Belajar Loyalitas dari Kons Mbete

Belajar Loyalitas dari Kons Mbete

Ngkiong.com – Tidak banyak orang yang setia pada sebuah keputasan awal. Di dunia hanya sedikit manusia yang bisa loyal dengan keputusannya. Dalam dunia sepak bola kita mengenal Maldini, Fransesco Totti, Carles Puyol, dan Paul Scholes. Mereka adalah segelintir orang yang setia pada satu klub yang dibelanya. Bukan karena kurang hebat, banyak tawaran yang datang menggoda tetapi mereka telah menemukan rumah yang nyaman untuk hidup.

Dalam berbagai aspek di dunia ini, loyalitas menjadi kata yang langkah seiring berjalannya waktu. Loyalitas menjadi hal yang mustahil bagi seseorang ketika tawaran yang menggiurkan datang.

Dalam dunia pendidikan pun sikap loyalitas sangat dibutuhkan. Kultur yang hebat dalam sebuah pendidikan memerlukan waktu yang tak sedikit dan orang yang setia menjalankan panggilannya. Di zaman sekarang banyak yang tidak betah dalam satu situasi pekerjaan. Entah itu karena jarak dari tempat tinggal (asal) atau karena gaji yang kecil.

Baca Juga: Refleksi Tahun 2020 dan Lahirnya Ngkiong

Hal seperti itu sudah menjadi lumrah dialami di zaman sekarang. Om saya menjadi salah satu contoh bagaimana sistem itu berjalan. Di awal tahun kerjanya sebagai pegawai negeri sipil, beliau ditempatkan di sebuah desa terpencil. Namun, dalam beberapa tahun saja dia sudah bisa pindah tempat dan mulai bekerja di kota. Dengan melobi beberapa orang, surat keputusan pindah tugas pun dikeluarkan.

Hal yang sama juga terjadi pada pegawai swasta. Banyak sahabat kuliah saya sibuk berpindah-pindah tempat kerja dengan alasan gaji yang kecil dan tuntutan kerja yang berat. Pada beberapa kesempatan mereka selalu meminta saran, sebagai teman yang baik saya selalu mengatakan bahwa setiap keputusan yang kalian ambil adalah hasil pertimbangan yang matang.

Hal yang berbeda justru saya temukan di tempat kerja. Bertemu sahabat, rekan kerja, dan sosok anutan yang sudah banyak makan asam garam di dunia pendidikan. Namanya Kons Mbete, kami sering memanggilnya dengan sebutan Bapa Bu.

Kesan pertama saat bertemu dengannya tahun 2019 awal adalah bingung. Bagaimana tidak, dengan usia yang tak lagi mudah dan “layak” sebagai pendidik membuatnya tidak tampak seperti seorang guru. Saat mulai mengobrol dengannya, sebagai pendatang baru yang membawa angin segar dari teori-teori yang saya pikul selama kurang lebih empat tahun di bangku kuliah, membuat saya merasa satu tingkat di atasnya. Namun itu semua hilang, bahasa yang sederhana dengan tempo yang terukur membuatnya seperti cahaya.

Baca Juga: Jeda Sejenak

“Ilmu yang engko dapat tidak selamanya berjalan baik di sini, belajarlah mencari solusi. Berhenti menjadi pengikut!”

Kalimat itu seperti pukulan telak bagi saya. Tidak ada kalimat bantahan yang bisa diucapkan selain merefleksikan kalimat yang telah keluar dari mulutnya.

Bapa Bu telah mengabdi di Seminari Pius XII Kisol sejak 24 Januari 1983. Sudah tiga puluh tujuh tahun beliau mengabdi. Sudah banyak juga murid yang telah sukses berkat tangan dingin beliau. Sebut saja Bapa Uskup Ruteng Mrg. Sipri Hormat, Pr, sebagian Imam di Keuskupan Ruteng, Dokter Ronal, Ka’e Illo Djeer, dan masih banyak lagi.

Beliau tidak pernah memimpikan sesuatu dari siswa. Mengajar dengan sepenuh hati dan menjadikan mereka sebagai orang yang berguna sudah menjadi kepuasan tersendiri bagi Kons Mbete.

“Rasanya tidak ada impian khusus dari mantan siswa. Ketika kuliah di salah satu universitas di Amerika Serikat, salah seorang mantan siswa Jemmy Tensatrisna etnis Cina dari Bajawa mengirim Kartu Pos berisikan tulisan ‘Thank You for teaching us English’. Demikian juga baru-baru ini Anton Roling Basa Ola (S2 di Australia, S3 di Jerman) menulis begini: ‘salam hormat, Pa Guru’. Andi Guntur-kini pegawai BRI di Labuan Bajo-bersaksi ketika tampil dan membawakan cerita, dosen Bahasa Inggris kagum dan bertanya dari sekolah mana dan siapa guru bahasa Inggrismu, dia menjawab tamatan SMA. Hampir pasti masih ada cerita lainnya tetapi yang saya mau katakan ialah ada kepuasan tersendiri mendengar kisah sukses mereka”.

Baca Juga: Di Indonesia Banyak Orang Baik

Kons Mbete telah memilih lembah Sanpio sebagai rumah. Tempat dia menemukan jati diri. Baginya menjadi bagian dari Sanpio adalah sebuah keputusan yang tepat. Ada begitu banyak tawaran yang telah menggodanya. Dengan kemampuan dan prestasi yang telah didapat, membuatnya menjadi rebutan bagi orang banyak. Namun Sanpio tetap menjadi tempat yang nyaman.

Di balik prestasi yang telah dicapai, tak sedikit pula masalah yang dihadapi. Tiga puluh tujuh tahun bukan waktu yang singkat dengan berbagai masalah yang datang mendekat.

Namun, terlepas dari semua itu, beliau telah menunjukkan bahwa menjaga kepercayaan dari orang lain atau lembaga adalah pekerjaan yang menantang. Terbukti, meski usianya telah masuk masa purna tugas, Seminari Pius XII Kisol masih menginginkannya. Tentunya dengan berbagai pertimbangan seperti jumlah jam mengajar dan materi yang akan dibawakan.

Baca Juga: Romantisme Arsi Juwandy dalam Memori

Dalam perjalanan hidupnya, kadang kaki-kaki kecilnya sesekali terantuk batu. Tetapi beliau tetap berjalan. Namanya memang tidak sementereng para Fundator, meski jasanya sangat besar. Baginya menjadi orang yang berguna sudah lebih dari cukup meski namanya kadang dihapus dari sejarah-sejarah Sanpio.*

Penulis : Klaudius Marsianus Juwandy*

Bagikan Artikel ini

2 thoughts on “Belajar Loyalitas dari Kons Mbete

  1. Reply
    Yuvens
    15/01/2021 at 8:16 pm

    Menjadi pribadi yang baik hati itu penting dalam hidup.

  2. Reply
    Linda
    16/01/2021 at 8:56 am

    Keren we Om Acik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP