Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Kedua

Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Kedua

Ngkiong.com-Beberapa tanggapan yang sudah masuk melalui meja redaksi Ngkiong.com terkait tulisan bagian pertama sudah diterima dan sedikit-banyak memberi inspirasi segar pada tulisan yang kedua ini sambil berharap tulisan ini tidak jadi terlalu serius.

Seluk beluk idealisme adalah tradisi pemikiran Barat. Muncul pertama kali dari filsuf Yunani, Plato. Plato berusaha mendamaikan dua filsuf terdahulu yang bertengkar tentang ‘semesta yang labil versus semesta yang stabil’. Menurut Plato yang labil adalah realitas, sedangkan yang stabil adalah idea. Idea bisa dipahami sebagai gagasan, buah pikiran, konsep atau sesuatu yang hadir di dalam jiwa. Aliran pemikiran/akal/rasio yang lebih melihat semesta sebagai penjelmaan pikiran lazim disebut sebagai idealisme.

Hingga hari ini idealisme bercabang dengan banyak mazhab. Salah satu legend yang mengembangkan platonisme adalah Imanuel Kant. Idea menurutnya syarat bagi lahirnya semesta. Kantianisme ini sering juga dikenal sebagai idealisme kritis. Dikembangkan lebih besar oleh generasi Jerman selanjutnya yaitu Fichte dan Schelling. Dua orang terakhir ini melihat Si idealis tidak hanya sebagai ‘tukang pikir dan bicara’. Tetapi Sang idealis harus menjadi kreator semesta.

Baca Juga: Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Pertama

Di dalam Kant idealisme adalah angin. Ia disublim menjadi padat oleh Fichte dan Schelling dengan menyuruh mereka menjadi kreator dan motor realitas juga. Mungkin ini adalah bagian tersulit karena toh tidak pernah mudah menjadi pencipta dengan tetap berlandas pada idealisme. Mari kita mengatakan laboratorium idealisme adalah sekolah dan kampus. Lalu mari kita cek tetangga kita: sarjana filsafat menjadi guru olahraga, D3 kebidanan menjadi teller di otoritas jasa keuangan (OJK). Contoh yang terakhir ini mungkin dibutuhkan penelitian lebih lanjut.

Jadi amat tidak mudah mempertahankan idealisme, sebagaimana tidak mudah juga mempertahankan prinsip. Mungkin idealisme dan prinsip adalah hal yang sama. Selain karena lingkungan, perkembangan zaman juga membuat timbangan mengunggulkan kerja, kerja, dan kerja. Hari ini tidak ada yang lebih penting selain kerja menghasilkan cuan. Jika telah begini, idealisme kita sudah dimangsa kapitalisme.

Kapitalisme memangsa idealisme lembaga adat, lembaga agama, lembaga pendidikan, dan lembaga keluarga. Credo utama kapitalisme adalah mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya (Harari, 2017: 373). Produksi pada tahap pertama dipakai untuk melipat-gandakan keuntungan pada produksi berikutnya. Dengan kata lain kerja kapitalisme adalah kerja mencetak laba. Maka semua hal pun dilihat dalam kerangka laba/profit atau disiasati agar bernilai atau berdaya jual. Dalam konteks inilah lembaga-lembaga kebudayaan dirobohkan oleh kapitalisme. Profit menang atas kebudayaan. Kemanusiaan dikalahkan pasar (Prior, 2008: 133). Kecenderungan terakhir ini tanpa sadar disemai dalam hampir semua jenis aktivisme.

Baca Juga: Nama Orang Manggarai

Hal yang sering dikorbankan dari credo macam ini tentu saja adalah buruh: diberi upah murah dengan jam kerja yang tinggi. Dari sini tercipta iklim kompetisi. Siasat dimainkan oleh pemilik modal: karyawan yang berdedikasi akan diberi reward. Motivasi ekonomistik seperti ini dengan sendirinya membakar semangat kompetisi dalam diri para karyawan. Mereka berkelahi menjadi yang terbaik.

Mereka yang unggul secara pendidikan juga mengalami hal yang sama. Kapitalisme tidak membedakan orang dalam hierarki tidak sekolah, sekolah, dan kampus. Di hadapannya hanya ada tenaga-tenaga yang tanpa sadar siap berkorban untuknya, tidak peduli apakah ia seorang idealis atau bukan. Biasanya orang idealis benci jika ia terikat atau menjadi bawahan. Tantangan pertama kaum idealis setelah menyelesaikan kuliah adalah memberi makan perutnya sendiri. Idealismelah yang pertama kali dijual. Kompromi muncul dari balik pintu.

Kondisi-kondisi macam ini membuat forum-forum diskusi (yang biasanya membicarakan ide-ide) tidak terlalu diminati, kecuali mungkin bagi kalangan akademisi dan sedikit mahasiswa atau eks-mahasiswa yang mempunyai minat intelektual, bukan minat pada ijazah. Diskusi satu jam pun sudah terasa melelahkan, sebab ada bisik-bisik kalkulatif di belakangnya.

Baca Juga: Belajar Loyalitas dari Kons Mbete

Kalkulasi ini makin kuat dalam diri mereka yang sudah wisuda dan bersiap-siap ‘welcome to the jungle’ (sambutan yang biasa dipakai oleh kakak-kakak pada adik-adik yang baru lulus. Artinya: selamat datang di dunia kerja). Dunia kerja adalah hutan. Anda bisa tersesat dan tidak bisa keluar. Untuk keluar anda kemudian membakar seluruh hutan yang ada, dan anda ikut hangus. Bagaimana menyiasati hal ini?

Dalam tulisan sebelumnya ada anjuran untuk menyokong perut lebih dahulu sebelum berbicara tentang idealisme. Tentu saja ini bukan hal yang mustahil jika Anda bekerja keras atau Anda adalah anak orang kaya (modal ekonomi menurut Bourdieu). Ada alternatif lain yaitu dengan membentuk komunitas, organisasi, atau perkumpulan dengan orang-orang yang memiliki frekuensi yang sama.

Baca Juga: The Power of Dream

Dalam idea Bourdieu, mencari orang-orang sefrekuensi dan membentuk komunitas dihitung sebagai upaya mengumpulkan modal sosial. Modal sosial merupakan sumber daya aktual atau virtual yang dimiliki individu dengan jalan memiliki sebuah jaringan kerja yang bertahan lama atau yang terinstitusionalisasi (Haryanto, 2014: 44). Tantangannya adalah orang-orang yang sefrekuensi (orang-orang idealis) masuk dalam golongan silent mayority: golongan kuantitas besar yang hanya mau hidup aman dan bungkam saja di hadapan realitas-realitas yang tidak beres.

Kalau sudah begitu, apakah kita harus menunggu atau mencari orang-orang yang sefrekuensi untuk mewujudkan idealisme-idealisme kita ataukah lebih baik membangun frekuensi itu secara bersama-sama, di mana pun Anda berada? Pilihan yang terakhir ini menjadi soal yang lain. Frekuensi yang dibangun bersama mengidap ketergantungan yang akut pada figur/perintis/koordinator. Makan ngga makan asal ngumpul, kata Grup Band Slank. Makin nyatakah kentut-kentut orang idealis ini? Hmmm. .

Bersambung…

Penulis: Lolik Apung (Bergabung di Komunitas Tunas Harapan Pitak-Ruteng)

Sumber:

Harari, Yuval Noah. Sapiens. Terj. Damaring Palar. Jakarta: Gramedia, 2017.

Haryanto, Venan. Ranah Politik Menurut Pierre Bourdieu. Maumere: Ledalero, 2014.

Prior, John. Berdiri di Ambang Batas: Pergumulan Seputar Iman dan Budaya. Maumere: Ledalero, 2008.

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP