Kentut-Kentut Orang Idealis Bagian Ketiga

Kentut-Kentut Orang Idealis  Bagian Ketiga

Ngkiong.com – Kita sepakat jika orang-orang idealis adalah orang-orang yang kesulitan menjembatani, menerjemahkan, menerapkan dunia idea ke dalam realitas. Salah satu hal yang dianjurkan pada tulisan bagian kedua sebelumnya adalah dengan mengumpulkan modal sosial. Modal sosial didapat dengan terjun ke dunia sosial, misalnya bergabung ke dalam perkumpulan-perkumpulan seperti lembaga swadaya masyarakat (LSM), komunitas-komunitas mandiri, atau organisasi-organisasi mahasiswa.

Ide-ide coba diimplementasikan secara bersama melalui pergerakan komunitas atau organisasi. Jika ingin mengubah suatu masyarakat maka bentuklah organisasi. Kata-kata dari Pram inilah yang hendak diimplementasikan. Jika kau mewakili dirimu sendiri berbicara tentang ide perubahan di hadapan seorang bupati misalnya, mungkin konsepmu cukup didengar meskipun penting. Namun jika kau mewakili suatu organisasi atau komunitas, konsepmu penting, dipertimbangkan, dan besar kemungkinan akan dieksekusi.

Namun faktanya komunitas atau organisasi yang stuck dengan suatu idealisme cukup sulit ditemukan. Jika tidak, komunitas atau organisasi tersebut tidak bertahan lama. Muntaber: mundur tanpa berita. Hilang tanpa kabar, sunyi, sepi, dan mati.

Baca Juga: Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Kedua

Cerita tentang pergerakan komunitas atau organisasi yang kolaps di tengah jalan mudah ditemukan di sekitar kita. Komunitas-komunitas itu kehilangan komitmen dan konsistensi baik secara individu maupun secara kolektif, yang artinya kehilangan idealisme. Skenario lain dari kegagalan ini adalah komunitas atau organisasi hanya dijadikan batu loncatan untuk menguatkan posisi politis, sosial, maupun ekonomi di tengah masyarakat.

Studi yang dibuat oleh lembaga Power, Welfare, and Democracy dari UGM terhadap aktivis-aktivis LSM menemukan jika begitu banyak LSM saat ini tidak mampu membina aksi kolektif di tengah masyarakat. Para aktivis dianggap semakin meninggalkan akar rumput dalam memperjuangkan idealisme organisasi. Memperjuangkan idealisme hampir identik dengan proses meniti karier di dunia politik (Hiariej, 2017: 45).

Banyak faktor yang menyebabkan suatu komunitas atau organisasi tidak bertahan. Banyak faktor juga yang menyebabkan komunitas atau organisasi tersebut hanya dijadikan laboratorium meniti karier politik. Para figur pencetus biasanya bukan orang yang sembarangan. Mereka amat meyakinkan dengan visi dan misi segar serta semangat yang membakar menyala-nyala. Soalnya adalah apakah mereka mempunyai komitmen dan konsistensi; dua hal yang mudah luntur ketika berhadapan dengan tantangan ekonomi dan sosial-masyarakat, berhadapan dengan kapitalisme yang menginfiltrasi semua bidang kehidupan manusia.

Baca Juga: Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Pertama

Dalam iklim seperti ini, orang-orang idealis mudah sekali direduksi ke dalam kepentingan teknis pembangunan dengan menjalani fungsi-fungsi profesional, teknokrasi, atau birokrasi (Hardiman, 2003: 129). Padahal mereka seharusnya menjadi oposisi dengan menawarkan budaya tandingan di luar negara dan agama yang sejak lama membentuk budaya masyarakat setempat. Di Kota Ruteng, Flores misalnya, komunitas-komunitas seni menawarkan cara hidup alternatif di luar tangan negara dan gereja yang sejak lama membentuk peradaban masyarakat kota Ruteng.

Peran-peran yang bisa dimainkan komunitas dengan kaum idealis atau intelektual-intelektual di dalamnya adalah menjalankan apa yang disebut dengan demistifikasi nilai-nilai; semacam mempertanyakan, menelanjangi, atau menguliti nilai-nilai lama kultural, kekuasaan, atau religius yang dihidupi oleh masyarakat setempat lalu menata, mengawinkan, atau mendialogkannya secara demokratis dengan nilai-nilai baru yang dibawa oleh globalisasi.

Baca Juga: Bunuh Diri dan Solusi Permasalahan

Di Ruteng misalnya, lagi-lagi Ruteng, kelahiran komunitas-komunitas seni bisa ditelusuri dari kerinduan kultural untuk kembali ke rumah gendang, untuk kembali ke dalam situasi tradisi, di mana orang-orang bisa membangun percakapan dan kedekatan emosional yang mendalam dengan sesamanya sebagai keluarga besar. Budaya pop-modern, globalisasi dan kapitalisme menggerus situasi rumah gendang ke dalam situasi privat-individual dengan mengatakan bahwa yang paling penting adalah diri sendiri, bukan dunia sosial. Jargon first-self (diri sendiri yang pertama) yang akhir-akhir ini beredar di jagat maya, lahir dari budaya pop-modern ini. Padahal budaya kita tidak mengenal first-self.

Kita terbiasa berkorban untuk orang lain dan untuk kehidupan sosial-adat-kultural meskipun diri sendiri harus habis. Kita merasa lebih baik dengan berbuat seperti itu. Kultur modern menganggapnya sebagai hal yang buruk. Kita menderita jika berkorban untuk orang lain, kecuali dengan bayaran setimpal.

Baca Juga: Di Kampung Tal, Saya Belajar Bagaimana Bersyukur

Dengan demikian fenomena komunitas-komunitas seni bukanlah hal baru. Jika di dalam tradisi, orang-orang yang berkumpul di rumah gendang adalah orang-orang sedarah atau sekampung, di dalam komunitas anggota-anggotanya berasal dari beragam latar belakang, tetapi mempunyai minat yang sama. Topik pembicaraan di dalam komunitas pun lebih jelas dan tertarget dan dirinci dalam program dan kegiatan komunitas. Sedangkan di dalam rumah gendang tujuannya sudah ada. Orang-orang datang untuk berjumpa dengan keluarga besar agar hubungan di antara mereka tetap terjalin erat. Di dalamnya tidak mengandung tujuan produktif.

Dengan demikian peran yang dimainkan oleh kaum idealis melalui komunitas amatlah penting. Mereka menjembatani tradisi dan modernitas yang hari-hari ini tidak bisa dihindari. Kita hanya bisa beradaptasi dengannya. Harapannya tentu agar komunitas-komunitas ini tetap bertahan pada jalur idealismenya. Meskipun idealisme tampak tidak berguna secara ekonomi, tetapi jalan yang sedang dititinya adalah membangun peradaban baru yang lebih adil dan bermartabat bagi semua orang. Terkesan idealis, devian, heretik, dan subversi tetapi jika itu terlaksana, “Wahh…. Puas sekali rasanya…“*

Bersambung…

Sumber:

Hardiman, Budi F. Melampaui Modernitas dan Positivisme. Yogyakarta: Kanisius. 2003.

Hiariej, Eric, “Politik Jokowi”, dalam Prisma: Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi, 36: 2. Yogyakarta: LP3S, 2017.

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP