembahasan yang dijelaskan penulis ialah implementasi gerakan literasi sekolah (GLS) di kalangan siswa SMA Seminari Pius XII Kisol (Sanpio). Penulis tertarik untuk membahasnya karena Sanpio telah menjadi rumah literasi dan budaya bagi para siswa yang berada di dalamnya.  

Baca Juga: Kentut-Kentut Orang Idealis Bagian Ketiga

Sanpio Berbagi
Gambar 1. Siswa atas nama Fridolin B. Darmiyanto sedang mempresentasikan karya ilmiahnya di hadapan komunitas SMA Seminari Pius XII Kisol

Sanpio sebagai Rumah Literasi

Implementasi gerakan literasi sekolah di kalangan siswa SMA Seminari Pius XII Kisol mencakup enam literasi dasar sebagaimana yang termuat dalam Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMA (2019:14-15). Implementasi keenam literasi dasar tersebut akan diuraikan sebagai berikut.

Pertama, literasi baca-tulis. Literasi baca-tulis adalah pengetahuan dan kecakapan dalam hal membaca dan menulis untuk mengembangkan pemahaman dan potensi dalam diri. Salah satu bentuk implementasi literasi baca-tulis di kalangan siswa SMA Seminari Pius XII Kisol ialah  pembuatan refleksi harian. Para siswa diwajibkan membaca perikop bacaan rohani seturut penanggalan liturgi Gereja Katolik. Hal ini menjadi tugas wajib para siswa sebagai calon imam dalam agama Katolik.

Masing-masing siswa menulis refleksi terhadap perikop Kitab Suci pada hari itu. Setiap siswa diberi kesempatan selama 15 menit sebelum doa malam untuk membaca bacaan rohani pada hari bersangkutan. Sesudah membaca bacaan rohani, setiap siswa menganalisis dan mencari pesan dari perikop bacaan rohani yang dibacanya, lalu merefleksikannya dengan pengalaman hidup sehari-hari.

Baca Juga: Bunuh Diri dan Solusi Permasalahan

Hasil refleksi kemudian dikumpulkan kepada para pendamping setiap akhir pekan untuk diperiksa dan akan dibagikan kembali pada awal pekan. Melalui pembuatan refleksi harian, para siswa diharapkan mampu meningkatkan keterampilan literasi baca-tulis yang mereka miliki. Selain itu, para siswa pun mendapatkan nilai-nilai kehidupan dari pesan Kitab Suci yang sangat berguna bagi kehidupan mereka.

Kedua, literasi digital. Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau internet dalam menemukan informasi, dan memanfaatkannya secara  bijak, cerdas, dan taat asas. Salah satu bentuk implementasi literasi digital di kalangan siswa SMA Seminari Pius XII Kisol ialah pemanfaatan jaringan internet.

Internet telah menjadi salah satu  media pembelajaran yang memberikan banyak manfaat bagi para siswa. Di sekolah, para siswa menggunakan internet untuk mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan, khususnya dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah seperti pembuatan berita, opini, makalah, puisi, cerpen,  karya tulis ilmiah, dan lain sebagainya.  Para siswa dapat mengakses internet melalui sarana dan prasarana digital yang telah disediakan pihak sekolah.

Baca Juga: Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Kedua

Ketiga, literasi numerasi. Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan menggunakan dan mengkomunikasikan berbagai macam angka dan simbol matematis untuk memecahkan masalah dalam konteks kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk implementasi literasi numerasi di kalangan siswa SMA Sanpio tampak dalam pengerjaan tugas Matematika.

Misalnya, para siswa ditugaskan mengukur dan menghitung tinggi berbagai objek seperti kapela, rumah susun, dan sebuah pohon yang terdapat di lingkungan Sanpio. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mengaplikasikan materi trigonometri untuk memecahkan masalah praktis dalam kehidupan sehari-hari.  

Gambar 2. Para siswa sedang mengukur tinggi sebuah pohon di lingkungan seminari

Melalui kegiatan tersebut, para siswa bisa memperoleh, menginterpretasikan, menggunakan, dan mengkomunikaskan berbagai macam angka dan simbol matematika untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai konteks kehidupan.

Keempat, literasi finansial. Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial guna meningkatkan kesejahteraan. Salah satu bentuk implementasi literasi finansial tampak dalam pengaturan uang belanja. Para siswa seringkali menyimpan uang belanjanya pada pendamping asrama. Selain untuk menjaga keamanan uang siswa, hal tersebut juga bertujuan untuk meminimalisasi pemborosan penggunaan uang belanja. Uang yang disimpan bisa diambil oleh para siswa ketika digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan, seperti perlengkapan sekolah, perlengkapan mandi, dan beberapa kebutuhan mendesak lainnya.

Kelima, literasi sains. Literasi sains adalah pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan baru dan menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta. Salah satu bentuk implementasi literasi sains di kalangan siswa SMA Seminari Pius XII Kisol tampak dalam kegiatan penelitian dan seminar ilmiah.

Kegiatan penelitian dan seminar ilmiah menjadi program rutin tiap semester. Kegiatan seminar ilmiah diselenggarakan dua kali dalam setahun, yakni pada Hari Peringatan Kematian Pater Leo Perik, SVD (Pendiri Seminari Pius XII Kisol) setiap tanggal 6 Oktober dan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei.

Baca Juga: Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Pertama

Keenam, literasi budaya dan kewargaan. Literasi budaya adalah pengetahuan dan kecakapan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah pengetahuan dan kecakapan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat. Literasi budaya tampak dalam kegiatan misa inkulturasi, sedangkan literasi kewargaan tampak dalam bentuk kegiatan live in.

Misa inkulturasi merupakan suatu perayaan ekaristi yang melibatkan unsur-unsur kebudayaan suatu daerah. Di Sanpio, misa inkulturasi dirayakan setiap hari Jumat. Dalam misa tersebut lagu-lagu liturgis yang dinyanyikan diambil dari buku Dere Serani. Dere Serani merupakan sebuah buku yang berisi kumpulan doa dan lagu litugis dalam bahasa Manggarai. Selain itu, terdapat juga beberapa doa yang didoakan dalam bahasa Manggarai.  Misalnya, Yo Ema Dami (Doa Bapa Kami), Tabe O Maria (Doa Salam Maria), dan doa lainnya. Melalui misa inkulturasi para siswa mendapatkan pengetahuan dan kecakapan terkait kebudayaan lokal sebagai identitas mereka.

Sementara itu, kegiatan live in merupakan salah satu  kegiatan dalam mengembangkan sikap dialog dan toleransi para siswa terhadap sesama.  Live in dilakukan para siswa kelas XI di beberapa kelompok kategorial. Melalui kegiatan live in  para siswa memberikan sejumlah bentuk pelayanan kepada warga komunitas di tempat live in. Selain itu mereka pun dapat menemukan narasi hidup dan kultur kehidupan yang berbeda antara komunitas yang mereka miliki dengan komunitas lainnya.

Baca Juga: Nama Orang Manggarai

Penutup

Kegiatan-kegiatan literasi yang telah dijelaskan di atas memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan kemampun literasi peserta didik. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan sebaiknya terus mendorong setiap sekolah untuk merancang kurikulum dan  program pembelajaran yang mengarah pada kecintaan akan semangat literasi sejak dari bangku sekolah. Literasi tersebut menjadi nilai dan arti yang pada gilirannya akan membantu para peserta didik dalam mengaktualisasikan dirinya di tengah dunia yang juga kompleks.

Oleh: Fridolin B. Darmiyanto, Penulis adalah Siswa Kelas XII SMA Seminari Pius XII Kisol

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP