Peran Orang Tua dalam Pembelajaran dari Rumah

Peran Orang Tua dalam Pembelajaran dari Rumah
Foto : Iustrasi Kompas.com

Ngkiong.com – Satu tahun sudah pandemi Covid 19 melanda. Satu tahun  juga dampak pandemi menghantam sendi kehidupan manusia mulai dari ekonomi, kesehatan, sosial, bahkan budaya masyarakat. Pandemi Covid 19 telah mengubah banyak tatanan kehidupan. Perilaku masyarakat pun berubah seiring berjalannya waktu. Misalkan, masker yang saat ini sudah menjadi benda wajib bagi semua orang. Di samping itu kebiasaan-kebiasaan lain pun berubah seperti budaya cuci tangan, cara bersalaman, dan sebagainya.

Dari sekian banyak hal dan sisi kehidupan yang mengalami perubahan, penulis akan lebih fokus melihat dampak pandemi Covid 19 dalam bidang pendidikan. Mengapa demikian?

Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang amat penting bagi terciptanya generasi masyarakat yang berkualitas di masa mendatang. Pendidikan juga menjadi suatu tolok ukur kemajuan bangsa di masa mendatang. Jika pendidikan tidak berjalan dengan baik, maka akan ada generasi yang dikorbankan.

Selama setahun terakhir proses pendidikan di Indonesia mengalami suatu keadaan di mana proses pendidikan berjalan tidak sesuai dengan apa yang diharapakan. Pandemi Covid 19 telah membatasi gerak masyarakat dalam berbagai sisi kehidupan termasuk pendidikan. Kebijakan seperti ini tentu diambil pemerintah demi mencegah terjadinya penyeberan Covid 19. Dengan dibatasinya pergerakan masa dalam berbagai bidang kehidupan, maka diharapkan dapat menekan jumlah manusia yang terpapar Covid 19.

Agar roda kehidupan tetap berjalan, maka pemerintah mulai mengambil langkah-langkah yang perlu guna mengantisipasi terjadinya masalah-masalah baru dalam kehidupan sosial. Langkah yang diambil pun beragam misalnya dengan membatasi kegiatan ekonomi di pasar, di kawasan-kawasan perbelanjaan, membatasi kegiatan ibadah, serta kegiatan lain yang melibatkan banyak orang.

Baca Juga: Cinta Tak Pernah Salah

Demikian pula yang diterapkan dalam bidang pendidikan. Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mulai melakukan berbagai terobosan seperti menerapkan kegiatan belajar dari rumah dengan metode daring dan/atau metode luring melalui penugasan atau kunjungan rumah. Metode dan cara-cara tersebut tentunya disesuaikan dengan kondisi sekolah yang bersangkutan.

Pelaksanaan kegiatan belajar dari rumah kemudian membuat para siswa lebih banyak berada di rumah bersama keluarganya. Kegiatan pembelajaran yang seyogianya dilakukan di sekolah pun harus dilaksanakan dan berpusat di rumah. Para siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai teknologi yang ada seperti memperoleh materi dari internet, mengerjakan tugas yang diberikan guru melalui berbagai media mulai dari whatsapp, email, zoom, maupun diantarkan langsung ke rumah siswa.

Proses belajar seperti ini tidak jarang melibatkan para orang tua, keluarga di rumah, bahkan beberapa siswa mengerjakan tugas-tugasnya dengan menjiplak langsung dari internet yang biasa kita sebut “copy paste dari google”. Selain itu proses belajar dari rumah juga secara tidak langsung membuat orang tua bertindak sebagai guru di rumah untuk membantu dan membimbing buah hatinya dalam belajar dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah.

Situasi dan kondisi ini membuat orang tua sulit membagi waktu antara pekerjaan pokoknya dalam mencari nafkah dengan pekerjaan tambahan yaitu membimbing anak-anaknya belajar. Hal ini kemudian berdampak pada meningkatnya stres pada siswa dan orang tua, bahkan pada kasus tertentu merusak hubungan psikologis antara orang tua dan anaknya. Situasi ini terjadi terlebih karena banyak dari orang tua yang tidak menguasai ilmu dalam mengajar dan membimbing anaknya secara akademik.

Oleh karena itu dampak yang terjadi selanjutnya adalah terjadi tindak kekerasan terhadap anaknya sendiri mulai dari kekerasan verbal hingga fisik. Lebih parahnya lagi adalah ketika orang tua merasa tidak tega untuk memarahi atau mengajari anaknya, mereka memilih untuk sama sekali tidak membimbing dan mendampingi anaknya dalam belajar.

Situasi dan kondisi seperti demikian akan terjadi apabila kegiatan pembelajaran dari rumah hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan target kurikulum saja. Sekali lagi, tingkat stres pada orang tua, pada peserta didik itu sendiri, dan berbagai dampak negatif lain akan terjadi dan merusak tujuan dan cita-cita pendidikan itu sendiri.

Baca Juga: Memetik Pesan Sejarah dalam Cerpen “Salamah dan Malam yang Tak Terlupakan” Karya Lilik HS

Lalu Apa yang Mesti Dilakukan?

Pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudataan pada beberapa tahun terakhir menekankan pendidikan karakter dan kecakapan hidup sebagai bagian yang tak kalah penting dalam pendidikan di samping kemampuan akademik dan pengetahuan yang bersifat teoretis.

Pendidikan karakter dan kecakapan hidup saat ini amat penting karena para peserta didik ketika nantinya sudah menyelesaikan pendidikannya pada jenjang apa pun itu pada akhirnya mereka akan kembali ke masyarakat. Kita tahu bahwa situasi dan kondisi kehidupan antara lingkungan sekolah dengan lingkungan itu amat jauh berbeda. Untuk hidup dalam lingkungan pendidikan, seorang siswa atau pelajar akan lebih banyak mengandalkan kemampuan intelektualnya.

Maka semakin pintar seseorang di dalam lembaga pendidikan, ia akan semakin dikagumi. Hal ini berbeda dengan apa yang ada di dunia nyata. Orang yang akan dikagumi di dunia nyata atau dalam hidup bermasyarakat adalah orang yang memiliki kecakapan hidup seperti karakter yang baik yang ditunjukkan dengan sikap hidup yang baik, mampu menempatkan diri pada situasi dan kondisi di mana pun ia berada, mampu bersosialisasi, serta memiliki sikap simpati dan empati terhadap situasi sekitar.

Nah, agar para peserta didik nantinya bisa memiliki intelektual yang bagus sekaligus karakter yang baik dalam hidup bermasyarakat, maka lembaga pendidikan baik di keluarga maupun di sekolah harus bisa memadukan pendidikan intelektual dengan karakter.  Ketika kita berbicara pendidikan karakter, kemudian menghubungkannya dengan situasi dan kondisi saat ini terutama dalam kaitannya dengan proses belajar di masa pandemi Covid 19, maka penulis melihat bahwa belajar di tengah pandemi seperti ini bagi kita di Indonesia sekiranya menjadi suatu kesempatan yang baik.

Dikatakan sebagai kesempatan yang baik karena siswa “dikembalikan” sejenak ke keluarganya untuk dibina dan dididik terutama dalam kaitan dengan karakternya. Pemikiran ini sejalan dengan paradigma “keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama”.  Keluarga dalam konteks ini bukan sebagai penyedia materi intelektual yang serba ada, melainkan sebagai wadah yang pertama membentuk anak-anaknya agar menjadi pribadi yang berkarater baik.

Orang tua selama masa belajar dari rumah diharapkan berperan aktif dalam mendampingi anak-anaknya dalam berbagai hal, terutama karena anak-anak lebih sering berada di rumah. Waktu yang amat banyak itu hendaknya dimanfaatkan para orang tua untuk membina kedekatan dengan putra-putrinya, mendampingi mereka dalam berbagai kecakapan hidup seperti memasak, mencuci piring, membersihkan rumah, merawat kebun, beternak, dan sebagainya.

Dengan demikian para peserta didik atau anak-anak bisa berinteraksi secara intens dengan lingkungannya dan membangkitkan rasa peka terhadap berbagai situasi dan kondisi di sekitarnya. Selain itu siswa atau anak-anak juga diajarkan untuk bersikap sopan santun terhadap orang tua, tetangga sekitar, teman dan siapa pun yang mereka jumpai. Selain itu mereka juga belajar beribadah, toleransi, dan sebagainya.

Baca Juga: Mengenal Anes, Anak Manggarai Juara Dunia Seni Lukis Prasi

Hal ini memungkinkan anak-anak akan belajar secara langsung tentang kecakapan hidup dan karakter yang baik. Mereka juga kemudian akan menjadi peribadi-pribadi yang unggul dalam karakter, walau pun pembelajaran yang sifatnya intelektual atau teoritis juga amat penting untuk diberikan karena bagaimana pun juga kemampuan intelektual juga amat penting untuk kehidupan mereka selanjutnya.

Itulah beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua selama proses belajar dari rumah. Secara umum kita belum tahu pasti sampai kapan pandemi ini akan berakhir. Namun demikian berbagai harapan muncul agar sesegera mungkin kegiatan pembelajaran bisa kembali dilaksanakan di sekolah. Harapan itu kian kuat ketika beberapa waktu terakhir vaksin mulai diberikan kepada berbagai lapisan masyarakat secara bertahap.

Semoga para insan pelaku pendidikan juga segera mendapat vaksin agar pembelajaran bisa dilaksanakan di sekolah kembali. Lebih dari itu semua, selama proses pembelajaran masih dilakukan dari rumah, atau tanpa tatap muka di sekolah, maka peran orang tua dalam mendidik terutama dalam kaitannya dengan karakter tetap terus dilaksanakan.*

Oleh : Louis Mutu

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP