Di Kampung Tal, Saya Belajar Bagaimana Bersyukur

Di Kampung Tal, Saya Belajar Bagaimana Bersyukur

Ngkiong.com – Barangkali 2020 menjadi salah satu tahun yang paling membekas dalam hidup saya. Tahun yang sangat menantang sekaligus mengesankan. Tahun 2020, saya berusia 25 Tahun dan sudas satu tahun bekerja. Artinya sudah 12 bulan saya menikmati uang dari hasil keringat sendiri. Tahun 2020 juga menjadi tahun yang menyebalkan karena saya harus berhadapan dengan pertanyaan anggota KBG; kapan nikah? Sebuah pertanyaan yang selalu membuat orang pusing.

Memang harus diakui, ketika memasuki usia seperti saya, harus dihadapkan pada fenomena krisis usia. Bahwa menurut kepercayaan masyarakat, pada usia atau umur tertentu seseorang harus menikah dan wajib hukumnya untuk mengikuti apa yang menjadi kelaziman di tengah masyarakat.

Pertanyaan itu juga seolah-olah mau menjelaskan bahwa itu adalah usia yang ideal (menurut mereka) untuk menikah. Mereka percaya, lewat dari umur itu (25 Tahun), Tuhan lepas tangan. Lebih dari itu, pertanyaan kapan nikah?, bukan hanya soal tanya jawab tetapi tekanan, desakan, dan mbecik (ejekan) untuk orang yang ditanyakan.

Pada konteks tertentu, ketika seseorang salah menjawab pertanyaan tersebut atau menjawab tidak sesuai dengan harapan mereka, seseorang akan dianggap gagal atau lalai menjadi anak dan lelaki. Pelabelan pun muncul seperti tidak mencintai orang tua, tidak sayang orang tua, tidak ingat perjuangan orang tua, toe harat kope dan aik ma.

Baca Juga: Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Kedua

Untunglah ketika pertanyaan itu menghampiri saya, dunia sedang mengalami pandemi Covid-19. Sehingga saya memiliki alasan yang kuat ketika ditanyakan: pandemi kin amang, gereng koe poli nemba ho di urus. Urusan selesai, sebab mereka tidak bisa paksa; keuangan di masa pandemi sangat sulit dan berbicara tentang nikah pasti ada kaitanya dengan dana yang besar.

Tahun 2020 juga menjadi tahun yang mengharukan, banyak hal yang berubah dan menakjubkan. Salah satunya teman saya, Andre. Di tengah keadaan dunia yang sedang genting, beliau memutuskan untuk memulai hidup baru dengan pasangannya. Antara percaya dan tidak percaya, tetapi itulah hidup. Kadang orang yang fuck love sekalipun bisa curi start dalam dunia tukar kila. Andre adalah bukti nyata dari diam itu emas.

Di sisi lain, saya juga terkadang iri melihat apa yang telah dicapai oleh sahabat saya. Bahwa saya pun ingin mengikuti jejaknya. Menjalin hubungan yang serius dengan pacar. Mungkin dalam konteks sederhananya, saat itu jiwa kolang kawing saya meronta-ronta melihat Andre yang sudah memakai cincin di jari manisnya.

Namun setelah melewati malam yang panjang, mendengarkan keluh kesahnya, saya akhirnya sadar bahwa hanya sedikit yang saya tahu dan lihat dari kehidupannya. Ada banyak hal yang tersembunyi dan tidak saya tahu. Perjuangan, mengambil keputusan penting, serta berani melangkah adalah pertarungan-pertarungan kecil yang telah dia menangkan dengan susah payah. Itu adalah kisah yang tak diketahui orang lain termasuk saya, sahabat dekatnya.

Baca Juga: Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Pertama

Tahun 2020 pun akhirnya sampai di penghujung, saya memutuskan untuk berlibur di Kampung Tal memenami bapak untuk menjaga kebun milik suster SLB Karya Murni Ruteng. Kebetulan bapak dipercayakan untuk bekerja menjaga kebun sawah dari lembaga tersebut. Hari-hari kami lalui dengan rutinitas mencari rumput sapi, menyiram pupuk di sawah, dan membersihkan halaman rumah.

Dari semua aktivitas tersebut, yang lebih mengesankan adalah kehidupan kami selama di Tal. Di sana saya tinggal bersama bapak dan dua orang anak SLB karya Murni. Mereka adalah siswa yang memiliki latar belakang tunawicara (tidak bisa berbicara dan tidak bisa mendengar).

Di rumah lantai dua berukuran besar itu, yang sering berkomunikasi secara verbal hanya saya dengan bapak saya. Sementara dua sahabat kami yang lain menggunakan bahasa isyarat yang membuat mereka kelihatan lebih sering diam namun kelihatan menyimak meski topik pembicaraan kami seolah dunia ini sedang genting.

Pada suatu momen, kami membicarakan konteks pilkada dari kaca mata kebuk. Om Yuvens mencolek saya dan memberikan beberapa bahasa isyarat. Saya kesulitan menangkap apa yang disampaikan. Akhirnya bapak membantu dan mengatakan; dia bilang sangat suka paket yang …

Di Kampung Tal, Saya Belajar Bagaimana Bersyukur
Foto : Ilustrasi Ist

Baca Juga:Untuk Perjumpaannya, Terima Kasih Tim Ekspedisi Kampung Berliterasi

Saat itu saya kagum dengan bapak saya, dia dengan mudah memahami bahasa isyarat dari Om Yuvens padahal beliau baru beberapa bulan kerja dan hidup dengan Om Yuvens. Momen itu akhirnya membekas dalam ingatan saya untuk waktu yang sangat lama. Pada beberapa kesempatan saya sering membayangkan wajah Om Yuvens yang dengan susah payah harus mengungkap apa yang diinginkannya; atau ketika hanya segelintir orang yang mau mendengar omongan mereka.

Dalam banyak hal, mereka adalah orang yang juga memiliki pendapat tetapi sulit untuk menyampaikannya; di sisi lain kita sibuk mengeluarkan beribu kalimat dari mulut dan tidak mau mendengar orang lain. Atau bahkan terkadang apa yang kita bicarakan tidak ingin didengar orang lain tetapi kita tetap saja bicara seolah-olah topik yang kita bahas itu penting dan harus disampaikan.

Saya akhirnya sadar bahwa banyak hal yang harus disyukuri dalam hidup. Melihat teman yang lahir dari keluarga yang kaya, memiliki rumah mewah membuat saya juga memiliki cita-cita agar kelak bisa seperti mereka. Meratapi hidup karena pada kenyataannya saya tidak bisa seperti sahabat saya yang setiap tahun ganti HP, ketika perayaan Natal membeli baju dan celana baru, atau menghabiskan waktu untuk senang-senang dengan sahabat atau orang tercinta. Di tahun 2020 hidup saya hanya dipenuhi dengan keluh kesah dan keinginan yang tidak sesuai dengan isi dompet.

Baca Juga: Nama Orang Manggarai

Melihat Om Yuvens saya akhirnya mengerti bahwa apa yang ada pada saya sebenarnya adalah impian dari orang lain yang tidak bisa mereka miliki. Saya memiliki telinga tetapi seringkali tidak mau mendengar atau saya memiliki mulut untuk berbicara tetapi yang saya katakan hanyalah sampah yang merusak perasaan orang lain.*

Penulis : Arsi Juwandy

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP