Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Pertama

Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Pertama

Ngkiong.com – Kita menemukan banyak orang yang amat idealis di sekitar kita. Berada dekat mereka, mendengarkan celoteh dan sekaligus semacam kuliah mimbar tiga sks dari mereka terasa menyenangkan, meski dari sisi lain sering terselip komentar ‘ah idealis sekali kau’, khususnya dari mereka yang sudah mengenal asam-garamnya kehidupan ini. Itulah sebabnya ide-ide hebat menjadi mentah di hadapan orang-orang yang sudah berpengalaman dengan kehidupan ini.

Bukan karena membicarakan ide-ide adalah hal yang buruk, tetapi karena ide-ide itu jadi semacam kentut ketika dibicarakan oleh orang yang belum berbuat apa-apa. Sekadar menyitir apa yang pernah dikatakan oleh Jack Ma: “Ketika engkau belum jadi apa-apa, ide-ide bijakmu adalah kentut, tetapi ketika engkau sudah menjadi orang hebat, kentutmu akan terdengar bijak sekali.”

Membayangkan paragraf pertama ini, mungkin ada pertanyaan: “Apa yang mau diuraikan dari tulisan ini?” Konflik klasik yang sudah mendapat ruang diskusi di mana-mana adalah untuk menjawabi pertanyaan bagaimana mendamaikan idealisme dan realitas. Garis besar tulisan ini akan berada di dua kutub itu, antara sang idealis vs sang praktisi lapangan.

Baca Juga: Upaya Penyelamatan Lingkungan Melalui Pemberdayaan Lembaga Pendidikan di Kabupaten Manggarai

Di dunia yang makin cepat, instan, dan tak terkendali, sang idealis makin tenggelam. Idealisme kemudian hanya mendekam di balik menara gading intelektual seperti perguruan tinggi dan jurnal-jurnal ilmiah (dan memang seharusnya terus berada di dalam?).

Contoh yang cukup dekat tentang hal ini adalah ada pada sosok Anies Baswedan: seorang akademisi yang membanting stir menjadi politisi. Bantingan yang dibuatnya menemukan ‘gagap’ di mana-mana. Ia boleh saja memenangkan Pilkada DKI 2017, tetapi pendekatan yang dibuatnya terhadap masalah banjir di Jakarta pada 2020 silam amat berbeda dengan pendahulunya, Pak Ahok atau BTP (Basuki Tjahaya Purnama).

Kita kemudian berlomba-lomba mengidolakan Ahok, seorang teknokrat yang berbicara dengan berbuat.  “Ada baiknya orang seperti Anies Baswedan tidak perlu terjun ke dunia politik. Cukup mengabadikan dan mengabdikan hidup untuk kemajuan pendidikan tanah air”. Namun orang seperti Anies Baswedan, seorang cendikiawan kampus yang cerdas, meyakinkan, dan mempunyai jawaban terhadap semua pertanyaan yang ada di dunia ini ditemukan jamak di Indonesia.

Kentuk-kentut Orang Idealis
Foto : Dok Bulaksumur UGM

Baca Juga: Untuk Perjumpaannya, Terima Kasih Tim Ekspedisi Kampung Berliterasi

Banyak sekali jebolan cendekiawan atau akademisi yang terjun ke dunia politik. Ketika mereka berhasil masuk ke pemerintahan, ternyata kenyataan tidak segampang kuliah mimbar. Mereka tidak menjadi lebih baik dari pemimpin-pemimpin sebelumnya. Pelan-pelan idealisme diturunkan setara bahu, pinggang, lutut dan telapak kaki.

Mengapa hal ini terjadi? Mungkin saja asumsi. Seorang cendikiawan merasa maha tahu, padahal ia sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang dunia di luar kepalanya. Untuk terjun ke dunia politik modal pengetahuan saja (modal simbolik) tidak memadai. Menurut Pierre Bourdieu modal adalah keseluruhan kekayaan aktual dan potensial yang terikat dan terstruktur. Seorang calon pemimpin tidak hanya membutuhkan modal simbolik tetapi juga modal ekonomi, kultural, dan sosial.

Kualifikasi-kualifikasi lain barangkali juga tidak dimiliki oleh Ahok, tetapi di kepala kita pemimpin yang baik hampir identik dengan pemimpin yang bekerja untuk rakyatnya. Lagi-lagi kemampuan praktis menang di hadapan dunia ide. Dialektika yang terjadi di antara keduanya mungkin saja adalah solusi yang baik untuk menjalani roda kehidupan ini: bicara sama banyaknya dengan bekerja atau sebaliknya.

Baca Juga: Belajar Loyalitas dari Kons Mbete

Hal yang kita temukan pada gilirannya adalah orang-orang idealis kehilangan idealisme ketika masuk ke dalam lumpur realitas. Ini gampang juga ditemukan di dalam diri mahasiswa yang baru khatam studi. Ada jurang yang tak terseberangi antara dunia ide di kampus dan dunia yang sesungguhnya. Mereka jadi berpikir idealisme tanpa didukung oleh modal-modal lain bak tong kosong nyaring berbunyi. Atau idealisme ternyata berada pada level yang lain. Level satu adalah memberi makan pada perut. Level dua adalah membicarakan idealisme.

Berbicara tentang dunia ide dengan perut yang kosong tidak menyenangkan. Perut yang kosong selalu minta diisi terlebih dahulu sebagai prioritas utama. Pada gilirannya idealisme dijual untuk mengisi perut yang kosong tersebut. Maka pontang-pantinglah eks mahasiswa mencari kerja. Semacam hidup dimulai lagi dari titik nol, ‘jatah’ orang tua sudah habis untuk mereka.

Poin tulisan ini adalah orang-orang idealis harus memiliki modal lain supaya idealisme tersebut jadi menggigit. Ia harus memiliki faktor pendukung agar mesin idealisme tersebut berjalan. Dengan kata lain, ia harus mempunyai uang, sehingga uang tidak membeli atau menyogok idealisme.

Baca Juga: Orang-orang Bertopeng

Katakanlah “saya ingin membangun Indonesia”. Hmmm,,idealis sekali. Tentu saja di umur seperti ini, idealisme tersebut hampa. Jika memang, idealisme tersebut ingin diwujudkan, maka pekerjaannya dimulai dari sekarang berupa membangun modal, membangun frekuensi, dan mendorong kualitas diri. Idealisme di sini adalah cita-cita atau harapan. Jika kita tidak bekerja membangun semacam ‘pangkalan atau markas idealisme’ maka memang idealisme itu jadi kentut.

Jadi idealisme adalah jarak ke depan. Ia berangkat dari kesadaran akan membingungkannya dunia yang sedang dihuni ini. Ia ingin mengubah itu. Ia menghendaki perubahan, meski ia tahu perubahan itu tidak dapat dipaksakan secara revolusioner, juga tidak dapat dipastikan datangnya seperti gerhana matahari, Kun Fayakun, atau Avada Kedavra. Ia diusahakan, terus-menerus, sambil bersiap hasilnya mungkin saja akan mengecewakan, tetapi kita mau berusaha lagi, lagi, dan lagi…Bersambung

Sumber:

Hardiman, F. Budi. Kritik Ideologi. Jogjakarta: Kanisius. 1990.

Haryanto, Venansisus. Ranah Politik Menurut Pierre Bourdieu. Maumere: Ledalero. 2014.

Oleh : Lolik Apung, Penulis Adalah Aggota Komunitas Tunas Harapan Pitak-Ruteng

Bagikan Artikel ini

2 thoughts on “Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Pertama

  1. Reply
    Tito Iksan
    09/02/2021 at 11:23 am

    Hehehe membaca buku kemudian menuangkannya di kertas ujian itu Anis, membaca situasi kemudian menganalisah dan terjun ke dlm situasi trtentu memang susah. Makanya kami yg cepat beristri kadang diberi label sebagai the best situasi reader. 😂😂

  2. Reply
    Juito
    09/02/2021 at 12:39 pm

    😂😂😂
    Ikut ite kami diang ge. Terima kasih e, om Tito.

    Jangan lupa nimbrung di Ngkiong e. Bagus kalau tulisan mengemai musik e. 👍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP