Tentang Kita dalam Nunduk

Tentang Kita dalam Nunduk

Ngkiong.com-Manusia adalah pencerita yang ulung. Pencerita akan selalu menyampaikan sesuatu yang kadang utuh, separuh, sedikit atau malah melenceng dari  keutuhan sebuah peristiwa. Begitu pun dengan orang-orang di sekitar kita, atau bahkan kita sendiri. Misalnya, seorang teman menceritakan bahwa dirinya pernah ditolak gebetan karena terlalu baik, padahal yang sebenarnya beliau mencoba meyakinkan pacar orang.

Beberapa waktu lalu, di sebuah tempat pesta sekelompok bapak-bapak sedang asyik bercelatuk dengan sesamanya. Mereka tampaknya sangat mendalami apa yang sedang mereka perbincangkan. Sembari menikmati sopi, beberapa orang pun sangat khusuk mendengar seorang bapak tua yang duduk di tengah sambil bercerita.

Bisa diprediksi bahwa mereka sedang bertukar informasi tentang calon kades unggulan masing-masing. Tetapi, setelah semakin didekati, obrolan mereka ternyata tentang hubungan keluarga di antara mereka. Biasa kita sebut nunduk.

Sedari tadi mereka juga membicarakan kisah kedaluan dan gelarang yang merupakan sistem birokrasi zaman dulu di Manggarai.

Kisah di atas hanya satu dari banyaknya bentuk relasi orang Manggarai membentuk hubungan yang lebih intim dengan sesamanya.

Baca juga: Pentingnya Menghafal Lagu Lawas, agar Tidak Kalah Saing Saat Ikut Pesta di Kampung

Nunduk merupakan kebiasaan yang menjadi kekhasan orang Manggarai dalam berinteraksi.  Nunduk menjadi sarana untuk mencari jejaring hubungan kekeluargaan dalam konteks Manggarai. Orang yang suka nunduk biasanya orang yang punya kecenderungan ingin menambah jaringan keluarga atau jaringan pertemanan.

Kalau Anda, pembaca dari generasi muda, pasti pernah menemukan, mendengar, melihat bapak-ibu kita yang suka sejarah atau nunduk  bila bertemu dengan orang baru. Betapa luar biasanya kita berupaya dan sangat interaktif dengan tujuan bisa mengakrabkan diri dengan orang baru.

Bisa Anda bayangkan, di tempat terjauh pun ata Manggarai pasti punya kewajiban atau skill untuk nunduk dengan orang baru. Bahkan ada orang yang sangat detail menceritakan asal-usulnya dengan sangat luar biasa. 

Atau, kita suka menebak asal-usul seseorang dari bentuk wajahnya. Misalnya, bo eme lelo laku bao main ite ta anak de Kelambuk supek, empo diha Stanis Kucek. Sebuah keramahan level GOAT (great of All Time).

Baca juga: Hal-hal yang Menakjubkan di Kampung

Lain halnya dengan mama-mama yang punya skill nunduk di atas rata-rata. Dia mampu menjadikan sesorang yang baru ditemuinya menjadi keluarganya. Misalnya, bae lite hitu a? Anak rona de endekoe de ema koe de hae kilo de tetangga. Membingungkan bukan?

Seandainya di sebuah tempat atau rumah dipertemukan dua mama-mama jago nunduk. Bisa dibayangkan berapa gelas kopi yang perlu dihabiskan bersamaan dengan alur nunduk yang dibahas. Atau, pembaca bisa berimajinasi ekspresi muka mereka saat nunduk. Sepertinya menarik sekali untuk diikuti akhir dari perbincangan itu.

Pembaca sekalian pasti pernah mendengar dan mengalami momen paling epik yaitu masa-masa menjelang pemilihan umum. Kuota nunduk paling banyak dibeli dan dijual oleh calon penguasa. Mereka semaksimal mungkin membeli nunduk kuota unlimited. Bayangkan selama lima tahun, kita tidak pernah bertemu, bersosialisasi dengan sang calon. Tetapi, tiba-tiba menjelang perhelatan politik, ternyata kita berkeluarga dengan sang calon. Bisa saja kita menjadi anak rona, anak wina, bangkong, wela, dan sebagainya.

Baca juga: Lalong Liba; Kenangan, Pertarungan, dan Air Mata

Di lain hal, nunduk punya fungsi yang luar biasa di dunia asmara. Sebab, dua orang insan yang sedang kasmaran wajib nunduk untuk menghindari peristiwa toe ndoro. Akibat dari peristiwa ini ata Manggarai meyakini akan ada nangki di kemudian hari. Oleh karena itu, pembaca yang sedang pedekate mohon untuk nunduk supaya tidak sia-sia dalam menjaga jodoh orang.

Tetapi, kadang kita juga melihat dan memperhatikan orang-orang yang menyebalkan. Mereka yang kadang membicarakan masa lalu tetapi dengan tujuan untuk sebuah sikap glorifikasi. Ada orang tertentu yang masih suka menceritakan kehebatan masa lalu tetapi bertujuan untuk menghina orang. Padahal manusia itu kodratnya sama. Bapak-bapak ekstremis yang suka menceritakan rang keturunannya zaman dahulu yang sudah tidak relevan lagi.

Dari semua itu, nunduk adalah seperangkat nilai  positif orang Manggarai dalam mengisi dan menyelami nilai-nilai kehidupan. Melalui nunduk kita belajar akan nilai kebesaran dari persaudaran. Selian itu, kekeluargaan orang Manggarai adalah sesuatu yang luhur. Identitas dari mana kita berasal selalu memberikan definisi tersendiri bagi orang  Manggarai tentang dirinya sendiri. *

Oleh Vian Agung, Redaktur Ngkiong

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Google Analytics Stats

generated by GAINWP