Petrus Apul Pegiat Literasi yang Peduli Anak-anak Kampung

Petrus Apul Pegiat Literasi yang Peduli Anak-anak Kampung

Ngkiong.com – Kepedulian menjadi sebuah kemewahan saat dirasakan manfaatnya oleh sesama. Ia laksana cahaya di tengah kegelapan, sekecil apa pun bentuknya adalah harga tak ternilai bagi yang membutuhkan. 

Petrus Apul (38),  seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kantor  Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Manggarai Timur-Flores-NTT, mendedikasikan waktu senggangnya untuk berbagi  dengan  anak-anak di kampung sekitar tempat tinggalnya.

Hiruk pikuk pekerjaan sebagai ASN tidak melumpuhkan semangatnya untuk menyapa anak-anak di beberapa dusun di kelurahan Rana Loba, Kecamatan Borong, Manggarai Timur.

Pria yang bernama lengkap Petrus Alexander Apul ini, memiliki kepedulian bagi tumbuh kembang anak-anak. Sebagai usaha sadar, ia pun menelusuri dusun-dusun memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar.

Foto : Dokumen Komunitas Santo Andreas Borong (Kegiatan Natal bersama )

Baca Juga: Kisah Charles Darwin Jansen; Anak Petani Yang Tidak Pernah Bermimpi Jadi Anggota Polisi

Beberapa dusun yang ia kunjungi diantaranya Golo Lada, Golo Ntoung, Golo kaca, dan Cambir.

Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) itu  memiliki alasan khusus merangkul anak-anak yang kesehariannya tidak memiliki rutinitas yang mengarah pada perkembangan intelektual mereka.

ASN yang akrab disapa Petrus itu mengaku jika hal yang ia lakukan merupakan sebuah usaha sadar untuk membangun kepribadian anak dengan memberikan ruang khusus untuk menunjukkan bakat dan kemampuan mereka selain belajar di sekolah.

“Kami ingin menciptakan lingkungan yang positif bagi tumbuh kembang anak-anak di lingkungan Golo Lada, Golo Ntoung, Golo Kaca dan Cambir. Lingkungan yang positif, maksud kami adalah ada ruang bagi anak-anak untuk bisa bermain, bergembira dan belajar, anak anak bisa mendapat pujian, ada ruang anak-anak beraktivitas dan menunjukkan kemampuannya kepada teman-teman, orangtua dan lingkungan,” jawab alumni IPB itu saat ditanyai mengenai motivasinya.

Foto : Dokument Komunitas Santo Andreas (Kegiatan Hari Anak Nasional 2019 di Desa Compang Ndejing)

Baca Juga:Kisah Eldis Sonte Guru di Desa yang Mendirikan Sekolah Baru

Tidak hanya itu pria yang ramah anak ini menyampaikan jika yang ia lakukan adalah untuk memberikan panggung bagi anak-anak sehingga dapat berkenalan dengan orang banyak dan bisa menginspirasi mereka melalui bermain, berbagi ide/gagasan, konsep, dan cerita.

“Ada ruang anak-anak bisa saling mendukung dan memberi motivasi, ada ruang bagi anak-anak untuk bisa berkenalan dengan banyak orang yang bisa saja dapat menginspirasi antara satu dengan yang lain, ada ruang untuk mereka diajarkan tentang hal yang baik dan buruk, dan ada tempat untuk anak-anak bertanya dan berbagi cerita dengan kami,”  jelas Petrus.

Kegiatan yang ia lakukan di kampung-kampung dimulai sejak 2017 lalu, hingga kini Petrus telah mendirikan sebuah komunitas sebagai wadah untuk mengumpulkan anak-anak yang diasuhnya. Komunitas yang ia dirikan tersebut diberi nama, komunitas Santo Andreas.

Foto : Dokumen Komunitas Santo Andreas (Pementasan drama dan puisi Hari Pangan Sedunia 2020)

Baca Juga:Perjalanan ke Yogyakarta: Sebuah Catatan

Sampai dengan saat ini, anak-anak yang tergabung dalam komunitas Santo Andreas mencapai 120 anak, mulai dari Sekolah Dasar (SD)  sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dalam proses pelaksanaan kegiatan, mantan ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Bogor itu menggandeng istrinya Crisnovita Advenria Sitanggang yang juga memiliki kepedulian yang sama terhadap anak-anak.

Adapun kegiatan yang mereka lakukan bersama anak-anak di beberapa Dusun tersebut diantaranya belajar bersama, program tiga bulan bisa membaca, belajar Bahasa Inggris, matematika dasar, menulis dan membaca puisi, berolahraga (lomba badminton), dan pementasan drama.

Berkat keseriusan merawat asa anak-anak, alhasil komunitas Santo Andreas telah mengikuti pelbagai event yang diselenggarakan di kota Borong dan beberapa kegiatan rohani katolik.

Foto : Dokumen Komunitas Santo Andreas (Belajar Matematika dasar)

Baca Juga:Motang Rua

Adapun beberapa kegiatan yang mereka sudah tampilkan, diantaranya pentas Natal dan tahun baru  2017 dan 2019, pentas seni hari Anak Nasional di Desa Compang Ndejing 2018/2019, dan pentas seni pada Hari Pangan Sedunia (HPS) tingkat Provinsi NTT di Borong Manggarai Timur.

Saat ditanyai mengenai kegiatan selama masa pandemi Covid-19, pria kelahiran 1982 silam itu menjelaskan, jika selama pandemi aktivitas di komunitas hanya difokuskan pada kegiatan membaca dan belajar matematika dasar bagi anak Sekolah Dasar (SD) kelas rendah. Selama kegiatan berlangsung anak-anak tetap memperhatikan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Karena memiliki mimpi yang sama, pasangan suami istri ini menyediakan rumah mereka sebagai tempat belajar bagi anak-anak di Komunitas, selain melakukan kunjungan di dusun-dusun.

Foto: Dokument Pribadi Petrus Apul (Bersama Keluarga)

Baca Juga:Ender Tin

Untuk mengajar mereka tidak hanya mengandalkan kemampuan mereka sendiri. Namun keduanya mengundang orang–orang yang memiliki kompetensi pada bidangnya sesuai yang dibutuhkan.

Penulis sendiri masih ingat tahun 2018 silam, pernah diundang oleh Komunitas Santo Andreas untuk memberikan materi tentang puisi, bersama Arsy Juwandi yang merupakan staff pengajar Bahasa Indonesia di SMP Seminar Pius XII Kisol, Manggarai Timur.

Pada saat memberikan materi, anak-anak di komunitas begitu antusias mengikuti penjelasan yang disampaikan pemateri. 

Kini rumah ayah dua anak itu sudah memiliki perlengkapan media pembelajaran, mulai papan tulis, spidol, buku bacaan dan alat pendukung lainnya layaknya sekolah mini bagi anak-anak.

Foto Dokument Komunitas Santo Andreas (Pementasan Drama HUt RI 75)

Baca Juga:Bona Jemarut: Didi Kempot-nya Manggarai

Ia pun berharap apa yang dilakukannya dapat bermanfaat positif bagi banyak pihak, hingga akhirnya anak-anak yang ia asuh dapat menunjukkan kebolehannya  kepada masyarakat luas.

Untuk diketahui, selain peduli kepada anak-anak, pasangan suami istri ini juga turut peduli dan mendampingi para petani di dusun-dusun yang mereka kunjungi.*

Ditulis Oleh Donatus Juito Ndasung

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP