C u m a n g A M a n g

C u m a n g   A M a n g

(Catatan Kecil Sebuah Perjumpaan)

Ngkiong.com Cumang itu sebuah perjumpaan. Itu terjadi tanpa diduga. Di suatu tempat yang biasa, tetapi jadi tak biasa karena berhadapan dengan sosok yang unik. Umurnya, dapat kita temukan pada salah satu bagian tubuhnya. Posturnya terbilang kecil; nanti di akhir tulisan ini akan kelihatan seberapa kecil dia. Penulis menduga, dia tak asing sama sekali bagi sebagian besar pembaca.

Sebut saja dia, AMang. Karena dia unik, maka sebutannya harus diberi notasi khusus. Hanya huruf pertama dan kedua yang ditulis dengan huruf kapital. Sebetulnya itu bukan suatu keharusan, tapi penulis merasa perlu. Bukankah setiap hal mengandung keunikannya sendiri? 

KejArif menemui dia, atau lebih tepat dia yang menemukan KejArif beberapa hari lalu. Sudah lama terpendam sebuah kerinduan akan hadirnya suatu sosok yang dapat menjadi anutan, figur yang dapat menjadi acuan dan rujukan dalam keluarga kejArif. Oh ya, supaya pas perlu sedikit gambaran keluarga penulis.

Penulis  lahir di Manggarai lebih dari lima puluh tahun yang lalu tepatnya di Nekang, kota Ruteng dari kedua orang tua asli Manggarai. Tetapi, perjalanan hidup mempertemukan penulis dengan pasangan hidup orang luar daerah Manggarai. Kedua putra kami lahir di ujung pulau Nusa Bunga. Cuma si gadis bungsu yang lahir di dekat tempat kelahiranku. Sepanjang hidup berkeluarga, kami boleh dibilang agak terasing dari akar budaya orang tua kami. Kenyataan inilah yang membuat keluarga KejArif menyambut hangat si AMang yang datang. Sekarang ia menjadi tamu istimewa di tengah kami.

Baca Juga: Satria Digital Mengincar Kita

Profil AMang Menantang

Siapakah si AMang ini?

KejArif tidak bermaksud memupuskan rasa ingin tahu tentang sosok ini. Catatan kecil ini bertujuan sederhana: menjadi pintu kecil agar setiap orang, terutama pembaca melihat jalan masuk menemui si dia. Setiap perjumpaan itu unik. Maka, perjumpaan KejArif dengan si AMang itu subjektif.

Warnanya khas. Kekhasan itulah yang akan digores di sini. Suatu hari, perjumpaan kita masing-masing dapat saling memperkaya kebersamaan.

Ini dia. Si AMang menguasai musin olon kosa kata bahasa kelahiran penulis yakni Manggarai. Dari kebersamaan dengannya, kami memperoleh beberapa fakta ini. Ia sangat memahami tradisi tutur nenek moyang kita hingga ke hal-hal yang lebih mendetail. Wawasan kebahasaannya luar biasa luas dan dalam.

Misalnya, ia tahu tidak ada kata dalam bahasa ibu kita diawali dengan huruf F, Q, V, X, Y, dan Z. Banyak kata dalam bahasa ini dimulai dengan A, B, C, D, G, H, I, J, K, L, M, Mb, N, Nd, Ng, O, P, R, S, T, U, dan W.

Ia tahu persis jumlah kata. Ia menguasai 45.489 kata bahasa Manggarai. Perhatikan rincian jumlah kata per abjad huruf depannya. Jumlah kata dengan abjad huruf depan A itu ada 98, B ada 286, C ada 308, D 220, …. W ada 285.

KejArif tidak mencatat semuanya. Alasannya sederhana saja. Setiap orang, tanpa kecuali bisa mengecek langsung padanya. Apalagi, si AMang ini sangat santun dan berbudaya. Cerdas dan selalu siap membagi apa yang diketahuinya. Ia siap berdialog dengan siapa saja tanpa pandang bulu. 

Si AMang adalah sosok ahli dan ia ingin mengabdi; tak ingin bertanding, tapi mau bersanding dengan semua pihak untuk kebaikan bersama. Ia mau melanjutkan sesuatu yang mulia yang telah lama dimulai. Ia mau mendukung upaya berbagai pihak untuk melestarikan budaya mbate dise ame melalui dokumentasi, refleksi, dan inspirasi budaya yang dikuasainya.

Baca Juga: Belajar Berdemokrasi dari Hikayat Penguin Karya Anatole France

Sosok AMang yang Sederhana

Sampai di sini, mungkin ada pertanyaan mengganjal: siapa sih dia? Sederhana saja. Kalau KejArif memberi beberapa petunjuk, apa pembaca mau mencari? Ya, terserah pembaca.

Tetapi, yang jelas dialog dengan sosok ini telah membawa kami sampai ke dua titik penting. Titik yang oleh Reuel Howe dalam buku The Miracle Of Dialogue mengungkapkan keajaiban dialog sanggup menciptakan hubungan yang belum ada dan sanggup menghidupkan kembali hubungan yang telah padam. 

Titik bagian pertama, berhubungan dengan istri dan anak-anakku. Cumang AMang adalah berkat baru untuk mereka. Dengan dia, anggota keluarga lintas budaya kami diperteguh dan diperdalam. Bagian kedua, untuk penulis mungkin juga untuk  orang Manggarai lainnya. Dengan tokoh spesial ini kita bisa menghidupkan kembali hubungan dengan akar budaya leluhur yang telah padam. 

Itulah kisah perjuampaan kecil kami. Si Amang kecil ini adalah sebuah barang yang sangat berharga. Fisiknya berukuran 15 cm x  23 cm. Tebalnya, xlii plus 646 halaman.

Nah, sekarang tahu kan? Sebuah Kamus Bahasa Manggarai-Indonesia, Indonesia-Manggarai: Dokumentasi, Refleksi, dan Inspirasi Budaya. Penulisnya Robert S. Ebat dan Fransiskus Ebat. Terbitan tahun 2018.*

Oleh : Fransiskus Posenti, KejArif

Penulis adalah pegiat literasi dan penggagas Taman Baca KejArif Cancar.

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP