Memetik Pesan Sejarah dalam Cerpen “Salamah dan Malam yang Tak Terlupakan” Karya Lilik HS

Memetik Pesan Sejarah  dalam Cerpen “Salamah dan Malam yang Tak Terlupakan” Karya Lilik HS

Ngkiong.com – Cerita pendek (Cerpen) merupakan salah satu jenis cerita rekaan yang dapat memberi sensasi hiburan sekaligus berbagai nilai kehidupan bagi para pembacanya. Selain itu, cerpen pun menjadi ruang yang berisi ungkapan kekecewaan, kritikan, letupan emosi, sinisme, dan berbagai persepsi penulisnya terhadap realita yang terjadi.

Sebagai penikmat sastra, salah satu cerpen yang menggugah emosi saya untuk kembali berbalik menatap potret kelam di masa lalu adalah cerpen yang berjudul: “Salamah dan Malam yang Tak Terlupakan”. Cerpen tersebut ditulis oleh Lilik HS dan diterbitkan oleh Kompas (04/10/2020).

Ketika membaca bagian pembuka cerpen tersebut, kita akan segera mengenal situasi awal yang menggemparkan dan menghantui Nurdin, seorang pensiunan guru sekaligus menjadi tokoh utama dalam cerita. Berikut merupakan kutipan narasi pembuka cerpen tersebut, yaitu: “Desa Sudi Mulyo mendadak gempar. Dari mulut ke mulut segera berhembus kabar, ada sepotong kepala melayang-layang menjumpai beberapa penduduk desa. Sosok kepala itu pertama kali mendatangi Nurdin, seorang pensiunan guru”.

Baca Juga: Mengenal Anes, Anak Manggarai Juara Dunia Seni Lukis Prasi

Dalam narasi pembuka tersebut, kita dapat melihat adanya sosok misterius berupa sepotong kepala yang mendatangi sang tokoh utama. Kehadiran sosok kepala tersebut menjadi gerbang pembuka bagi isi cerita selanjutnya.

Tema sentral yang diangkat pengarang dalam cerpen tersebut adalah pembantaian terhadap sejumlah pihak yang dianggap menjadi dalang di balik peristiwa berdarah Gerakan 30 September/G30S tahun 1965. Bahkan malangnya, akibat sejumlah tuduhan tanpa pendasaran yang jelas dan kuat, beberapa pihak yang belum terbukti bersalah pun “dikambinghitamkan” lalu dibantai. Peristiwa itu menjadi salah satu catatan kelam sejarah dalam rangkaian perjalanan negeri ini.

Bagi saya, tema yang diangkat Lilik memiliki relevansi dengan situasi yang terjadi dalam konteks kehidupan kita sehari-hari. Sebagai pribadi yang tak sempurna, acap kali kita jatuh dalam kubangan dosa yang selalu mengitari kita. Ambil contoh, akibat sikap iri hati yang telah menggerogoti diri, kita terkadang mencari cara yang jitu untuk menjatuhkan orang lain. Salah satu senjata ampuh yang digunakan yaitu dengan mencerca dan melemparkan sejumlah tuduhan yang tak benar terhadap pribadi tertentu atau memfitnah. Akibatnya, pribadi yang tak bersalah itu pun turut menanggung derita.

Contoh praktis lainnya dapat dilihat melalui sikap hidup kita yang tidak bertanggung jawab atas kesalahan diri sendiri. Acap kali, demi meluputkan diri dari kesalahan dan guna memperoleh zona nyaman, kita melemparkan kesalahan kita kepada orang lain sebagai topeng penutup kemunafikan diri kita. Ketika  berperilaku demikian, kita sesungguhnya mencerminkan kebobrokan kepribadian  kita sekaligus melecehkan martabat manusia sebagai makhluk luhur ciptaan Tuhan.

Dalam cerpennya, Lilik menggunakan bahasa sehari-hari sehingga memudahkan pembaca dalam mencerna dan memahami isi cerita. Bahasa yang digunakan dirangkai begitu apik sehingga mampu membangkitkan daya tarik pembaca untuk membaca isi cerita dan menemukan makna di baliknya. Selain itu, beberapa diksi yang digunakan diambil dari bahasa lokal Jawa, seperti kata eling dalam kalimat: “eling pak!” dan ungkapan wis pateni wae dalam kalimat: “wis pateni wae, pateni wae…, pateni wae…,” terdengar suara gemuruh sepanjang jalan.

Baca Juga: Tak Perlu Malu untuk Menulis Sesuatu

Hemat saya, penyisipan diksi lokal di atas sesungguhnya tidak hanya mempertegas eksistensi lokasi cerita, tetapi juga perlu dimaknai sebagai bentuk apresiasi terhadap bahasa lokal sebagai salah satu produk budaya yang menjadi identitas suatu masyarakat. Hal tersebut menjadi catatan yang perlu digarisbawahi, pasalnya saat ini, pada abad XXI yang dikenal sebagai era disrupsi (era ketercabutan masyarakat dari akar kultural sehingga memungkinkan masyarakat masuk ke dunia yang baru, yaitu dunia digital), tidak sedikit di antara kita yang cenderung lebih tertarik menggunakan bahasa-bahasa “gaul” ketimbang bahasa lokal sebagai penanda identitas yang diwariskan leluhur kita.

Bahkan, adapula persepsi yang menganggap bahasa lokal sebagai bahasa kolot yang harus ditinggalkan. Alih-alih menganggap diri sebagai makhluk yang berbudaya dan beradab, justru kehidupan yang ditampilkan telah jauh menyimpang dan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh sebab itu, melalui cerpennya, Lilik pun hendak menyadarkan kita agar di tengah perkembangan dunia saat ini, kita tidak kehilangan identitas kita sebagai masyarakat lokal dengan menghargai bahasa lokal yang kita miliki.       

Bila ditelisik dari unsur latar, cerpen tersebut terbagi ke dalam tiga unsur latar, yaitu  unsur waktu, tempat, dan situasi. Latar waktu yang digunakan yaitu pada masa lalu tepatnya pada tahun 1965, pasca peristiwa berdarah G30S. Sementara itu, latar tempat yang dipilih yaitu Desa Sudi Mulyo dan latar suasana didominasi rasa takut dan menegangkan. Pernyataan itu salah satunya dapat dilihat dari sikap tokoh Nurdin yang terbangun dengan napas terengah, keringat dingin, dan mukanya pucat. Situasi demikian terjadi, sebab Nurdin dihantui oleh sepotong kepala, yang ternyata milik Salamah, salah seorang wanita korban pembantaian peristiwa tahun 1965.

Memetik Pesan Sejarah dalam Cerpen “Salamah dan Malam yang Tak Terlupakan” Karya Lilik HS
Ilustrasi : Dokumen Kompas.id

Baca Juga: Filosofi Kloset

Selama hidup Nurdin jatuh hati kepada Salamah. Tapi ia tak punya nyali. Ditambah lagi ayah Nurdin tidak menyetujui kedekatan antara keduanya, sebab Salamah beserta keluarganya dianggap memiliki keterlibatan di balik peristiwa berdarah G30S. Bahkan, ayah Nurdin menjadi tokoh yang paling getol menyuarakan pembantaian kepada keluarga Salamah. Salamah beserta keluarganya dicurigai lalu dituduh sebagai salah satu bagian dari dalang penyebab terjadinya peristiwa G-30S. Walaupun tuduhan yang ditujukan kepada mereka tidak memiliki bukti yang kuat dan jelas, pembantaian kepada mereka tetap dilaksanakan.

Namun, bila kita mengkaji dan mencermati lebih dalam berbagai teori yang membahas tentang peristiwa G-30S, sejumlah teori memberikan perspektifnya masing-masing terkait dalang di balik peristiwa berdarah tersebut. Bahkan, terdapat teori yang membaca persoalan tersebut sebagai salah satu bagian dari permainan politik global dengan secara gamblang menyebut keterlibatan salah satu agen keamanan negara asing sebagai dalang dalam peristiwa tersebut. Lalu, siapakah dalang peristiwa itu yang sesungguhnya?

Bagi saya, pertanyaan di atas sesungguhnya hadir dalam cerita melalui diri tokoh Satrio, anak Nurdin yang tergerak untuk melakukan riset tentang peristiwa 65. Walaupun tidak tersurat, riset tersebut bagi saya sejatinya dilandasi oleh sebuah hipotesis yang ingin membongkar kebobrokan dan rahasia buram di balik peristiwa 65. Itulah sebabnya, dalam realita sampai sekarang, kita masih dapat menemukan sejumlah pihak tertentu yang giat menggali berbagai informasi terkait peristiwa tersebut.

Hemat saya, cerpen tersebut mengandung sejumlah nilai yang sarat akan makna. Nilai-nilai yang dapat dipetik, antara lain pentingnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, tidak memfitnah sesama, mencintai bahasa lokal sebagai produk budaya, dan berbagai nilai lainnya. Nilai-nilai tersebut sekaligus menjadi pesan bersama bagi kita untuk semakin berbenah ke arah yang lebih baik dalam kehidupan selanjutnya agar terciptanya suatu kehidupan yang harmonis dan beradab.   

Baca Juga: Kentut-kentut Orang Idealis Bagian Keempat

Membaca cerpen tersebut, membawa kesan tersendiri dalam diri saya. Saya merasa sangat beruntung karena bisa membaca dan menikmati cerpen yang berlatarkan sejarah dan kaya akan nilai-nilai kehidupan serta dirangkai begitu menarik. Cerpen ini sungguh menyadarkan saya agar jangan sekali-kali melupakan sejarah bangsa ini. Sejarah telah mengajarkan dan mengantarkan saya menuju kedewasaan hidup. Oleh sebab itu, sebagai kaum terpelajar, sudah sepantasnya kita mengaktualisasi segala nilai sejarah bangsa ini dalam kehidupan kita dan mewariskannya kepada generasi selanjutnya agar sejarah bangsa kita tercinta ini tidak lekang ditelan waktu. *

Oleh : Fridolin Budiman Darmiyanto, Penulis Adalah Siswa Kelas XII MIPA SMA Seminari Pius XII Kisol

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP