Di Indonesia Banyak Orang Baik

Di Indonesia Banyak Orang Baik

Ngkiong.com-Dalam kitab Kejadian ditegaskan: TUHAN menciptakan segala sesuatu baik adanya. Pada wajah kita orang-orang Indonesia, saya menemukan naas KS itu terpenuhi. Ada banyak dimensi dan warna ke-baik-an dalam rupa-rupa kita orang Indonesia.

Di tempat-tempat umum banyak orang baik. Kita bisa menemukannya dengan mudah. Di rumah sakit, di kantor polisi, di pengadilan, di jalan, puskesmas, kantoran, pasar; di mana-mana ada banyak orang baik.

Di suatu siang, di loket rumah sakit misalnya. Ada pria bertato yang memberikan kursinya kepada seorang ibu hamil. Hmm, baik sekali orang ini. Tampangnya yang terlihat sangar dan badannya yang bertato ternyata tidak serta merta menjadikannya seperti apa yang diprasangka oleh kebanyakan masyarakat. Saya bersyukur bisa menjadi saksimata pemandangan langka ini.

Masih di tempat yang sama. Ada seorang pegawai rumah sakit yang rela melepaskan tugas pokok dan fungsinya sebagai pegawai lalu sibuk membereskan urusan administrasi dengan memotong jalur antrean demi menampilkan diri sebagai orang baik bagi kerabat atau keluarganya sendiri. Dia memang baik sekali, sampai-sampai ia tidak peduli dengan ekspresi geram kami yang selama beberapa jam mengikuti ritme antrean.

Di kantor polisi juga, saya menemukan banyak orang baik. Ada orang baik yang bukan menjadi bagian dari institusi kepolisian yang mau membantu menjelaskan dengan baik tentang alur suatu urusan. Kepada kami yang mengurus SKCK, ia menjelaskan dengan sabar terkait mekanisme pengurusan serta berkas-berkas yang harus dipenuhi. Kami bersyukur dengan keberadaan orang seperti ini. Beberapa saat sebelumnya kami tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari seorang petugas yang asyik memainkan smartphone-nya. Tadi ia menjelaskan dengan sepotong-sepotong sambil terus memperhatikan telepon genggamnnya.

Baca juga: Bertemu Illo Djeer

Di tengah sibu-ribuknya pengurusan SKCK, ada juga petugas baik. Seorang polisi wanita yang tanpa rasa bersalah memotong jalur antrean demi mempercepat urusan SKCK kerabatnya. Kerabatnya, seorang pria. Ia berdiri di samping pintu; wajahnya seperti sedikit malu-malu. Pada raut wajahnya tergambar suatu perasaan tidak enak yang tertahan pada kami yang sedari tadi menunggu jadwal pengurusan berkas. Mendapati momen potong jalur di tengah antrean panjang semacam ini memang bikin makan hati.

Sambil mengunyah permen karet, dengan wajah datar sok tegas yang terkesan angkuh, si polisi tanpa permisi menerobos barisan antrean kami. Saya menduga, mungkin ia bolos waktu pendidikan etika. Di ruang pengurusan SKCK, petugas lain yang adalah rekan kerjanya melayaninya dengan perasaan yang entah seperti apa. Si penerobos brengsek tanpa sopan santun ini memang baik sekali bagi kerabatnya.

Pada ruang lain di tempat yang sama seorang kawan bercerita: kalo kita kena tilang, akan ada polisi baik yang siap menawarkan bantuan untuk mengeluarkan sepeda motor kita dengan cepat dan mudah. Biasanya, setelah penjelasan panjang lebar soal undang-undang lalu lintas dan sanksi yang harus diterima, mereka akan menawarkan jasa baik mereka: “begini sudah adik, saya bantu kasi jalan buat adik!”. Kemudian tawar-menawar mulai terjadi. Kita bisa menebak arahnya kemana: kita mesti menyiapkan uang rokok bagi si petugas tersebut.

Baca juga: Swallow; Sandal Nyaman Sejuta Umat

Di instansi pemerintah juga ada banyak barisan orang baik. Seorang kawan punya pengalaman serupa di kantor catatan sipil. Ia berkisah, urusan KTP akan jadi lebih cepat jika kita punya hubungan yang baik dengan salah seorang petugas yang baik. Di tempat ini, seorang pegawai mengingatkannya pada petugas rumah sakit dan polisi yang saya ceritakan, yang sudah membantu melancarkan urusan kerabatnya tanpa peduli pada sesuatu yang kita sebut sebagai budaya antre. Orang-orang pada instansi-instansi kita sepertinya ragu dengan aturan yang mereka ciptakan. Barangkali beberapa ekor bebek dan domba perlu diternakkan di tempat-tempat semacam ini biar kita bisa tahu bagaimana caranya mengantre.

Jika di terminal atau pun di pelabuhan Anda adalah tipe orang yang malas mengantre atau ketika Anda berada pada situasi kehabisan tiket, terkadang kita akan menemukan orang baik yang mau menjualkan tiketnya kepada Anda. Tentu saja harganya akan berbeda. Di pelabuhan Bolok Kupang, kami pernah berjumpa dengan orang seperti ini.

Seorang pemuda bertopi—yang tentu saja bukan petugas—mengungkapkan tiket tersebut terpaksa dijual karena kerabatnya membatalkan perjalanan. Sambil menunggu jadwal keberangkatan kapal, saya mengamati orang tersebut menjual tiket-tiket yang lain kepada mahasiswa-mahasiswa lugu yang lain. Ia tidak hanya menawarkan satu atau dua tiket, tetapi beberapa buah tiket. Hmm, banyak sekali keluarganya ini orang yang batal jalan.

Di suatu tempat seleksi masuk kerja juga terkadang ada panitia yang baik. Seorang staf mengakui ketika proses seleksi berlangsung ia diberi bocoran soal oleh seorang panitia yang tidak lain adalah rekan ayahnya. Yang bikin makan hati, ia bahkan mengakui bahwa sedari awal posisi yang diperebutkan memang diperuntukkan untuknya. Proses seleksi hanya menjadi semacam suatu seremoni yang bersifat formalitas. Ia bercerita dengan menggeb-gebu, seperti tidak punya rasa bersalah. Kasian peserta-peserta lain yang berusaha keras dan menaruh harapan penuh pada lembar ujiannya.

Baca juga: Bagaimana Kita Bisa Menulis?

Di pengadilan—tempat segala bentuk kebajikan dan kebaikan dikidungkan—juga tidak sedikit jumlah hakim baik. Kita hanya perlu mengaktifkan paket kebaikannya dengan setumpuk rupiah, tergantung jenis kasus yang dihadapi. Di hadapan rupiah, sebuah ketidakmungkinan di mata hukum akan menjadi sesuatu yang mungkin. Maka, celakalah Anda yang tidak memiliki relasi dan kekuatan rupiah. Kalau Anda tidak percaya, rajin-rajinlah menonton televisi atau membaca berita. Di sana ada banyak potretnya.

**

Begitulah. Sebagai suatu bangsa yang bebas dan demokratis, setiap kita diberikan kebebasan untuk menjadi bebas; termasuk dalam hal mendefisinikan sebuah kata. Secara sosial, bisa dibilang kata ‘baik’ menjadi salah satu kata yang paling bebas dan abu-abu pendefinisiannya. Apa yang disebut baik oleh sekelompok orang, belum tentu bagi sekelompok orang yang lainnya. Begitu pun sebaliknya. Celakanya dalam kebebasan dan keabu-abuannya, pada banyak situasi kita menjadi baik menurut versi kita masing-masing tanpa peduli pada aturan dan rambu-rambu yang kita ciptakan sendiri.

Banyak hal di dunia ini sebetulnya ada pada tangan dan kendali kita. Kita sendirilah yang menentukan baik seperti apa yang mau kita dapat dari sesama, dan baik seperti apa yang mau kita berikan kepada sesama. Apakah kita mau menjadi orang baik dengan merugikan orang lain? Atau kita memperoleh kebaikan dengan merugikan orang lain?

Semuanya bergantung pada diri kita sendiri: sebab sebaik-baiknya orang baik adalah baik bagi semua orang tanpa harus mengorbankan yang lain.

Ichan Lagur*

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP