Habitus Bully dan Solusi Permasalahan yang Harus Ditempuh

Habitus Bully dan Solusi Permasalahan yang Harus Ditempuh

Ngkiong.com-Hingga sekarang bully sudah menjadi semacam warisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Belakangan ini, perundungan seolah dianggap sebagai mata rantai yang tidak akan pernah putus sampai kapan pun. Hal ini terbukti dari beberapa argumen yang menyatakan bahwa bully adalah sesuatu yang lumrah untuk dilakukan. Sampai saat ini, kebanyakan siswa beranggapan bahwa hal tersebut merupakan sebuah kebiasaan (habitus).

Bully telah menjadi ancaman serius bagi siapa saja terutama para siswa yang menjadi korban. Bully akan membawa atau memproduksi berbagai masalah baru. Berbagai masalah tersebut makin lama akan terus berakar dan tumbuh dengan subur di lingkup sekolah.

Lalu yang menjadi pertanyaan besarnya adalah apa itu bully? Mengapa bisa tumbuh subur di lingkup sekolah? Apa solusi yang tepat untuk meminimalisasi pemasalahan bully?

Memahami Bully dan Faktor Penyebab

Secara umum bully dikenal sebagai “penindasan”. Menurut Wikipedia, bully adalah penggunaan kekerasan, ancaman atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata bully adalah perundungan. Bully berarti rundung. Dari uraian ini, kita dapat menyimpulkan bahwa bully adalah sebuah ancaman dan sebuah masalah yang perlu diperangi.

Eksistensi kegiatan bully dalam lingkup sekolah telah mencapai puncaknya. Artinya tradisi tersebut telah mendapat tempat tersendiri di sekolah. Ada beberapa faktor dominan yang menjadi alasan siswa mem-bully siswa lain. Pertama, kurangnya (bahkan tidak adanya) pengawasan dari lembaga pendidikan dalam pembentukan kepribadian siswa. Kedua, berdasarkan sebuah riset, siswa yang kerap kali mem-bully siswa lain, biasanya pernah menjadi korban bully. Mereka yang menjadi korban lebih berpeluang menjadi pelaku bully ketimbang siswa yang tidak pernah terintimidasi.

Baca juga: Serundeng, Kuliner Bintang yang Kalah Bersinar

Ketiga, timbulnya rasa iri hati, tehadap siswa atau siswi tertentu. Iri hati atau benci biasanya terjadi karena berbagai hal. Ambil contoh, karena iri dengan prestasi atau kesuksesan siswa atau siswi lain. Keempat, bully sudah dianggap sebagai sebuah habitus atau kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hal inilah yang meyebabkan setiap siswa-siswi menganggap bully sebagai hal biasa yang perlu diwariskan dari generasi ke generasi.

Kelima, bully sering terjadi karena ciri fisik atau ras seseorang. Ketika penampilan fisik siswa berbeda dengan siswa yang lainnya, tidak menutup kemungkinan budaya bully akan tumbuh subur. Lain halnya dengan ras. Persoalan seputar ras selalu dijadikan substansi agar orang bisa mem-bully.

Jadi beberapa hal di atas merupakan faktor penyebab terjadinya bully. Ketika bully tumbuh dengan subur, bukan tidak mungkin berbagai masalah seputar tindakan mem-bully ikut bermunculan.

Baca juga: Kokis Ené

Dalam lingkup sekolah sendiri masalah seputar bully kerapkali hadir dan menghantui para peserta didik. Dilansir dari Kompas.com (Sabtu 8 Februari 2020 ), seorang siswa kelas VII sekolah menegah pertama (SMP) Negeri 16 kota Malang Jawa Timur berinisial MS menjadi korban bully oleh teman-temannya. Akibat dari tindakan teman-temannya jari tengah MS harus diamputasi.

Kasus di atas telah menggambarkan bahwa betapa kejamnya tindakan bully. Banyak siswa menganggap tindakan mem-bully sebagai hal yang lumrah atau biasa dalam lingkup sekolah. Kita harus menyadarkan para peserta didik, bully adalah sebuah ancaman bagi proses pendidikan apabila terus dipelihara. Maka dari itu kita perlu mencari solusi untuk menepis habitus bully yang telah lama berakar dalam lingkup sekolah.

Baca juga: Cerita Seorang Penggemar Sepak Bola

Tindakan bully merupakan salah satu masalah yang sangat serius. Maka dari itu kita perlu mencari solusi untuk memerangi habitus bully yang telah berakar dan tumbuh di lingkup sekolah.

Pertama, adalah pendidikan karakter. Menurut Elkind (2004) pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh guru, yang mampu memengaruhi karakter peserta didik.Hal ini mencakup keteladanan, kesopanan, menghargai orang lain, dll. Dalam hal ini, pendidikan karakter memiliki peran besar untuk mengubah sikap dan menghantarkan siswa ke jalan yang benar. Ketika cara berpikir siswa sudah dibekali dengan karakter yang baik, bukan tidak mungkin habitus bully dalam lingkup sekolah lambat laun akan hilang.

Kedua, adalah peran lembaga pendidikan. Dalam kaitannya dengan tindakan mem-bully, peran lembaga pendidikan mempunyai kontribusi yang paling besar dalam menepis habitus bully. Misalnya lembaga pendidikan memberikan sosialisasi mengenai dampak buruk dari tindakan mem-bully. Maka dari itu diperlukan peran setiap komponen dalam lembaga pendidikan baik siswa atau pun guru untuk menepis habitus bully dalam lingkup sekolah. Dalam hal ini lembaga pendidikan membentuk perilaku siswa ke jalan yang baik.

Jika hal ini terus dilakukan, dengan sendirinya kebiasaan mem-bully akan berkurang.

Penulis: Antonio Romanus Nagur. Penulis adalah siswa SMAK St. Fransiskus Saverius Ruteng

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP