Kacamata

Kacamata

Ngkiong.com-Ada ungkapan: don’t judge a book by its cover. Dalam Bahasa Indonesia ungkapan ini dapat diterjemahkan secara bebas menjadi: jangan menilai orang dari penampilannya. Ya, manusia adalah makhluk penilai. Manusia cenderung  menilai sesama dari kesan pertama, baik karena sebuah perbincangan atau sekadar penilaian atas dasar indra penglihatan, atau  atas apa yang didengarnya. Manusia adalah pakar bagi sesamanya.

Ketika Anda sudah mandi dengan bersih, wangi, dan rapi tentu muncul sebuah kepercayaan diri yang tinggi untuk beraktivitas. Entah sekadar berbincang dengan rekan atau sekadar mondar-mandir keliling kompleks. Hal itu hadir atas sebuah keyakinan bahwa: Anda nyaman akan kesempurnaan penampilan diri sendiri atau mungkin yakin bahwa orang akan menilai sesuatu yang positif tentang penampilan Anda.

Namun, dalam situasi seperti itu ada saja orang-orang tertentu yang melihat sesuatu secara  lebih detail, mendalam, komprehensif, dan sangat unik. Misalnya, ketika Anda sudah pede dengan kegantengan dan kecantikan masing-masing, selalu ada komentar yang out of the box  keluar dari mulut beberapa orang. Di antaranya, Si A memang keren, tetapi bulu hidungnya kepanjangan, menghilangkan nilai estetis wajahnya. Atau, Si B memang cerdas di kelas tetapi nafasnya bau, membuat kadar kecerdasannya menurun. Atau yang paling ekstrem, motormu keren tetapi masa balpoin seharga dua ribu saja harus meminjam.

Baca juga: Kentut-kentut Orang Idealis (1)

Bahwasannya, masyarakat punya ruang yang cukup besar untuk mendominasi instrumen penilaian terhadap apa pun. Individu hanya mengikuti arus yang diperankannya dalam masyarakat itu. Tetapi, individu itu adalah agen bagi model dan bentuk masyarakat yang akan dicapai.

Di kampung-kampung beberapa bentuk stereotip masih sangat kuat pengaruhnya di alam bawah sadar orang-orang. Misalnya, orang bertato masih dilihat dengan sudut pandang tradisional sebagai seorang kriminal. Atau jika anak gadis mengenakan celana umpan, rambut merah-merah (bukan lagu Nona Lembata ya) masih dianggap sebagai anak yang kurang dibanggakan. Gadis seperti ini kerap dianggap sebagai ”inewai toe di’a” dan pada beberapa hubungan percintaan akan cukup sulit diterima oleh calon mantu.

Satu hal yang ingin saya bagikan terkait stereotip itu adalah orang-orang di kampung selalu berpikiran positif pada orang berkacamata. Proses transisi kemajuan yang belum sempurna membuat mereka masih yakin bahwa setiap orang berkacamata identik dengan kebaikan. Hal itu tentu berangkat dari figur-figur yang mereka saksikan sebelumnya yang berkacamata. Dan tentu bisa ditebak, figur itu adalah tokoh agama. Mereka tidak tahu bahwa koruptor itu kan banyak juga  yang berkacamata dan mungkin juga seorang tokoh agama.

Kacamata
Foto: Ilustrasi pixabaystoksnap

Baca juga: Untuk Perjumpaannya, Terima Kasih Tim Ekspedisi Kampung Berliterasi

Pernah sekali, saya mengenakan kacamata dengan model lensa transisi. Lensa transisi ini akan berubah warnanya menjadi hitam apabila berada di bawah cahaya matahari. Apabila berada dalam ruangan tanpa mendapatkan kontak dengan cahaya, ia akan kembali normal.

Pada momen itu, seorang awam seperti saya ketika berkunjung ke beberapa anak kampung yang cukup terisolasi merasa agak senang. Sebab, beberapa di antaranya akan memanggil saya frater. Dan Anda tahu, panggilan frater selalu identik dengan hal-hal positif. Di antaranya cerdas, berperilaku baik, memiliki keterampilan berbicara yang baik, dan masih banyak hal positif lainnya. Konsekuensinya tentu ketika berada di dalam rumah warga akan diberikan tempat duduk yang bersih, tikar terbaik, lonto le ulu, dan tentu dihidangkan menu makanan terbaik (ayam, ikan bakar, atau daging babi).

Kepolosan yang berangkat dari sebuah ketulusan itu justru menjadi beban tersendiri bagi saya. Tetapi, manusia kan tidak pernah merasa bersalah ketika itu mendatangkan sebuah keuntungan. Intinya nikmati dulu, biar tahun depan baru rasa bersalah itu dipikirkan. Atau istilahnya epen kah?

Baca juga: Perjalanan ke Yogyakarta: Sebuah Catatan

Padahal, kacamata hanyalah sebuah alat bantu dan itu adalah sebuah kebutuhan dan sifatnya mendesak, bukan untuk membeli sebuah citra diri. Kacamata adalah identitas bahwa seseorang itu sedang sakit mata; yang katanya kurang makan sayur waktu kecil. Sedangkan saya merasa bukan tipe orang pemalas makan sayur.

Di lingkungan  tempat tinggal pun, tentu karena berkacamata, ketika doa rosario job describe yang muncul dari mulut ketua KBG (kelompok basis gereja) adalah sambil memberikan Alkitab dan rosario “persitiwa pertama dan bacaan.” Itu artinya ketua KBG memberikan mandat penuh untuk beberapa malam berikutnya untuk tugas yang sama bila perlu naik level ke tugas memimpin doa. Sedangkan saat kuliah, doa rosario (seremoninya) itu sesuatu yang tak secara sengaja dilupakan.

Tetapi, di samping semua hal yang menyenangkan dan semu itu, ada hal yang cukup mengulik hati ini. Ternyata penampilan itu tak berbanding lurus dengan kesejahteraan isi dompet. Misalnya, sering tethring dengan teman karena kuota internet tak memadai, sering collect SMS, atau panggilan dibebankan.

Baca juga: Barcelona dan Definisi Bahagia yang Sesungguhnya

Atau hal yang menarik juga yaitu ketika antre di tempat-tempat umum seperti bank atau pergi ke tempat pesta. Saya pernah jalan dengan seorang rekan yang juga berkaca mata. Sedikit sentilan darinya waktu itu, orang-orang saat melihat kita pasti akan menerka-nerka siapa ya di antara dua orang itu yang paling cerdas. Seolah-olah kami masuk kategori cerdas (sialan).

Rekan yang satu ini pula bahkan dipuja-puja calon mertuanya karena baru menemukan orang berkaca mata ikut mengetam padi di sawah tanpa melepaskannya. Padahal itu hanya trik cerdasnya mengambil hati calon mertua. Sementara untuk di kebunnya sendiri, jarang-jarang ia membantu ketika proses mengetam padi. Dan itu pun sudah menjadi sebuah kecerdasan.

Pada intinya jangan menilai orang lain dari perspetif negatif. Jadilah dirimu sendiri, yang dapat membuat hidupmu lebih nyaman dan berarti bagi orang lain. Tetap bersyukur atas semua kelebihan dan kekurangan yang kita miliki.*

Oleh : Vian Agung

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP