Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Keempat

Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Keempat

Ngkiong.com-Sejauh idealisme dibicarakan di dalam lingkungan intelektual, saya kira hal itu akan tetap dihargai. Sebaliknya memang ia akan menjadi kentut jika dibicarakan di luar habitatnya. Apakah dengan demikian orang-orang idealis cukup berada di tempurungnya saja ataukah ia memang harus keluar? Tampaknya modal yang dianjurkan Bourdioue dalam tulisan-tulisan sebelumnya memang kini terdengar idealis.

Sulit menemukan seorang figur yang memiliki paket komplet berupa modal budaya, modal sosial, modal finansial, dan modal simbolik untuk menerjemahkan idea-idea ke dalam kenyataan. Di dunia yang makin mengenal spesialisasi pekerjaan, mahir di satu bidang menentukan keberadaan seseorang. Apakah dengan demikian orang idealis harus tetap idealis? Orang realis harus tetap realis?

Setiap orang harus mahir di bidang masing-masing. Hal ini mengandaikan idea-idea orang idealis mampu memberinya makan. Kita sebelumnya sudah melihat kebutuhan perut sebagai tantangan utama kaum idealis zaman ini. Mari kita tarik konsep ini ke belakang.

Baca juga: Pengakuan Jennet

Orang idealis adalah orang yang tidak ada seandainya ia lebih sungguh dengan idea-idea tersebut. Seandainya ia idealis, ia pasti dikenal oleh idea-idea tersebut. Jika belum dikenal hal itu bisa berarti jika idenya belum terlalu tajam dan matang atau belum terlalu strategis atau sudah usang. Jika idea-ideanya berdaya guna, tentu akan bertahan sebagai seorang intelektualis yang tinggal di kampus-kampus. Idea tetaplah idea, kenyataan tetaplah kenyataan.

Untuk menerjemahkan konsep-konsep yang bagus itu ke dalam kehidupan nyata, diperlukan kerja sama dengan orang-orang teknis dan para eksekutor lapangan. Idea dan kenyataan didamaikan dengan kerja sama lintas potensi dan keahlian. Sebagaimana juga para pemikir atau filsuf dalam sejarah abad berlalu membenturkan selalu pikiran mereka dengan pikiran-pikiran dari pemikir lain, dengan kenyataan, atau pun dengan pikirannya sendiri.

Masalahnya adalah tidak semua orang mau berpikir atau mau menggali dan menguji pikirannya secara terus-menerus. ‘Sekali di udara tetap di udara’, begitulah kira-kira kita mempertahankan apa yang kita tahu. Pikiran-pikiran itu tidak pernah di update. Padahal manusia dan masyarakat menjadi maju bukan karena menemukan lebih banyak kebenaran dan mempertahankannya, tetapi karena menemukan lebih banyak kesalahan dan menyingkirkannya.

Baca juga: Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Pertama

Komunitas seni seperti yang dianjurkan dalam tulisan sebelumnya bisa menjadi tempat yang nyaman bagi kaum idealis-intelektual untuk membicarakan idea-idea. Idea-idea itu lalu dibenturkan dengan cara membangun kerja sama lintas keahlian tadi. Dalam sistem komunitas, hal itu dirombak melalui sistem jejaring. Satu komunitas terhubung dengan komunitas lain baik yang dekat maupun jauh secara geografis.

Komunitas, khususnya komunitas seni bisa menjadi wadah baru bagi produksi-produksi pengetahuan, kesenian, dan kebudayaan. Sistem jejaring komunitas tentu saja meningkatkan kualitas dan kuantitas dari pengetahuan-pengetahuan yang diproduksi. Pengetahuan itu pada gilirannya akan bertarung melawan wacana dominan yang sedang menguasai pola pikir masyarakat.

Misalnya, jika alam pikir barat mengajukan pikiran ‘kita berpikir maka kita ada’, para intelektual komunitas bisa mengajukan keberatan terhadap pikiran tersebut dengan wacana berseberangan yang bersumber dari kosmologi lokal: ‘kita terlibat maka kita ada’. Kita tidak perlu merasa keren dengan menunjukkan keberadaan kita dengan berpikir sebab kultur kita tidak mengenal pola keberadaan semacam itu. Kultur kita adalah terlibat.

Baca juga: Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Kedua

Jika kau tidak terlibat dalam upacara adat pernikahan seorang kolega atau handai tolan, publik akan menganggapmu tidak ada. Hanya dengan demikianlah menurut Frantz Fanon, salah seorang pemikir anti-kolonialisme, intelektual komunitas mencapai kebesarannya.

Fanon mengidentifikasi tiga jenjang perjalanan para intelektual asli kembali meniti garis. Pertama adalah fase belajar di bawah pengaruh kebudayaan penjajah. Mereka akan cendrung menganggap benar apa yang sedang mereka pelajari. Kedua, tibalah periode pergolakan dan kebutuhan para intelektual untuk mengingat siapa dirinya. Ini dibuktikan dengan pencarian kembali akar identitas yang melahirkannya. Kemudian, di fase ketiga para intelektual berupaya menggugah rakyatnya, menyatukan diri dengan rakyat serta memproduksi suatu literatur revolusioner dan nasional. Mereka mulai mengangkat martabat rakyatnya sendiri (Fanon, 1999: 178-179). Jika kaum intelektual tidak menempuh tiga jenjang ini, tidaklah mengherankan jika kita memang sulit menyukai orang-orang idealis atau pun orang-orang dengan gelar sarjana pada umumnya. 

Aras pikiran Fanon ini bisa sejalan dengan visi-misi komunitas. Semua intelektual atau siapa pun yang mendaku sebagai anggota komunitas lokal harus berakhir dengan menemukan kebenaran pada akar budaya lokal. Jalur ini bisa menjadi salah satu model menjembatani dunia idea dan realitas masyarakat lokal. Tugas kaum idealis atau intelektual atau cendikiawan adalah bertarung pada tataran paradigma, wacana, idea, atau konsep-konsep.

Baca juga: Kentut-Kentut Orang Idealis Bagian Ketiga

Baiknya, di dalam komunitas seperti komunitas seni misalnya, orang menjaga keseimbangan antara melakukan idea-idea dengan tindakan-tindakan konkret yang mesti dijalankan, dalam arti tindakan konkret yang bisa mendatangkan keuntungan. Ada kalanya mereka mengeksekusi idealisme, adakalanya mereka mencari keuntungan dengan backstage seni: seni mencari keuntungan.

Dalam khazanah teologi kontekstual dari Gereja Katolik, fides quarens intellectum berubah menjadi fides quarens actum, artinya dari beriman dengan mencari pemahaman berubah menjadi iman mencari tindakan. Hanya dengan bertindak atau terlibat seperti gagasan kosmologis juga di atas kita menjadi orang yang beriman. Maka bertindaklah. Dengan kata lain, teologi kini tidak hanya tentang ‘berpikir benar’ atau ‘ortodoksi’, tetapi terutama ‘bertindak benar’ atau ‘ortopraksis’ (Beevans, 2010: 189).

Maka bertindaklah, bertindaklah dengan benar. Jadilah manusia, manusia yang lebih baik. Kaum intelektual yang kaya gagasan kini harus juga kaya akan tindakan, kaya akan produktivitas. Komunitas-komunitas seni seperti yang ada di Kota Ruteng-Flores misalnya sedang menempuh jalan ke sana: kaya gagasan-kaya tindakan.

Karena Kota ini kaya akan gereja maka tidak terlalu dini jika dikatakan juga bahwa inilah trend beriman di zaman ini. Kita tidak bisa tidak mencari hubungan causalitas antara seribu gereja dengan banyaknya komunitas yang menjamur bak jamur di musim hujan, saat ini, di Kota Ruteng. (Bersambung…)

Referensi:

Bevans, Stephen B. Teologi dalam Perspektif Global, terj. Yosef Maria Florisan. Maumere: Ledalero 2020.

Fanon, Frantz. The Wretch of the Earth. London: Penguin. 1990.

Lolik Apung, tinggal di Kota Ruteng. Bergabung di Komunitas Tunas Harapan Pitak-Ruteng*

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP