Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah

Ngkiong.com – Ketika mengisi kesempatan luang, hati tergerak untuk menengok kembali buku pemberian ‘mantan pacar’ saat sedang bergulat dengan proposal tesis. Buku yang ditulis oleh Nafi’ah al-Ma’rab yang nama aslinya Sugiarti itu merupakan novel dengan ketebalan viii+184 halaman. Saya sungguh menikmati isinya yang sudah ditata rapi oleh penerbit Tinta Medina tahun 2016 dan dikukuhkan secara legalitas dengan ISBN: 978-602-0894-21-8.

Sebenarnya buku ini cocok untuk adik-adik yang yang lahir tahun 1990-an, karena hari-harinya bersama teman-teman sebaya tidak terlepas dari obrolan tentang pacar, bahkan nikah, dan semacamnya. Saya sangat percaya, ‘mantan pacar’ menghadiahkan buku ini  kepada saya bukan karena ia berpikir saya lahir tahun 90-an, karena dia sudah tahu bahwa di atas tanah beralaskan tikar anyaman daun lontar, kehadiran saya tepat pada angka 80-an. Saya terima buku ini saat itu karena ada frasa ‘dalam proposal’ sesuai dengan realitas waktu itu di mana hidup saya semata-mata diganggu oleh proposal tesis. Itu pikiran saya ketika menerima bukunya dan belum melumat isinya.

Tentu, sudah banyak orang, khususnya mahasiswa membaca dan mengulas novel beraroma asmara dengan nuansa islami ini. Kalau pembaca yang senang dengan tampilan visual, maka saya rekomendasikan buku ini, karena halaman-halamannya dihiasi dengan aneka warna dan desain yang sangat memanjakan mata. Khususnya bagi pembaca yang sudah siap untuk menikah, barangkali buku ini membantu karena Nafi’ah al Ma’rab membukanya dengan pengenalan karakter diri, kemudian karakter diri itu membantu untuk menyadari tujuan hidup, yakni menikah. Maksudnya, pembaca (adik-adik 90-an) diberi ruang untuk menceritakan tentang diri kepada si dia. Kalau diawali dengan bab ini, maka sudah pasti bahwa buku ini spesial buat para single yang sedang dalam masa adven menjemput kelahiran jodoh. Jadi, daripada isi waktu dengan galau setiap, mendingan bikin proposal buat jodoh supaya ketika ujian, bisa dinyatakan lulus punya jodoh.

Baca Juga: Memetik Pesan Sejarah dalam Cerpen “Salamah dan Malam yang Tak Terlupakan” Karya Lilik HS

Persiapan menikah pun disajikan Nafi’ah al-Ma’rab dengan visi-misi dan tips-tipsnya, bahkan sampai bagaimana meyakinkan keluarga tentang niat menikah. Pokoknya, novel ini seperti orang Inggris bilang, ‘one stop solution’. Oh ya, Nafi’ah al-Ma’rab juga sudah siapkan ruang buat pembaca untuk curahkan isi hati ketika galau di halaman ‘Kolom Curhat Galau’. Barangkali pembaca mau curhat, dipersilahkan. Tapi ingat, jangan curhat di media sosial ya. Ingat, Mba Nafi’ah al-Ma’rab sudah siapkan 12 kamar beserta isinya dengan bonus satu kamar. Ada kamar ‘Mengenal Karakter Diri’, ‘Tujuan Hidup dan Menikah’, ‘Target Menikah’, ‘Menemukan Calon Impian’, ‘Visi Misi Pernikahan’, ‘Kriteria Calon Impian’, ‘Ilmu yang Harus Disiapkan’, ‘Apa yang Membuatmu Takut?’, ‘Persiapan Menjadi Orang Tua’, ‘Tips Meyakinkan Keluarga’, ‘Manajemen Hati’, dan ‘Kolom Curhat Galau’. Sedangkan kamar ekstranya adalah ‘Bonus’.

Kisah cinta yang dialami oleh gadis bernama Laranjani, tokoh utama dalam novel religi itu teramat getir dirasa. Bagaimana tidak? Lelaki idaman yang ia harapkan dapat menjadi pendamping hidupnya, ternyata bukan jodohnya. Sebuah tragedi yang sangat menyakitkan.

Kisah bermula ketika Laranjani selalu dikejar pertanyaan oleh teman dan para guru ngajinya. Pertanyaan tentang kapan ia segera mengakhiri masa lajang, sementara usianya sudah memasuki angka 27 tahun. Laranjani jengah, bosan, dan tak habis pikir, mengapa orang-orang di luar sana terlalu mencampuri urusan pribadinya. Bahkan, yang menyakitkan hati, ketika ia dianggap sebagai perawan tua (hal. 45). Beruntung, Laranjani masih memiliki ibu yang sangat memahami kondisi dirinya. Ibu tak pernah menyinggung soal itu karena sangat menghargai keputusan anaknya (hal. 73).

Sebenarnya, jauh di dasar lubuk hati, Laranjani juga ingin segera menikah. Dan sosok lelaki yang menjadi impiannya adalah yang pandai dalam masalah agama, agar kelak ia dapat menjadi suami sekaligus menjadi imam yang baik.

Hingga akhirnya, sosok pemuda bernama Rifky muncul di kehidupannya. Ia adalah sosok pemuda yang didambakan Laranjani selama ini; memiliki pemahaman ilmu agama yang memadai dan berakhlak baik. Rifky adalah adik kelas Laranjani saat kuliah dulu. Ia dipertemukan kembali dengan lelaki itu ketika sama-sama bekerja sebagai pengelola rumah kos milik Pak Hasan. Namun, impian Laranjani mendadak pupus ketika Pak Hasan berniat menjodohkan dirinya dengan Fatih.

Foto : Dok Pribadi Bernardus T. Beding

Baca Juga: Mengenal Anes, Anak Manggarai Juara Dunia Seni Lukis Prasi

Nafi’ah al Ma’rab memaparkan banyak kejadian yang menyedihkan. Kisah asmara Raranjani berakhir dengan apik. Saya tidak mau ceritakan endingnya di sini, nanti dibilang kurang greget. Jadi, saya hanya mau katakan bahwa cinta memang tak pernah salah, karena dalam surat Fatih untuk Laranjani, istrinya dia menuliskan sepenggal kalimat begini, “kata orang cinta itu tak selamanya jodoh, mungkin itu yang ada pada kita”.

Saya tidak tahu bagaimana posisi pembaca di Fatih. Pasti sesak dada ketika tahu bahwa pasangan hidup kita yang selama ini kita kasihi ternyata jatuh hati kepada sahabat kita sendiri. Sakitnya tu pasti di sini. Walaupun demikian, Nafi’ah al Ma’rab masih menggambarkan keikhlasan dan ketegaran hati dalam menapaki jalan cinta yang suci.

Karena itu, pesan saya untuk para pembaca; siapkan hati, jangan baper alias bawa perasaan. Saya sama sekali tidak menghendaki bahwa setelah membaca tulisan ini dan mencari tahu buku tersebut untuk melumati isinya, kemudian kalian jadi baper dan ingin cepet nikah. Karena bagi saya, Nafi’ah al Ma’rab tidak hanya menguras soal asmara, tetapi banyak pesan dan nilai yang perlu bahkan harus kita pelajari dan menjadi milik kita. 

Jadi, saya mau bilang, cinta tak pernah salah. Hanya cara mengungkapkan cinta itu yang seharusnya dijaga. Itulah inti sekaligus hikmah yang dapat dipetik dari Novel Jodohku dalam Proposal ini. Jodoh itu selain harus diupayakan juga menjadi rahasia Tuhan. Dan yang tak kalah penting, setiap orang berhak menentukan kriteria jodohnya masing-masing.

Baca Juga: Tak Perlu Malu untuk Menulis Sesuatu

Bagi yang masih single, jangan hanya menunggu dengan harapan yang tak pasti; apalagi hanya berdiam dan menanti. Sebaiknya, sibukkan hari hidup dengan mempersiapkan diri dan manajemen karakter dan hati. Kalau hidup kita sudah di alur dan perencanaan yang pasti dan matang, tentu saat yang sama jodoh ditemukan hingga bersama mengatakan ‘ya’ untuk mengarungi bahtera rumah tangga alias menikah. Jangan sia-siakan masa mudamu dengan berpesta pora dan senang-senang sesaat tanpa menabung harga diri dan karakter yang baik untuk masa depan yang lebih damai dan bahagia.***

Oleh Bernardus T. Beding : Penulis Adalah Pegiat Literasi dan Dosen PBSI Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP