Untuk Perjumpaannya, Terima Kasih Tim Ekspedisi Kampung Berliterasi

Untuk Perjumpaannya, Terima Kasih Tim Ekspedisi Kampung Berliterasi

Ngkiong.com – Senja hendak pergi di ufuk barat. Warna keemasannya memancarkan aura keindahan. Di hari itu, tepat di tanggal dua puluh bulan Desember tahun kemarin, dua anak muda Flores yang menetap di ibukota negara, tim dari Ekspedisi Kampung Berliterasi, Kak Kiko Saga dan Kak Klaudia Molasrani, tiba di Borong, Ibu Kota Manggarai Timur.

“Halo Rik, sekarang kami tiba di SPBU Borong,” tulis Kak Kiko Saga di aplikasi berbalas pesan yang bernama WhatsApp.

Pesan itu tak sempat saya baca. Pulsa internet saya sedang kere. Bahkan sekadar membalas omelan dari pemilik hati, saya mengandalkan collect SMS dengan biaya dibebankan kepadanya selaku pengirim pesan.

Setelah itu, mereka memarkir kendaraan, mengambil jeda sejenak, sebelum kembali memacu kuda besinya menuju tempat tinggal kami. Tanpa menggunakan aplikasi Google Maps sebagai penunjuk jalan, mereka memilih untuk mengandalkan orang lokal dengan menanyakannya pada salah satu warga yang mereka temui di depan SPBU Borong.

“Kakak, jarak menuju Golo Mongkok masih jauh ka?”

“Tidak jauh lagi, Kakak. Jarak dari sini bisa dijangkau selama dua puluh menit.”

Baca Juga: Upaya Penyelamatan Lingkungan Melalui Pemberdayaan Lembaga Pendidikan di Kabupaten Manggarai

Basa-basi di antara mereka terus berlangsung, diisi dengan percakapan untuk mencairkan suasana. Orang  yang mereka temui secara tak sengaja melihat nama kontak yang sedang dihubungi oleh Kak Kiko.

“Kakak mau menghubungi Erik Jumpar ya? Itu teman saya waktu SMA. Apa mau saya hubungi?” tawar orang itu, yang belakangan baru diketahui kalau itu Andi Dula, teman kelas saya waktu di SMA Pancasila Borong dulu.

“Iya, Kakak. Kami mau menuju ke rumahnya. Baru tiba dari Bajawa.”

Percakapan itu terhenti setelah kami saling berkomunikasi via telepon. Jalanan di Kota Borong sedang lengang. Hawa panas sehabis dirundung rerintikan hujan mengiringi perjalanan mereka, melewati lampu lalu lintas satu-satunya di kota pesisir selatan Pulau Flores, sembari tetap menyusuri jalanan dengan segudang asa agar tidak tersesat di kampung susah sinyal.  

“Kak Erik, kami sudah tiba di SDK Golo Mongkok,” jelas Kak Rani di ujung telepon.

Tak menunggu lama, saya bergegas ke Jalan Trans Flores untuk menjemput mereka. Dari kejauhan, saya melihat mereka sedang memarkir kendaraan di simpang tiga menuju kampung di belakang SD. Saya memberi isyarat via telepon agar mereka memacu kendaraan menuju tempat tinggal kami.

“Wah, selamat datang, Kakak,” sambut saya.

Baca Juga: Ayah: Sang Penikmat Sejati Kehidupan

Setelah penyambutan  yang ala kadarnya, kami bergegas masuk ke ruang tamu. Ruang temu di awal perjumpaan agak sedikit kikuk. Bagi saya dan Kak Rani, itu merupakan pertemuan perdana, sementara dengan Kak Kiko, itu merupakan pertemuan kedua. Sebelumnya pada tahun 2016, kami pernah bersua di Margasiswa PMKRI Cabang Ruteng, saat saya menjadi mahasiswa sekaligus aktivis luar kampus.

Di luar rumah, bintang malam mulai tampak, kemilau sinarnya seolah-olah menyambut kedatangan dua pegiat literasi yang amat peduli dengan anak-anak negeri di tanah ini.  Untuk menghangatkan perjumpaan, kami melanjutkan perbincangan di dapur.

“Kita lanjut obrolan di dapur, Kakak.”

Kemudian, kami bergegas ke dapur, tempat dengan segala rutinitas untuk kebutuhan perut, erat kaitannya dengan peradaban dari penghuni rumah. Dari dapur mengalir jejak-jejak langkah menuju tangga hidup yang lebih tinggi bagi penghuninya. Ide-ide brilian bagi penghuni rumah acapkali lahir dari dapur, eksekusinya mengalir hingga jauh ke luar dapur, melabrak tatanan dunia dengan segala misi yang diemban oleh setiap anak manusia.

Di dapur, seluruh penghuni rumah sedang menanti santapan malam. Ibu sedang serius menggoreng ikan, sementara adik perempuan sedang mengatur piring. Melihat kedatangan mereka, seisi rumah menyambut dengan senyum sumringah.

“Selamat datang di rumah kami,” sapa Ayah.

Untuk Perjumpaannya, Terima Kasih Tim Ekspedisi Kampung Berliterasi
Foto: Dokri Erik Jumpar

Baca Juga: Orang-orang Bertopeng

Ibu yang paling mengerti dengan pengelana yang kedinginan, buntut dari perjalanan yang jauh. Sebagai suguhan pembuka, ia menyuguhkan kopi untuk dua tamu kami di malam itu. Sejauh ini, saya selalu percaya, kopi terbaik sejagat raya lahir dari tangan ibu, mengalahkan racikan barista terkenal di luar sana. Entah apa resep dan caranya. Tak ada yang bisa menandingi.

Orang Manggarai dikenal sebagai pecandu kopi. Biasanya saat membuka aktivitas di pagi hari, orang Manggarai membukanya dengan secangkir kopi, menutup sore harinya ditemani dengan secangkir kopi juga. Kopi menjadi suguhan favorit saat ada tamu yang mampir ke rumah-rumah warga, di baliknya melambangkan ketulusan tuan rumah dalam menghargai setiap tamu yang berkunjung ke istana keluarganya.

“Kita minum kopi dulu,” ajak Ibu.

Kopi diseduh ke dalam dua buah cangkir. Suguhan itu membawa kami dalam percakapan yang santai. Bagi Kak Rani, darah kelahiran Semarang, Jawa Tengah, memiliki kedua orangtua yang berasal dari Kabupaten Manggarai Barat, perjalanan melintasi Pulau Flores sejak dari Larantuka, Flores Timur sampai di Borong, Manggarai Timur, amat meninggalkan kesan yang berharga dalam ziarah hidupnya.

“Jalanannya berkelok-kelok. Pemandangan setiap tempat bervariasi, Flores sangat memanjakan mata,” jelasnya sembari menyeruput kopi.

Dua orang ini sedang melakukan ekspedisi literasi di Pulau Flores. Mereka mengawali perjalanannya dari ujung timur Pulau Flores. Setiap kabupaten, mereka akan singgah dan merayakan perjumpaan di setiap taman baca dan SMA, bertemu dan berbagi banyak pengalaman. Di Kabupaten Manggarai Timur, mereka berkegiatan di Taman Baca Matahari, Golo Mongkok, ruang interaksi bernuansa literasi yang sedang kami rintis dengan sumber daya yang terbatas.

Perbincangan terus berlanjut, kopi telah diseruput. Ibu mengisyaratkan satu di antara kami agar memainkan peran untuk membersihkan meja. Pasalnya sisa dari tangkai sayur sejuta umat bernama labu berserakan di atas meja. Dengan cekatan, adik saya yang perempuan membersihkannya.

“Kita lanjut santap malam,” ajak Ayah.

Baca Juga: Refleksi Tahun 2020 dan Lahirnya Ngkiong

Malam itu, sesaat setelah menghabiskan santap malam, obrolan dilanjutkan di ruang tamu. Kami memperbudak waktu dengan bercerita banyak hal, dari gunung ke laut, dari ibu kota sampai di pelosok negeri, lebih khusus dalam mimpi dan semangat yang sama dalam mendukung kemajuan kampung halaman. 

Misi dari tim Ekspedisi Kampung Berliterasi untuk menggali kerja-kerja baik dari para pegiat literasi. Sebab pegiat literasi dengan komunitasnya masing-masing tersebar di berbagai daerah di Pulau Flores. Menariknya,  dalam perbincangan kami, Kak Rani menggali terkait motif atas munculnya Taman Baca Matahari.

“Taman Baca Matahari lahir dari kerisauan akan pentingnya semangat baca anak-anak di kampung ini. Dari situ terbersit ide untuk membentuk taman baca, kami mulai merangkak dengan segala keterbatasan.”

Dalam obrolan, terbersit percakapan tentang kiprah dari para pegiat yang sedang bergerak, juga progres dari gerakan literasi yang telah berjalan dari teman-teman komunitas yang ada di Manggarai Timur.

“Selalu optimis kalau kerja-kerja baik dari pegiat literasi di tempat ini akan berbuah manis. Barangkali hasilnya tidak dinikmati sekarang, namun hikmahnya didapat saat ada secercah harapan yang muncul di tengah anak-anak yang bergelut di dalamnya,” jelas saya.

Baca Juga: Jeda Sejenak

Sekadar untuk diketahui, di sekitar Kota Borong, para pegiat literasi dari lintas komunitas sering agendakan literasi bergerak. Acapkali teman-teman komunitas berkunjung ke sekolah-sekolah guna menyebarkan semangat berliterasi, kadang setiap bulan diadakan diskusi dan nonton bareng dengan melibatkan pelajar SMA.

“Kami sering bergerak lintas komunitas, Cangkir16 dan Tabeite  terkadang bergerak bersama. Semua itu dilakukan untuk mendukung kemajuan literasi di Manggarai Timur.”

Malam semakin merangkak jauh, bintang-gemintang tetap setia menghias langit malam. Perbincangan kami di malam itu ditutup dengan harapan yang besar, kelak di suatu hari semangat berliterasi dari anak-anak di tanah ini semakin membaik. 

Keesokan harinya, sesaat setelah perayaan ekaristi di Kapela Stasi Santo Yosef Golo Mongkok, mereka berbagi pengalaman dengan pelajar SMP dan SMA. Dalam perjumpaan tersebut, banyak hal yang mereka bagikan, mulai dari semangat untuk bersaing dengan siapa saja di luar sana, sebab kita semua memiliki kesempatan yang sama.

“Jangan minder untuk bersaing dengan siapa saja di luar sana. Kita semua punya hak untuk meraih mimpi sesuai dengan keinginan kita,” jelas Kak Kiko.

Tak lupa, mereka memberi semangat untuk mengisi hari dengan rutinitas yang positif. “Isi waktu dengan kegiatan yang meninggikan kualitas diri, seperti membaca buku untuk menambah wawasan.”

Di bagian akhir perjumpaan tersebut, topik pembicaraan berkutat pada akses untuk mendapatkan beasiswa. Pasalnya di lapangan, salah satu tantangan terberat dari adik-adik kita berkutat pada keterbatasan akses untuk ke perguruan tinggi, karena keterbatasan ekonomi.

“Ada banyak tawaran beasiswa yang bisa kita dapat. Usahakan untuk pergunakan media sosial untuk menjangkau informasi seputar beasiswa, atau juga proaktif untuk menanyakan pada pihak sekolah,” tutup Kak Rani.

Baca Juga: Romantisme Arsi Juwandy dalam Memori

Usai seluruh proses perjumpaan selesai, kami menutup perjumpaan dengan menggantungkan harapan agar kian hari kian baik. Pada perjumpaan tentu selalu meninggalkan dua jejak, entah luka atau suka. Kami percaya kalau energi dari perjumpaan akan membuka pintu menuju tangga hidup yang lebih baik setiap harinya.

Siang harinya, tim Ekspedisi Kampung Berliterasi beranjak ke Ruteng, Ibu Kota Manggarai. Kami bersyukur berjumpa dan berbagi semangat dengan mereka. Terima kasih perjumpaan. Panjang umur literasi.*

Oleh: Erik Jumpar, Penulis Adalah Pecinta Kopi Colol dan Sopi Kobok, Asal Manggarai Timur.

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP