Ini Bukan Gosip

Ini Bukan Gosip
Foto: Ilustrasi sukamakancokelat.com

Ngkiong.com – Menjadi orang yang pandai berbicara di depan umum  merupakan  sebuah capaian yang sangat luar biasa, apalagi bagi pembelajar awal seperti mahasiswa. Menjadi moderator, MC, orator demo, ketua panlak asistensi, komisaris, dan beberapa aktivitas yang melibatkan keterampilan berbicara lainnya, merupakan proses yang biasa dilewati pembelajar awal untuk sampai pada tahap penguasaan keterampilan lingual satu ini.

Saya yakin dan percaya bahwa teman-teman hebat saya macam , Arsi juwandi, Opin Sanjaya, Louis Mutu, atau  Juito Ndasung pasti belajar dan melewati proses yang cukup panjang sebelum menjadi pembicara yang ulung. Mereka-mereka ini keren kalau pembaca mendengar dan berdiskusi tentang bermacam hal.

Hal menarik dari keterampilan lingual satu ini adalah output dan outcome yang dihasilkan. Output itu berupa pengaruh yang dihasilkan oleh kecermatan diksi yang digunakan serta efektifitas terhadap sasaran yang dituju. Sementara, outcomenya adalah respek yang diperoleh atas kualitas yang mereka tampilkan atas pengaruh yang dihasilkan.

Beberapa orang hebat menggunakan keterampilannya untuk kebenaran, menyuarakan ketimpangan sosial, turun ke jalan. Efek yang dihasilkan adalah perubahan sosial. Dan itu, adalah sesuatu yang luar biasa. Dan saya tidak termasuk ke dalam itu. Pada dasarnya Anda perlu menjadi pembelajar yang baik dengan mendengar dan mengamati (pemebanaran ini).

Baca juga:Tipe-tipe Penonton Sepak Bola Liga Tarkam

Teman saya, pernah berkata bahwa kemewahan terakhirnya ada pada bibir dan diksi yang dikeluarkannya. Sedikit mengadopsi kalimat Tan Malaka, idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda. Menurutnya, kemewahan itu ia gunakan untuk memberikan sudut pandang yang kompleks kepada lawan jenisnya. Diskusi dengan beberapa lawan jenis adalah hobi yang paling sering dilakukannya. Dan saya pun kagum akan keterampilannya. Hasil yang diperoleh saat itu, ia beberapa kali harus melakukan mediasi dengan beberapa orang (lawan jenis). Ternyata ia punya hobi untuk mengklarifikasi terhadap setiap kesalahpahaman yang terjadi.

Beberapa kali bertemu dengannya, ia pernah menyampaikan bahwa dia perlu mencari kasiat untuk perlu mengurangi kadar kemanisan diksi yang dikeluarkan dari bibirnya. Saran terbaik untuk beliau satu ini untuk mengalihwahanakan kecerdasannya menjadi tulisan (buku). Atau minimal membuat tulisan dalam bentuk indahnya, kemudian dibagikan ke group WA dan Facebook. Tujuannya adalah penyebaran pengetahuan dan sudut pandang. Yang pasti teman saya ini bukan termasuk dalam list yang saya cantumkan pada paragraf kedua.

Hal lain yang mungkin  pembaca temukan, terlebih proses awal menjadi mahasiswa adalah kenekatan beberapa orang teman yang hobi menggunakan diksi –isasi, isme, dan tif secara luar biasa. Beberapa orang yang mendengarnya mengangguk antara mengerti dan bingung. Setelah diklarifikasi setelah perkuliahan, salah satu teman saya ini membuat deskripsi dengan literatur yang dibacanya dengan sangat terstruktur dan komprehensif. Beberapa orang yang lainnya hanya menjawab, “Saya pikir kraeng perlu mencarinya di KBBI.” Seorang dosen pernah mengatakan bahwa kadang kala beberapa orang harus perlu melewati dan  masuk pada fase kegilaan pada bambek linguistik.  Semua kalimat yang disampaikan isinya isme, isasi, tif dan sebagainya. Misalnya, kehidupan yang hidup adalah transformasi imajiniatif yang komprehensif yang lahir dari sudut pandang ekosistem hidup transformatif. Saya harap pembaca memahami bahwa kalimat ini hanya contoh.

Baca juga:Diam dan Dengarkan

Tetangga kos, kebetulan adik tingkat saya juga pernah berada pada fase ini. Di dinding Facebooknya penuh dengan status yang penuh dengan diksi-diksi memabukan. Baginya, ia adalah petani kata. Ia harus mencangkul, menanam, dan memetik setiap kata yang ada di kepalanya untuk dibagikan kepada publik. Ia perlu menjadi terang bagi teman-teman Facebooknya. Meskipun, di kamarnya tak ada satupun buku. Mungkin beliau tipe pembelajar yang mendengarkan materi kuliah dengan cermat lalu menuliskan intisari menjadi status Facebook. Meski sesekali ia menulis rumus statistik tentang cara mencari modus dalam penelitian kualitatif.

Tentu, belajar adalah proses menggali secara terus menerus. Ia lahir dari kesadaran akan terus bertransformasi menuju kualitas diri yang baik. Bahwasannya, kita terus berupaya mencari bentuk terbaik dari diri kita.

Di akhir tulisan ini, saya menyampaikan permohonan bahwa keren itu tak harus banyak berbicara (yang tidak penting). Banyak ngomel juga boleh. Apalagi banyak uang, itu lebih baik (tidak nyambung ya).

Sesuai dengan judulnya, tulisan ini bukan gosip. Hanya menceritakan teman-teman saya yang luar biasa di bidangnya.

Penulis: Vian Agung, Redaktur Ngkiong

Bagikan Artikel ini

One thought on “Ini Bukan Gosip

  1. Reply
    Rino Suharto
    18/04/2022 at 5:19 pm

    Mantap pak🤗

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Google Analytics Stats

generated by GAINWP