Serba-serbi Doa Rosario

Serba-serbi Doa Rosario

Ngkiong.com-Tidak terasa kita sudah masuk di Oktober 2020. Pandemi belum juga berakhir. Penderita Covid -9 semakin bertambah namun yang berhasil sembuh juga tidak kalah banyaknya. Bulan Oktober jadi salah satu bulan istimewa bagi umat Katolik di seluruh dunia karena pada bulan ini, secara khusus Bunda Maria dihormati sebagai Ratu Rosari. Penghormatan ini di Indonesia dilakukan dengan berdoa secara bergilir dari rumah ke rumah; entah bagaimana di negara lain.

Ritual doa seperti ini, selain dilakukan pada bulan Oktober juga dilakukan pada bulan Mei. Situasi pandemi yang terasa sangat mencekam sejak bulan Maret lalu membuat ritual doa bergilir pada bulan Mei lalu tidak dilaksanakan. Saya tidak yakin bahwa umat Katolik melakukannya dengan baik dan rutin di rumah. Saya sendiri mengalaminya. Kami tidak rutin berdoa bersama.

Baca juga: C u m a n g A M a n g

Bulan Oktober ini, kelompok basis gereja (KBG) kami, Renya Rosari, Wae Buka, Paroki Kumba, kembali melaksanakan doa Rosario bersama dengan catatan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Betapa senangnya bisa berkumpul lagi. Di tengah situasi yang serba sulit, iman kepada Tuhan adalah satu-satunya penolong yang membuat harapan terus hidup. Dalam Tuhan ketakutan perlahan sirna. Mungkin terdengar sok bijak dan agamawi namun saya kira, apa pun yang terjadi; ekonomi boleh merosot, serta interaksi sosial boleh dibatasi namun iman mesti terus bertumbuh dan hubungan dengan Tuhan mesti terus terjalin. Komunikasi pribadi dengan Tuhan melampaui segala keadaan, menembus tembok-tembok aturan yang diciptakan manusia.

Kita patut bersyukur karena negara mengizinkan praktek keagamaan tetap berlangsung di tengah situasi pandemi ini. Bukan hanya perayaan ekaristi dan berbagai penerimaaan sakramen yang diizinkan, namun juga ritual sederhana dan hangat di lingkungan umat seperti berdoa Rosario. Jika Santa Theresa dari Calcuta pernah mengatakan bahwa kita perlu mengenal tetangga kita, maka doa Rosario adalah salah satu ruangnya. Selain menyatukan hati untuk mendoakan berbagai kepentingan umum, doa Rosario bergilir juga menjadi tempat bertatap muka dengan tetangga, bercerita, saling menanyakan kabar, tempat berdiskusi akan isu-isu hangat di masyarakat hingga berbagi info dari pemerintah seperti terkait kebersihan lingkungan ataupun ajakan untuk tidak golput dalam pemilihan umum. Doa Rosario menjadi tempat pribadi dibentuk; di tempat ini kemampuan publik speaking dapat dikembangkan.

Saat masih di sekolah dasar, saya sangat rajin mengikuti kegiatan doa Rosario bergilir di KBG. Saat itu, kami tinggal di Kumba. Motif eksternalnya cukup banyak termasuk ingin makan kue, ingin bertemu teman, agar tidak dimarahi Ibu guru di sekolah, ingin tampil mendaraskan doa Salam Maria hingga keinginan untuk tampil membacakan kitab suci. Momen ini jadi momen beradu pendarasan doa Salam Maria dengan intonasi terbaik dan tanpa kesalahan. Kalaupun salah, hati harus mampu menerima ejekan teman sebaya bahkan orang tua. Hati dibentuk untuk memberikan yang terbaik namun juga menerima segala hal yang tidak diharapkan dengan lapang dada. Seperti itulah hidup. Pujian dan cibiran akan selalu ada dari orang-orang di sekitar bahkan jika kita tidak melakukan apa pun.

Baca juga: Petrus Apul Pegiat Literasi yang Peduli Anak-anak Kampung

Beranjak remaja, doa Rosario bergilir menjadi saat bertemu sesama remaja yang sudah mulai mengenal cinta. Adu pandang dengan lawan jenis tidak dapat dihindarkan. Lemparan salam ke sana kemari berpindah. Gosip-gosip seputar siapa berpacaran dengan siapa, siapa suka siapa, siapa berselingkuh dengan siapa menjadi trending topic seolah diketahui satu negara. Jembatan penyeberangan cinta menjadi bakat yang mulai tumbuh di saat salam tak kunjung datang. Heheh..

Terkadang kita mesti siap kecewa jika pria yang kita sukai memilih kita menjadi jembatan bukannya tujuan. Kita mesti bergembira karena di saat seperti itu kita berperan seperti Bunda Maria; menjadi perantara dan penyalur rasa cinta yang terpendam sesama anak KBG. Nyanyian dan pujian mestinya didaraskan juga untukmu. Hehehe..

Sebagai seseorang yang beranjak dewasa, keberadaan berbagai motivasi eksternal di atas pelan-pelan berubah apalagi di tengah situasi seperti sekarang ini. Kesadaran akan kebutuhan bersosialisasi dalam praktek keagamaan yang kolektif sekaligus personal di saat momen bersosialisasi dibatasi membuat berbagai kesempatan yang ada dimanfaatkan dengan baik. Kerinduan akan kebersamaan dengan Tuhan dan sesama menjadi penyemangat untuk hadir di dalam setiap kegiatan doa.

Baca juga: Perjalanan ke Yogyakarta: Sebuah Catatan

Tuhan melampaui usia dan generasi. Anak-anak hingga orang tua mengalami sukacita yang indah dan penuh. Doa-doa subur melintasi awan-awan. Semoga doa Rosario menjadi gunting yang memutus rantai penyebaran virus, kebencian, dan ketakutan, menjadi air yang memadamkan kemarahan, menjadi bunga-bunga yang menghiasi mahkota Bunda Tersuci, membuat dunia seindah Surga, membuat yang baik dan benar akan menang, membuat orang-orang muda mengekspresikan cinta secara benar, membuat anak-anak selalu merasa dicintai.*

Penulis: Rini Kurniati

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP