Bernostalgia dengan Golkar dan Masa Kecil Penuh Drama

Bernostalgia dengan Golkar dan Masa Kecil Penuh Drama
Foto: Dokumen Merdeka.com

Ngkiong.com-Pagi ini, alarm  smartphone berdering membangunkan saya dari lelapnya tidur semalaman. Sedikit mengganggu memang. Masih nyaman dengan empuknya kasur dan hangatnya dekapan selimut yang sudah sedikit dekil.

Benda sumber bunyi yang mengusik pagi  itu saya raih lalu memastikannya tidak akan bunyi lagi. Saya lalu berusaha melawan rasa ngantuk dan beranjak dari tempat tidur.

Handphone yang sudah termakan usia itu layarnya sudah retak namun terus menunjang kerja-kerja saya. Jempol saya pun mulai berselancar dan mengintip beberapa story Whatsapp pada kontak-kontak saya.

Saya langsung tertuju pada beberapa foto berwarna kuning. Foto-foto ucapan HUT partai Golongan Karya (Golkar)dengan kutipan pemanis postingan nampak pada story beberapa teman dan senior yang menjadi kader Golkar.

Ternyata hari ini, hari jadi Golkar. Parpol tua yang selalu hadir dalam setiap dinamika pembangunan. Golkar mengingatkan saya pada banyak hal. Masa kecil saya punya kisah tersendiri dengan partai  Beringin itu.

Baik su, supaya tidak panjang lebar sa merasa tidak salah saya berbagi kisah saya dan Golkar di masa kecil dulu..Mai su, simak sap cerita em..hehe..

Baca juga:Tantangan Persatuan Indonesia di Era Milenial

Sebagai anak Pegawai Negeri Sipil, Golkar punya tempat sendiri dalam memori saya. Saya tidak menyebutnya kenangan buruk tapi selalu tergiang ketika bendera atau Golkar berpapasan dengan kedua bola mata.

Saat pemilu di penghujung 90-an, pagi sebelum menuju TPS, saya dan kedua kakak saya selalu mendapat arahan dari mama. “Sebentar jangan keluar, diam di rumah saja, kalau ada yang baju merah lewat intip saja dari dalam rumah, bisa jadi mereka PKI”, kata mama waktu itu dengan nada sarat drama tapi tegas.

Entah kenapa kata-kata mama ini membuat ketiga anaknya hanya bisa terperangah, takut dan tak berkutik. Biasanya melawan, semisal dilarang bermain diluar rumah karena ada orang yang cari kepala anak kecil kami jarang menurut dan tetap bandel.

Doktrin Golkar masa Mister Piye Kabare, enak Zamanku toh rupanya sangat mengakar. Kami yang tak tahu apa-apa pun hanya bisa menurut. Bahkan bertahun-tahun doktrin itu meliputi masa kecil saya.

Jauh sebelum pemilu, panji-panji Parpol biasanya berkibar di desa-desa. Partai hanya 3; Golkar, PDI, dan PPP. Memang tidak sebanyak sekarang, Parpol banyak, bendera juga banyak. Dari halaman rumah hingga di Sawah sebagai pengusir burung pipit.

Doktrin Partai Suksesor Orde Baru ini mulai muncul ketika bendera perang menuju pemilu sudah mulai nampak. PDI yang menjadi oposan sejati lazim jadi korban. Ada stigma yang membuat saya sebagai anak kecil kala itu memandang PDI sebagai partai jahat, dan menjadi ancaman kehidupan.

Dari teman-teman PNS mama juga saya sering mendapat ragam testimoni. Konon kalau tidak memilih Golkar status PNS akan dicabut, gaji hilang dan seterusnya dan seterusnya.

“Golkar yang kasih kita makan,” ini salah satu kutipan yang masih segar dalam ingatan saya. Masih banyak lagi tapi semua sirna dalam ingatan.

Kisah masa kecil bersama Golkar kelak mengantar saya pada kisah penggulingan Soeharto 1998. Perlawanan berdarah-darah mahasiswa menyadarkan saya, perlawanan untuk doktrinasi yang lama masif, terstruktur dan sistematis, eh seperti pelanggaran pemilu.

Terlepas dari sederet kisah masa kecil bersama Golkar dan Soeharto, saya sesungguhnya pengagum Partai yang satu ini. Di tengah badai perpolitikan di tanah air, beringin berdiri kokoh. Meski telah pecah berkeping-keping Golkar tetap Golkar. Berdiri Kokoh dan tangguh seperti tagline sebuah produk semen.

Baca juga:Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Keempat

Perjalanan 57 tahun dalam lintasan sejarah, Golkar telah mengambil bagian cukup strategis meski koruptor juga tak sedikit berasal dari Partai ini. Papa Setnov dan Azis Syamsudin salah duanya.

Namun satu hal pasti, Golkar partai tangguh, partai dengan sistem kaderisasi yang teruji serta selalu berada pada posisi tawar yang menarik disetiap Rezim.

Selamat Ulang tahun ke-57 Partai Golkar. Tetap hadir menjadi lumbung kader bangsa, menjadi organisasi yang senantiasa memberi warna dalan perjalanan bangsa. Hidup Golkar! Eh.

Oleh: Elvis Yunani Ontas, Penulis adalah Jurnalis Online Tinggal Di Borong, Manggarai Timur.*

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP