Ayah: Sang Penikmat Sejati Kehidupan

Ayah: Sang Penikmat Sejati Kehidupan

Ngkiong.com – 31 Desember 2018, saya begitu terkesima dengan perjuangan ayah. Malam itu, diadakan perlombaan menyantap daging babi pedas dan yang menjadi pemenangnya akan mendapatkan sekardus Bir Bintang. Setelah berjibaku dengan lima peserta lainnya, ayah akhirnya finish di urutan tiga.

Selama perlombaan berlangsung, ayah tak menampik bahwa ia hanya ingin menikmati daging panggangnya semata. Artinya, big plan-nya bukan perihal menang atau kalah, melainkan kenikmatan menyantap daging panggang. Selama perlombaan, ia juga terlihat begitu bahagia dan melumat daging besar dengan penuh kenikmatan. Tak ada raut kacemasan atau ketakutan akan kekalahan yang tercermin dari wajah gagahnya.

Masih dalam pekan yang sama (sekira 26 Desember), ayah juga sempat mengikuti sebuah acara syukuran. Dalam seremoni, ayah diminta untuk membawakan sebuah lagu. Dalam acara itu, banyak tamu undangan yang sangat hebat dalam bernyanyi. Ia bertutur kepada saya, bahwa selama bernyanyi ia hanya ingin menghibur sesama serta menikmati suaranya sendiri; sembari menyelami betapa indah anugerah Tuhan yang telah menitipkan suara indah padanya.

Baca Juga: Belajar Loyalitas dari Kons Mbete

Dalam sanubarinya, tak ada pikiran-pikiran negatif semisal iri hati dengan sesama yang memiliki suara yang jauh lebih indah; tak ada ketakutan akan celotehan negatif dari para hadirin; atau pun kecemasan akan lontaran persepsi orang tentang penampilannya.

Pengalaman-pengalaman ayah itu turut memoles persepsi saya terhadap hidup dan perjuangannya. Akhirnya saya coba mengalegorikan pengalaman ayah dengan dinamika hidup manusia. Perjalanan hidup ini layaknya perlombaan. Manusia selalu berkompetisi untuk menjadi yang nomor wahid (teratas) dalam hidupnya. Manusia selalu berusaha menjadi nomor satu dalam banyak hal semisal finansial, talenta, kekuasaan, prestasi, dan lain sebagainya. Manusia pun kadang terlalu sering salah menyalurkan waktunya dengan terjerembab dalam kecemasan hidup, rasa cemburu akan kelebihan sesama, dan memikirkan kesulitan hidup dengan dugaan-dugaan negatif yang tak berbuntut pada rasa syukur, sukacita, dan kebahagiaan.

Baca Juga: The Power of Dream

Andaikata ditautkan pada realitas yang lebih luas, saya berani bertaruh bahwa ayah adalah penikmat sejati kehidupan. Kepada saya, ia selalu mewanti-wanti, jikalau hidup ini mesti ditapaki dengan penuh sukacita. Itu adalah harga mati, bahkan ketika tengah berjibaku dengan berbagai “kompetisi-kompetisi” dalam hidup.

Dalam mengais rezeki contohnya, tak perlu terlampau menambatkan ketakutan dan kecemasan yang besar terhadap hasil finansial hidup yang mungkin akan didapat, atau pun iri hati andaikata melihat kesuksesan orang lain. Big Plan utama saat menjalani hidup, mengejar impian, passion, dan sebagainya, bukan semata-mata terletak pada hasil yang diperoleh.

Big Plan adalah soal bagaimana menikmati perjuangan, menggarap nilai serta makna hidup yang tersingkap dalam setiap perjuangan. Bersukacita dengan butir-butir dinamika hidup, dan juga bersyukur atas tiap keadaan yang kita terima; gagal atau pun berhasil. Menjalani hidup dengan bayang-bayang kecemasan akan kegagalan, iri hati, dan duka cita, adalah kegagalan itu sendiri.

Berjuang dengan sukacita, menikmati proses, memaknai proses, bersenyawa dengan proses, dan penuh rasa optimis adalah kunci keberhasilan. Dengan demikian, kita akan mencicipi kebahagiaan pada saat berjuang sekaligus  saat kita menerima hasil akhir (entah menang atau pun kalah). Sama seperti ayah saya yang berbahagia meski kandas di urutan tiga; karena baginya, kebahagiaan selama berproses (berlomba), jauh lebih tinggi nilainya ketimbang hasil akhir.

Baca Juga: Di Indonesia Banyak Orang Baik

Itulah jadinya apabila kita berjuang dengan penuh kenikmatan, sukacita, pemaknaan, syukur, tanpa kecemasan berlebih, dan tanpa iri hati. Ini bukanlah sebuah sikap fatalistik. Jika ada yang menganggap panorama ini adalah bentuk nyata dari sikap fatalistik, itu adalah hal yang kurang tepat. Ini adalah bentuk perjuangan dan pemaknaan atas dinamika kehidupan. Ayah saya adalah pejuang; pejuang makna kehidupan dan pejuang yang berjuang untuk keluar dari hasrat iri hati dan duka cita.

Andaikata dunia tahu bahwa ia adalah ayah saya, dunia akan langsung sadar, bahwa anaknya pun adalah pribadi yang mencintai perjuangan hidup. Jika dunia dan seisinya (manusia, dsb) mau menunggu saya untuk menyerah, mereka akan menunggu hingga saya mati(*). Sukacita dan nilai perjuangan adalah harta warisan abadi dari ayah saya; untuk diri saya dan untuk keturunan saya nanti.

Baca Juga: Titik Terendah

Saya pun amatlah yakin sekaligus berharap, setelah pembaca merampungkan bacaan ini, pembaca akan berbangga dan tercerahkan. Berbangga andaikata dunia tahu bahwa ayah pembaca adalah insan pecinta perjuangan hidup; dan tercerahkan andaikata mungkin pembaca belum tersadar apabila ayah-ayah pembaca adalah pejuang-pejuang kehidupan. Setelah itu, pembaca tentu dengan bangga dan dengan hati cerah bakal mengganti kata “saya” dalam tulisan ini dengan kata “kita”. Ayah, ayah kita.*

*) Kalimat tersebut dikutip dari anime Naruto Shippuden

Oleh : Broery Peamole, Penulis Adalah Siswa Kelas XII SMAS Seminari Pius XII Kisol, Asal Bajawa.

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP