Mie; Kuliner Legend Rasa Kelas Sosial

Mie; Kuliner Legend Rasa Kelas Sosial
Foto: Ilustrasi Kompas.com

Ngkiong.com-Di Youtube, seseorang memosting sebuah video seseorang yang sedang makan mie. Video itu ditonton oleh jutaan orang karena harga mie yang sangat mahal, yaitu Rp54.000. Lazimnya, untuk sekelas mie harganya hanya akan berkutat di angka Rp5.000 saja dan sudah bisa dapat 2 bungkus.

Video pendek tersebut benar-benar membuat saya bahagia. Pertama, karena memang saya adalah fans garis keras mie, itu tidak terbantahkan. Kedua, video tersebut kembali membangkitkan memori masa kecil saya tentang mie dan segala keagungannya.

Di tengah arus bisnis kuliner yang menjamur, melihat mie dengan harga yang sangat mahal memang menjadi momen yang langka. Sebagai anak yang masa kecilnya memiliki cita-cita makan mie, ada semacam harapan bahwa anak-anak zaman sekarang harus bisa memiliki cita-cita yang mirip atau bahkan sama.

Bukan tanpa alasan saya pernah bercita-cita makan mie, sebab saat itu mie berada di pucak kejayaannya, menyingkirkan ikan dan daging, dan keberadaannya di meja makan pesta tak tergantikan. Masa di mana mie menjadi favorit dan titel.

Di Manggarai, mie menjadi makanan yang pernah menjadi pembatas antara miskin dan kaya. Dia pernah berada di puncak kejayaan dan menjadi momok yang menakutkan bagi dua kelompok yang berseteru, kaya dan miskin. Awal 2000-an mie menjadi primadona dan cita-cita bersama. Didambakan oleh semua meja makan. Sebagai barang mewah dan langkah, hanya mereka yang punya kelimpahan yang dapat menikmatinya.

Baca juga: Tantangan Persatuan Indonesia di Era Milenial

Masyarakat akan dengan tahu dan mau saat ke kios berbicara dengan keras agar orang-orang di sekitar tahu bahwa dia sedang membeli mie. Fenomena itu akan menjadi topik yang hangat selama seminggu. Lebih dari itu, fenomena itu pastinya akan tertular ke anaknya saat bermain dengan teman sebaya. Biasanya dunia anak-anak akan berputar pada hal-hal yang spektakuler, mereka tidak mau kalah.

Jika seseorang bercerita bahwa waktu libur dia minum air kelapa, maka yang satu akan bercerita bahwa dia minum air kelapa di bawah pohonnya. Namun semua cerita itu akan musnah ketika seorang anak mengeluarkan kalimat, “itu masih baik, kami ge kamarin makan mie, enaaakkk”, semuanya akan diam dan dengan sendirinya dia menjadi pemenang dari debat kusir tadi. Sebab dia telah berada di level lain.

Waktu saya SD misalnya, anak yang berasal dari keluarga yang kaya pasti akan menjadi magnet bagi teman kelas. Akan ada momen ketika istirahat, ikon sekolah itu pergi ke kantin dan membeli mie dengan harga 1.750 (tahun 2004). Dia akan berjalan keliling sekolah sambil menikmati mie tersebut, sesekali dia akan menjilat tangannya yang terkena kecap atau minyak dari mie. Di belakangnya sudah pasti teman-temannya antri sambil berharap mendapat mie. Seketika dia menjadi pemimpin sekolah. Pada momen itu dia lebih besar dari kepala sekolah bahkan guru PJOK. Dia adalah jawaban atas doa yang panjang dari teman-teman; makan mie mentah.

Situasi itu akan semakin parah tatkala tanpa sengaja bermusuhan dengan kaum borjuis junior ini. Sebab tidak ada yang membela karena semua teman pasti ada di pihaknya dengan senjata penarik masa; mie. Saat itu saya sadar bahwa lambung lebih penting dari kesetiaan.

Baca juga: Ardin Liko; Pegiat Literasi dan Penyanyi Hip-hop Asal Ngada

Kekuatan dan dominasi mie bukan saja berada di kalangan anak sekolah dasar, tetapi juga merambah di lingkungan masyarakat dewasa secara luas. Bayangkan saja, mie menjadi salah satu faktor yang menentukan status seorang tamu. Jika tamunya sangat spesial dan penting pasti saat makan akan dihidangkan mie dengan campuran telur. Namun, jika tamunya adalah tetangga rumah maka jangan berharap makan mie.

Tidak cukup sampai di situ, dominasi mie benar-benar merusak keharmonisan menu lain. Bagaimana tidak, di semua acara mie pasti menjadi starting eleven dari menu yang akan disajikan. Pesta sekelas syukuran pelantikan pejabat daerah, pernikahan, penerimaan komuni pertama, bahkan ulang tahun tingkat asrama, sosok mie menjadi sangat vital. Kehadirannya selalu ditunggu-tunggu. Pada suasana lain juga seperti misa kematian atau acara kenduri mie tetap menjadi pilihan.

Jika dilihat dari segi pengolahan, membuat mie sangat mudah dan bahan yang dicampur pun tidak banyak, namun ketika melihat dari segi cita rasa mie berada di level lain. Walaupun dalam satu meja makan ada begitu banyak menu, orang pasti akan memilih mie sebagai teman makan.

Baca juga: Menenteng Buku ke Kampus bukan Berarti Kutu Buku

Bertahun-tahun dominasi itu tidak pernah putus, ada begitu banyak makanan-makanan baru yang lahir tetapi tidak bisa menggeser mie dari puncak kejayaan. Mie telah menunjukkan karyanya yang sempurna sebagai sebuah makanan, lebih dari itu dia adalah standar tentang sesuatu yang kita sebut status.*

Oleh : Arsi Juwandy

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP