Menjadi Orang Biasa-Biasa Saja

Menjadi Orang Biasa-Biasa Saja
Ilustrasi gambar: Facebook @orangbiasa.org

Ngkiong.com – Setiap orang pasti memiliki keinginan untuk membentuk profil diri yang positif di mata orang lain. Bermacam upaya dilakukan oleh individu untuk menciptakan citra diri yang baik. Saat ini, orang-orang di media sosial membranding dirinya dengan profil yang berbeda-beda agar bisa diakui dan menjadi pembicaraan banyak orang. Tetapi, orang-orang yang berkarya tentunya harus dikenal oleh banyak orang. Tentu harapannya adalah penyebaran pengaruh positif bagi banyak orang.

Saya terkadang memberikan penghormatan kepada orang-orang yang rela meluangkan waktunya untuk mengabdikan dirinya untuk orang lain. Contohnya adalah ketua KBG. Bagi saya, ketua KBG adalah orang biasa nan-hebat yang memberikan dirinya untuk pelayanan.

Belum lagi kalau anggota KBGnya banyak yang cerewet. Atau ketua dewan stasi di wilayah saya yang sangat aktif di kegiatan gereja. Beliau, tidak digaji tetapi setiap kegiatan gereja beliau “toe ma peang ranga” alias selalu jadi garda terdepan. Bayangkan jika banyaknya orang-orang luar biasa begini, di tengah badai uangisme pasti akan banyak hal baik yang terjadi.

Sebagai anak zaman, saya kadang tidak merasa bersalah jika sesekali membranding diri dengan sebaik mungkin. Di story Whatssapp kadang menjadi sarana membuat diri  saya sebagai orang yang sangat luar biasa. Misalnya, keru elong lalu dibuatkan video, angkat elong juga dibuatkan video, bajak sawah, foto kopi, dan laptop sedang mengerjakan tugas deadline. Setelah itu dibagikan di media sosial.

Meskipun kadang tidak bermaksud pamer, tetapi ada beberapa orang yang berkomentar positif. Tetapi setiap konten yang saya posting, selalu diselipkan keterangan bahwa semua itu hanya pencitraan semata. That is fake you know. Prilaku kecil ini kadang sebagai bentuk mengkritik diri sendiri bahwa di dalam diri saya ada emosi negatif yang berbahaya.

Baca juga:Ini Bukan Gosip

Saya terkadang sesekali berkamuflase menjadi pejabat publik dengan mendokumentasikan semua aktivitas hari itu. Mulai dari bangun tidur, minum kopi, makan pagi, ke kiri, ke kanan, bertemu om Agus, bertemu Tanta Vero, salto, mendokumentasikan bukit yang ada awannya, dan masih banyak bentuk pencitraan lainnya. Pokoknya semuanya didokumentasikan. Kekurangan saya hanya tidak mendokumentasikan tindakan membantu orang lain. Soalnya, saya sendiri orang tak berpunya. Beli pulsa saja susah. Pernah membantu orang lain, itu hanya membantu mencairkan dana Bansos di kantor POS.

Atau di sektor terkecil adalah pengalaman di kelas waktu sekolah. Kita tentu sepakat bahwa, yang pintar, berwajah menawan, dan tentu nakal, adalah beberapa kriteria yang menjadi pembeda bagi beberapa orang untuk dikenal di lingkungan sekolah. Atau, memiliki skill di beberapa bidang macam olahraga dan kesenian. Apalagi kalau pintar, berpenampilan menarik, dan tambah lagi memiliki bakat di bidang kesenian atau olahraga, tambahlah engkau menjadi primadona.

Sementara beberapa orang lain misalnya adalah pendiam, kurang nakal, kurang pintar alias tidak juara,  memiliki ratio dikenal oleh populasi lingkungan (sekolah) sangat kecil.

Saya, pernah (beberapa) kali perlu menjelaskan secara detail tentang diri saya kepada beberapa orang bahwa dulu, kita (saya dan mereka) pernah satu sekolah. Saya, di satu sisi mengenal secara detail tentang beliau, sedangkan di sebelah mencoba untuk mengingat dan ternyata tidak mengingat sama sekali. Lalu, jalan keluar terbaik adalah berpamitan.

Hal ini menjadi indikator bahwa dulu waktu sekolah, betapa biasa-biasa sajanya saya. Hal yang paling unik adalah ketika bertemu dengan guru waktu sekolah, ada guru yang masih ingat baik nama dan beberapa hal unik saya waktu sekolah, sebuah kehormatan bagi saya.

Baca juga:Tipe-tipe Penonton Sepak Bola Liga Tarkam

Menjadi orang yang biasa-biasa saja menurut saya adalah sesuatu hal yang menyenangkan. Beberapa kesalahan kecil yang dilakukan oleh orang macam saya kadang cepat dilupakan.  Selain itu, biasanya orang macam saya jarang membuat kesalahan alias cari aman. Tetapi, jarang juga berbuat sesuatu yang luar biasa. Pokoknya datar saja, jarang membuat perbedaan.

Atas dasar itu, sekarang, sebagai seorang guru kadang saya berusaha untuk mengingat semua peserta didik yang saya ajar. Bagi saya, mengingat  nama anak-anak sekolah adalah salah satu upaya kita menghargai keberadaan mereka di dalam kelas. Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah. Di angkatan pertama siswa yang saya didik ada empat kelas, Allhamdulilah semuanya saya ingat nama lengkap dan nama panggilnya.*

Penulis: Vian Agung, Redaktur Ngkiong

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Google Analytics Stats

generated by GAINWP