The Power of Dream

The Power of Dream

Ngkiong.com – Ini adalah tulisan pertama saya di tahun 2021. Ini masih bulan pertama di tahun ini. Meski sudah lewat pertengahan bulan, saya kira menulis sesuatu sebagai resolusi di tahun ini belumlah terlambat. Lagi pula, tidak pernah ada kata terlambat untuk hal-hal yang baik, to? Tulisan ini juga akan terlihat seperti sebuah curhat, jadi saya berharap pembaca dapat memakluminya.

Tahun 2020 adalah tahun yang sulit. Bukan hanya untuk saya tetapi untuk kita semua, untuk bumi kita, untuk semua sistem; kesehatan, ekonomi, politik, pendidikan, komunikasi, agama, sosial, atau pun budaya. Keberadaan pandemik menjadi ujian yang besar untuk kita semua dan sistem yang ada. Satu hal yang membuat semuanya semakin menjadi lebih berat adalah kehilangan orang yang kita kasihi, yang menjadi support sistem, yang menjadi tumpuan kita.

Saya kehilangan mama pada November 2020 lalu karena serangan jantung koroner. Saya tidak ingin menjelaskan bagaimana penyakit ini bisa merenggut nyawa karena kita semua bisa mencarinya sendiri di google. Lagi pula, menceritakannya akan membuka kembali memori buruk yang tak dimungkiri akan membuat saya kembali bersedih.

Baca juga: Belajar Loyalitas dari Kons Mbete

Saya ingin lebih memfokuskan tulisan ini pada bagaimana saya bisa merasa lebih baik setelah kesedihan mendalam yang saya alami karena kehilangan mama. Izinkan saya sedikit menceritakan tentang mama dan kehidupan kami.

Mama adalah seorang perempuan yang sangat sabar. Ia jarang marah bahkan jika kami melakukan kesalahan yang besar. Ia lebih memilih diam lalu menasihati kami dengan lembut. Jika suatu saat saya menjadi seorang ibu, saya tidak yakin akan bisa menjadi seorang ibu seperti dirinya.

Kesukaannya adalah membaca kitab suci dan berdoa. Setiap hari berdoa Rosario bahkan hingga dua atau tiga kali sehari. Dia berdoa Rosario penuh, lima peristiwa. Menjelang malam, ia membaca kitab suci lalu menceritakannya kepada saya. Jika penasaran, saya juga akan membaca. Kadang-kadang, kami sharing tentang kutipan yang paling kami sukai, lalu berbagi pengalaman masing-masing.

Baca juga: Saung Ndusuk dan Betong; Riwayatmu Kini

Setelah mama meninggal, kesedihan yang besar meliputi saya secara pribadi. Kehilangan seorang ibu, kehilangan teman, kehilangan semangat. Hampir setiap hari saya menangis. Selera makan berubah, pola makan tidak teratur karena mood, beberapa kali sakit (diare, panas tinggi, pusing, lambung, hingga radang telinga luar). Syukurlah sekarang kesehatan saya sudah membaik. Saya sudah kembali beraktivitas seperti biasa bahkan dengan penuh semangat membuat tulisan ini.

Impian. Karena impian saya bisa bangkit dari kesedihan ini. Karena kembali memiliki impian, kesedihan dan kegalauan pergi. Kata ini, mungkin terdengar sepele karena terlalu sering lewat di telinga kita. Sejak kecil kita juga sering mendengar nasihat: gantungkan cita-citamu (impian) setinggi langit, sejajar dengan bintang-bintang, namun juga dekat seperti tanah.

Beranjak dewasa, setelah kita berhadapan dengan realita hidup, kata-kata ini terdengar samar, pelan-pelan hilang dari angan. Kita terjebak dalam kesulitan yang kita hadapi setiap hari, dalam keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki. Saya pun demikian. Bahkan, saya pernah memandang teman saya aneh karena setiap hari menceritakan impiannya. Setiap hari mengunggah status tentang impiannya. Memang seperti itulah impian bekerja: membuat kita bersemangat dan bergairah. Yeaahhhh!

Baca juga: Romantisme Arsi Juwandy dalam Memori

Kesepian yang kerap datang setelah mama pergi, tidak jarang membuat saya galau. Galau menjadi semakin besar karena status jomblo yang sudah bertahun-tahun tidak berubah. Haha..Saya cenderung menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna. Tidak terasa satu hari lalu satu minggu, berlalu begitu saja. Tidak ada pengalaman atau ilmu baru yang dipelajari.

Setelah melihat status seorang teman tentang impiannya di tahun 2021, saya jadi teringat dengan impian saya sejak SMA (saya tidak ingin menceritakannya di sini). Mengingat impian itu, saya menjadi kembali bersemangat. Saya menertawai diri saya sendiri karena merasa bodoh, telah lebih memilih galau daripada terus belajar setiap hari.

Impian itu mengalihkan perhatian saya dari kesedihan yang saya alami. Dengan impian itu, saya terbantu untuk tetap dapat mewujudkan perasaan cinta saya kepada mama meski mama sudah pergi. Bersama impian itu, saya tidak lagi merasa kesepian karena dia setia menemani saya, dia hidup di hati, menjadi teman seperjuangan.

Impian itu membuat saya memiliki alasan untuk tetap melanjutkan hidup selain untuk adik saya, sepahit apa pun itu. Lagi pula, kepahitan hanya sementara sampai ia memberikan manfaatnya untuk saya. Saya selalu percaya, hal-hal baik akan datang sebagaimana impian saya.

Ngomong-ngomong, baru memilikinya saja, saya sudah sangat bersemangat dan senang. Apa yang terjadi jika saya berhasil mewujudkannya? Bagaimana denganmu?*

Oleh: Rini Kurniati*

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP