Menenteng Buku ke Kampus bukan Berarti Kutu Buku

Menenteng Buku ke Kampus bukan Berarti Kutu Buku

Ngkiong.com-Tahun 2014 merupakan awal saya kuliah; awal penderitaan karena harus mulai menggunakan celana tisu, kemeja, dan sepatu pantofel setiap pergi kuliah. Maklum, kampus kami adalah kampus Katolik yang mewajibkan mahasiswanya berpakaian rapi, sebab cara berpakaian merupakan salah satu aspek yang dinilai.

Masyarakat di daerah saya (Flores) selalu menganggap bahwa lembaga pendidikan yang dikelola imam/pastor selalu berkualitas. Sekolah yang dikelola oleh imam/pastor selalu mengeluarkan aturan yang ketat, termasuk tentang cara berpakaian; meskipun pakaian tidak punya garis kordinasi dengan otak. Mungkin, mereka berpikir jika memang otak sudah tidak bisa dirapikan, setidaknya penampilan kami harus rapi.

Saya memilih jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan menjadi angkatan pertama. Saat awal semester, romo ketua program studi menyampaikan bahwa sebagai angkatan pertama kami harus menjadi orang yang kuat agar menjadi pijakan bagi adik tingkat untuk membuat anak tangga berikutnya.

Saya sungguh terharu mendengar kalimat itu karena memang saya tidak tahu apa sebenarnya yang ingin romo katakan. Dalam kebingungan, saya dikuatkan oleh salah satu teman, “belajar bahasa Indonesia memang begitu, omongnya A maksudnya B”.

Baca juga: Berkorban untuk Nonton Televisi: Sebuah Studi Nostalgia Masa Kecil

Tahun-tahun berlalu, saya pun punya kebiasaan baru. Berangkat kuliah dengan tas besar dan tangan pasti memegang buku Pramoedya Ananta Toer. Namun, sampai selesai kuliah saya tidak pernah membaca buku tetralogi dari bapak sastra Indonesia itu. Bukan apa-apa, melihat buku itu saja, saya sudah cape, apalagi membacanya.

Kebiasaan menenteng buku saat ke kampus membuat teman-teman menganggap saya sebagai seorang kutu buku. Sebagai seorang jomblo, saya senang mendapat predikat itu, karena itu adalah modal yang kuat untuk menarik hati adik tingkat. Benar saja, di media sosial, saya sangat terbantu. Cukup sekali chat, kaum hawa dari prodi Bahasa Indonesia merespon dengan baik dan antusias. Ketika melihat chat mereka, saya selalu membayangkan bahwa mereka pasti sedang riang gembira karena telah di-chat oleh salah seorang ikon prodi.

Sebagai seorang yang telah mendapat predikat kutu buku, saya pun harus bisa menyempurnakan penampilan bak seorang sastrawan prodi. Mulai dari kebiasaan memakai topi kodok saat ke kampus, menyendiri, sering garuk kepala, merokok dengan kepulan asap yang banyak, menampilkan wajah yang sedang berpikir dan sesekali tertawa atau senyum-senyum sendiri. Untuk kebiasaan yang terakhir, saya terinspirasi dari salah seorang dosen, sebab puisi-puisinya dan kebiasaannya yang senyum-senyum sendiri selalu mengikat kaum adam. Dia terlihat keren sekali, banyak mahasiswa mengaguminya.

Namun, ketika kebiasaan dan gayanya yang dianggap sebagai ciri khas seorang sastrawan coba saya tiru, saya justru terlihat seperti ketua KBG (Kelompok Basis Gereja) yang jalan dari rumah ke rumah untuk meminta iuran gereja mandiri atau menyampaikan jadwal katekese.

Baca juga: Sopi

Cara berbicara pun saya ubah, jika sebelumnya saya berbicara dengan makna yang gamblang, maka setelah mendapat predikat kutu buku, saya lebih sering menyampaikan makna secara tersirat. Untuk kebiasaan ini, saya banyak diejek oleh teman-teman karena dianggap gila. Tapi memang benar, sebab kadang juga saya tidak mengerti apa yang dibicarakan.

Seperti pepatah, semakin besar pundakmu, maka semakin besar pula beban yang harus kamu angkat. Mungkin ini pepatah yang cocok untuk menggambarkan nasib saya. Semakin hari, HP semakin sibuk dengan pesan masuk. Mulai dari mahasiswa yang ingin meminjam buku sampai mahasiswa yang ingin meminjam otak. Sebab dalam dunia perkampusan Katolik ada pepatah: malu bertanya (kepada kaka tingkat) sesat di tugas.

Masalah bermula, saat seorang mahasiswi cantik menelepon saya pada malam hari. Dia dengan berapi-api menceritakan pergumulannya selama menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sebagai kaka tingkat yang sudah melalang buana dan banyak makan garam, saya coba memberi peneguhan untuknya.

Di akhir percakapan, dia meminta saya agar bisa membantunya mengerjakan tugas membuat sebuah puisi. saya menyanggupi permintaan tersebut, karena saya adalah kaka tingkat dan harus menjaga marwah sebagai seorang senior yang kutu buku.

Beberapa minggu setelah itu, dia kembali menelepon dan memberitahu bahwa tugasnya diterima tetapi nilainya E. Jujur, saya sangat malu ketika mendengar kalimat itu, padahal untuk menghasilkan satu mahakarya tersebut saya membutuhkan waktu empat jam, dua bungkus rokok, dan empat gelas kopi. Bukannya menghasilkan puisi malah lebih mirip doa makan yang dibawakan oleh orang kelaparan. Saat akhir semester, tepatnya sewaktu yudisium, saya mendengar bahwa mahasiswi cantik itu gugur mata kuliah apresiasi sastra.

Baca juga: Peran Orang Tua dalam Pembelajaran dari Rumah

Belajar dari peristiwa tersebut, saya menyadari bahwa selama ini memang sudah banyak makan garam tetapi tidak beryodium sehingga hasilnya gondok. Saya pun mulai membaca buku puisi dari Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, dan puisi-puisi dari penulis terkenal lainnya. Seperti pepatah, pucuk di cinta ulam pun tiba, ketika saya baru saja selesai membaca buku puisi dan sedang haus untuk membuat puisi, lagi-lagi adik tingkat kembali meminta bantuan untuk membuat puisi. Seperti kebanyakan kaka tingkat, saya coba menampilkan diri sebagai seorang yang bijak dan menjelaskan masalah dari berbagai sudut pandang.

Saya pun coba membuat puisi tersebut pukul 02.00 dini hari, sebab banyak yang bilang sastrawan sering begadang dan karya sastra yang baik selalu dilahirkan pada jam-jam saat semua orang terlelap. Setelah menghasilkan mahakarya tersebut, saya coba membaca berulang kali dan memutuskan bahwa itu adalah salah satu karya terbaik yang pernah saya buat.

Namun, beberapa hari setelah itu, adik tingkat kembali menelepon dan menceritakan bagaimana sengsaranya ketika mengumpulkan tugas yang telah saya buat.“Saya suruh kalian buat karangan bukan karang-karang. Saya suruh buat puisi bukan surat sakit”. Mendengar kalimat itu, jujur saya tertawa sebab saya tahu bahwa kalimat itu pasti datang dari bapak dosen yang kami anggap sebagai sastrawan. Saya sudah akrab dengan kalimat itu, bahkan ada kalimat yang lebih menyedihkan dari itu.

Hingga tamat dan bekerja sebagai karyawan salah satu koperasi, saya masih giat membantu mencari solusi atas masalah dari adik-adik tingkat. Saya juga masih sering membuat makalah atau mencari judul skripsi yang baik. Mesti tidak jarang pula mereka mendapat kalimat ini dari para dosen, “ini judul penelitian rencana mau buat berapa tahun?”

Arsi Juwandy, Redaktur Ngkiong.com

Sekarang tidak jomblo lagi. Sudah ada yang memperhatikan hidupnya

Bagikan Artikel ini

Google Analytics Stats

generated by GAINWP