Romantisme Arsi Juwandy dalam Memori

Romantisme Arsi Juwandy dalam Memori

Ngkiong.com-Penyair adalah orang yang paling romantis. Mungkin pendapat ini benar dalam konteks ketika si penyair mampu meluluhlantakkan hati kekasih pujaannya. Atau sekurang-kurangnya, ketika membaca baris-baris sajaknya, kekasih hati sang penyair langsung merasa terbang ke angkasa. Ambil misal, puisi paling populer karya Sapardi Djoko Damono: aku ingin mencintaimu dengan sederhana:/ dengan kata yang tak sempat diucapkan / kayu kepada api yang menjadikannya abu // aku ingin mencintaimu dengan sederhana:/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan / awan kepada hujan yang menjadikannya tiada //. Siapa yang tak klepek-klepek oleh nada puisi ini?

Masih senada dengan aspek romantis, kecenderungan pilihan kata nada nan merayu membuat penyair itu tampil seakan sentimentil, melankolis, kehilangan harapan, bak cinta bertepuk sebelah tangan. Mengapa tidak? Penyair hanya pandai merangkai kata, tetapi tak cakap meruntuhkan hati kekasih hati yang sebenarnya. Bukan karena cintanya ditolak, melainkan karena si penyair barangkali hanya jantan dalam kata-kata, lemah dalam jumpa empat mata dengan si gadis pujaannya. Bila akhirnya, tema romantisme dikait-kaitkan dengan tema puisi, kita akan bertemu sekian banyak puisi yang rata-rata bernada cinta atau bertema cinta.

Kebetulan selama masa pandemi Covid-19 saya bergaul dengan sebuah antologi puisi berjudul Memori karya Arsi Juwandy dan kawan-kawannya. Ada 125 puisi dari lima penyair yang berkolaborasi dalam antologi ini. Saya coba menyoroti beberapa puisi karya Arsi dalam kaitannya dengan tema romantisme. Istilah romantisme di sini mesti dimaknai sebagai tema tentang cinta, atau puisi-puisi yang melukiskan tentang cinta baik dari sisi kebahagiaan maupun kedukaan.

Baca juga: C u m a n g A M a n g

Konon, Amir Hamzah – salah seorang tokoh Pujangga Baru dalam peta sastra puisi Indonesia – melahirkan puisi Nyanyi Sunyi dan Buah Rindu setelah patah hati dengan kekasihnya: Ilik Sundari. Amir Hamzah terpaksa meninggalkan gadis pujaannya itu, karena secara adat ia dikawinkan dengan anak pamannya. Di balik puisi-puisinya yang bernada keagamaan-religius itu, Amir Hamzah tidak bisa menutupi perasaan kedukaan hatinya: ia patah hati, ia galau karena jodohnya tidak kesampaian. Malang benar! Kita simak cuplikan puisi Padamu Jua: … // Satu kakasihku / aku manusia / rindu rasa / rindu rupa //; atau puisi Hanya Satu: …// aduh kekasihku / padaku semua tiada berguna / hanya satu kutunggu hasrat / merasa dikau dekat rapat / serupa Musa di puncak tursina //. Dalam dua kutipan ini, nada religius begitu kuat, tetapi pesan yang sesungguhnya adalah tentang cinta yang tak kesampaian. Amir Hamzah lantas mengadu kepada Tuhan sebagai sumber dan asal segala cinta.

Selain Amir Hamzah, kita dapat menyebut Chairil Anwar, W.S. Rendra, dan Sapardi Djoko Damono yang memiliki nada dan suasana romantik percintaan dalam puisi-puisi mereka. Chairil Anwar sebagai penerus Amir Hamzah dalam konteks menciptakan “tenaga kata” dalam perpuisian Indonesia lebih sering dikenal sebagai penyair yang galau. Latar hidupnya yang suram karena sakit-sakitan, menderita, tetapi jiwanya meledak-ledak, membuat Chairil mampu meletakkan kata-kata bertenaga dalam setiap puisinya, termasuk dalam pembicaraanya tentang cinta. Puisi Senja di Pelabuhan Kecil melukiskan kesuraman nuansa cinta itu: Ini kali tidak ada yang mencari cinta / di antara gudang, rumah tua, pada cerita / tiang serta temali. Kapal, perahu, tiada berlaut / menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut //. Sajaknya yang lain, berjudul 1948 seakan mempertegas kegelapan tentang cinta itu: Lihatlah cinta jingga luntur:/ Kalau nanti datang topan ajaib / menggulingkan gundu, memutarkan gasing / memacu kuda-kudaan, menghembus kapal-kapalan / aku sudah lebih dulu kaku //.

Baca juga: Ceak Hutu: Ajang Mama-Mama Menjadi Tokoh Publik

W.S. Rendra dalam Surat Cinta menulis demikian: kutulis surat ini / kala hujan gerimis / bagai bunyi tambur mainan / anak-anak peri dunia yang gaib / Dan angin mendesah, / Wahai, dik Narti / aku cinta padamu!//. Rendra dengan jenaka seakan mengiris-iris pesan cinta agar kekasih jiwanya: Sunarti (seorang penyanyi seriosa pada masa itu), menerima cintanya. Entahkah pesan cinta itu tersampaikan atau tidak? Yang pasti Rendra secara konsisten mampu meracik kalimat-kalimat cinta dalam beberapa karya puisinya.

Lalu, bagaimana dengan Arsi Juwandy dalam Memori? Arsi menghadirkan 34 buah puisi dalam antologi ini.Tema dominan yang muncul dalam puisi-puisi ini adalah tentang relasi sosial (hubungan antarmanusia) dan hubungan manusia dengan Tuhan. Mungkin seperti Amir Hamzah, Arsi bergerak dalam kepelikan memori cintanya sambil bersembunyi di balik puisi-puisinya yang bertema ketuhanan. Ia membuka lembaran pertama dengan puisi Senyum: Di sudut senyummu / aku menopang rindu //. Tampak dalam puisi ini, guratan romantisme percintaan mewakili seribu rasa yang ada di dalam diri penyair. Bayangkan! Setiap kali si penyair memikirkan senyum kekasihnya, ada rindu yang bergejolak di dadanya. Suasana ini kembali muncul dalam puisi Hujan: Hujan ini turun tengah malam / aku berteduh di bawah payung / deru air yang pilu / rintik yang jatuh / membawaku padamu / Hujan malam ini, aku merindu //.

Dalam puisi Kepada Terkasih, Bagian 1 – 3, si penyair meletakkan harapannya tentang cinta dengan larik: aku berharap … ;aku ingin … ; dan ditutup dengan: semoga … . Puisi Kepada Terkasih yang terdiri dari 3 bagian ini, masing-masing menggambarkan kerinduan dan harapan terdalam aku lirik kepada kekasih hatinya, Bagian 1: Aku berharap di sautu pagi yang dingin / Tuhan merestuiku untuk menanam puisi-puisi di ladang / yang kau sebut: Hati / Lalu pada benih yang tumbuh: / Kau umpamakan aku pohon yang membuka diri kepada / burung-burung yang menyembunyikan angin di bawah / kepak-kepak sayapnya / … //.

Pada Bagian 2: Aku ingin suatu pagi / Aku mendengar radio dengan lagu lawas / Sambil menunggumu mengirimkan sepotong puisi untukku / Aku ingin suatu pagi, engkau mampir di hatiku / tanpa bertanya: “kita harus ke mana?” //. Bagian 3 dari puisi Kepada Kekasih menjadi simpulan dari harapan dan kerinduan itu: Semoga Tuhan yang Maha kuasa / mengasihani kita: / membawa tidur malammu pada mimpiku / di sana engkau akan berlari-lari, / memetik bunga / dan merebahkan badan / tanpa meminta: “antar aku pulang //.

Baca juga: Serba-serbi Doa Rosario

Dengan beberapa kutipan ini, si penyair ingin menumpahkan rasa cintanya yang total. Namun, apalah dikata, si penyair hanya mampu bermain kata, tanpa menunjukkan tindakan nyata. Cinta tanpa perbuatan adalah sia-sia, begitu kata orang bijak. Seperti seorang Sapardi Djoko Damono, Arsi Juwandy bermain-main dalam pusaran angin cinta yang merantai hatinya. Puisi Angin menggambarkan suasana ini: Aku ingin mencintaimu seperti angin / menyentuh daun telingamu dengan lembut / mengibas helai rambutmu / mengecup bibirmu / dan menyegarkanmu di kala terik / aku ingin mencintaimu seperti angin / yang bersembunyi di balik pohon / dan engkau berteduh di bawahnya //. Lagi-lagi di sini, si penyair hanya bisa berharap, merindu, berimajinasi, berangan-angan. Namun, si penyair memberi argumen atas jiwa sentimentilnya ini dalam puisi Hak dan Kewajiban: Di dunia ini kekasih / semua punya hak / dan aku, berhak mencintaimu / Kewajibanmu cuma satu yaitu menjawab / meski aku tahu kamu juga memiliki hak untuk menolak cintaku //. Ada sebuah pleidoi atau pembelaan atas rasa cinta dalam diri si penyair. Bagaimana riwayat cinta itu selanjutnya? Arsi menulisnya dalam Puisi: Barangkali puisiku adalah rencana paling pisau untuk / membunuhmu dalam kepalaku dan melawan kejamnya senyummu //.

Masih banyak aspek lain tentang romantisme atau tema percintaan yang dapat ditelisik atas beberapa puisi karya Arsi Juwandy dalam antologi puisi Memori ini. Masalah cinta atau percintaan adalah bagian yang terpisahkan dari hidup manusia. Para penyair coba merenung, meresapi, dan kemudian menuangkannya dalam baris-baris puisi. Ada nuansa kebahagiaan, kedukaan, harapan, atau sekadar imajinasi tentang cinta di sana. Penyair tentu tidak ingin menggurui pembaca; atau pun penyair tidak serta merta sedang berbicara tentang dirinya melalui puisi-puisi tersebut. Penyair hanyalah jemari di tangan Sang Pencinta Agung untuk menuliskan cinta pada kanvas memori setiap insan yang mungkin sedang jatuh cinta. Perkara si pembaca (kekasih hati) merasa tersentuh oleh baris-baris puisi tersebut, itulah yang dinamakan syukur kepada Allah. Kalaupun tidak, setiap penyair yang romantis tak akan pernah lelah menulis demikian: Namamu: Aku ingin melukis rinduku / pada tiap helai daun yang luruh jatuh / namamu. Hanya namamu / selamanya // aku ingin menulis puisi cinta / dengan tinta rinai gerimis / tentang senyummu. Hanya senyummu / selamanya //. Selamat menunaikan ibadah cinta!!.

Catatan: Para pembaca yang tertarik ingin mengoleksi/memiliki antologi puisi MEMORI karya Pak Arsi Juwandi, dkk., silakan langsung menghubungi beliau. Resep cinta dan patah hati ada di sana. Sekali dibaca, Anda mungkin tak perlu lagi mendefinisikan apa itu jatuh cinta. Namun, tentang rasa cinta itu jatuh kepada siapa, itulah perkara yang perlu dirumuskan ulang.Bukan begitu?? ***).

*Eduardus Sateng Tanis

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP