Tambang di Tengah Kuasa Kaum Kapitalis

Tambang di Tengah Kuasa Kaum Kapitalis

Ngkiong.com-Indonesia sejak dulu adalah pengekspor terbesar dan banyak mengubah dunia.  Setelah terlepas dari belenggu penjajahan, seluruh kekayaan Indonesia digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat, termasuk tambang  batu bara. Hal ini tertuang dalam Pasal 33 ayat 3 UUD  Negara Republik Indonesia 1945, yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Tambang batu bara merupakan sebuah kebutuhan di tengah era yang serba listrik. Kebutuhan akan  listrik yang tinggi turut meningkatkan taraf penggunaan batu bara sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan listrik negara. Indonesia dengan tingkat kepadatan penduduk ke empat dunia tentu diikuti dengan melonjaknya kebutuhan akan listriknya. Oleh karena itu pemerintah melegalkan sejumlah aktivitas pertambangan di berbagai tempat. Sebagai contoh, pegiat lingkungan menyebutkan bahwa nyaris 1.800 lubang tambang ditemukan di Kalimantan Timur (Kompas, 31/10/19).

Baca juga: Tentang Kita dalam Nunduk

Trendnya, ekosistem bersifat komersial. Oleh karena itu, setiap negara berlomba-lomba meningkatkan ekonominya dengan mengeksploitasi alam secara besar-besaran. Pemerintah berfokus pada peningkatan ekonomi sebagai sebuah hal yang mampu membawa Indonesia pada hal yang lebih baik dan mendapat pengakuan dari negara lain di tengah era globalisasi. Dengan demikian, pemerintah memusatkan perhatiannya pada kondisi ekonomi ketimbang mengevaluasi dampak-dampak tambang yang justru menjadi kesengsaraan bagi rakyat, bukan hanya masyarakat di sekitar areal tambang tetapi juga bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Lalu siapa yang patut disalahkan, masyarakat yang berkebutuhan listrik tinggi atau perusahaan tambang. Hal inilah yang patut dipertanyakan, apakah pemanfaatan sumber daya alam khususnya batu bara ini betul-betul untuk memenuhi kebutuhan rakyat, atau ada alasan lain di  balik itu. Ada apa di balik tambang?

Tambang, khususnya batu bara, tak hanya memenuhi kebutuhan listrik masyarakat tetapi juga melahirkan ketimpangan dan kesengsaraan bagi masyarakat tertentu. Sebagai contoh, dari 1.800 lubang tambang di Kalimantan Timur, 1.735 di antarannya dibiarkan menganga (tanpa reklamasi) sementara pemerintah mengklaim hanya menemukan 500 lubang tambang (Kompas, 31/10/19).

Aktivitas tambang semacam ini tentunya melahirkan kerusakan terutama kerusakan ekologi. Perlu diketahui bahwa, ada empat hal yang paling penting dalam kehidupan manusia, yaitu tanah, air, pohon/kayu, dan gas.

Baca juga: Hal-hal yang Menakjubkan di Kampung

Dampak dari tambang, seperti yang dimuat dalam film Sexy Killers merupakan pelesetan dari ke empat unsur tersebut sehingga menimbulkan penurunan tanah yang berakibat pada retak hingga runtuhnya rumah-rumah penduduk di sekitar areal tambang.

Tak hanya itu, aktivitas tambang tanpa reklamasi juga menimbulkan kekeringan serta berkurangnya pasokan air bersih. Derita kekeringan ini membuat warga terpaksa mengonsumsi air keruh yang tentunya berakibat buruk bagi kesehatan. Selain itu, kekeringan berdampak juga terhadap hasil panen. Kekurangan air membuat tanaman menjadi kurang produktif. Kekurangan hasil panen ini dapat diakibatkan juga oleh karena kehilangan lahan sebab lahan dialihfungsikan sebagai areal tambang.

Aktivitas tambang yang tidak bertanggungjawab juga dapat mengakibatkan kematian. Dilansir dari Kompas, 36 orang meninggal di bekas galian tambang di Kalimantan Timur sejak tahun 2011 dan sebagian besar korban merupakan anak-anak. Mirisnya pemerintah hanya memberikan tanggapan alakadar untuk menyikapi hal tersebut. Pemerintah hanya akan mengatakan bahwa memang sudah ajalnya seseorang mati di bekas galian tambang.

Minimnya peran pemerintah serta penegakan hukum jelas menjadi pendorong yang cukup kuat bagi dilakukannya aktivitas tambang serta segala ketimpangannya. Contohnya pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan perkebunan dan pertambangan di Kalimantan Tengah (Kompas, 31/05/11).

Pertumbuhan ekonomi yang ditawarkan perusahaan tambang serta segala sesatu dibaliknya menghalaukan pandangan pemerintah terhadap masyarakat kecil yang menderita dibalik adanya aktivitas tambang. Kenapa demikian? Pelegalan sejumlah aktivitas tambang oleh pemerintah tentu dengan alasan demi peningkatan pendapatan ekonomi Indonesia. Dengan demikian, pemakaian uang untuk adanya reklamasi menjadi sebuah hal  yang cukup sulit.

Baca juga: Pentingnya Menghafal Lagu Lawas, agar Tidak Kalah Saing Saat Ikut Pesta di Kampung

Tak dapat dimungkiri, cukup besar lahan yang tidak direklamasi yang merupakan bekas galian tambang. Sebut saja 1.735 lubang tambang di Kalimantan Timur yang dibiarkan menganga oleh perusahaan-perusahaan tambang. Tentu jumlah tersebut bukan jumlah yang kecil dan tentunya pula lubang tambang yang sedemikian memakan lahan yang sangat besar pula.

Indonesia yang sedang dikuasai oleh kaum kapitalis menjadi wilayah yang cocok untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Kenapa penulis mengatakan demikian? Karena kita dapat melihat sendiri bagaimana  peran atau intervensi pemerintah (serta hukum yang entah di dalamnya terdapat praktik jual-beli hukum) dalam mengatasi ketimpangan ini cukup minim.

Minimnya intervensi tersebut bukan karena Indonesia menganut sistem ekonomi liberal namun karena pemerintah dan kroni-kroninya yang adalah pengusaha sendiri yang secara implisit mengadakan praktik ekonomi liberal di Indonesia yang menganut sistem ekonomi Pancasila.

Sebagai contoh adalah tanggapan gubenur Kalimantan Timur dalam menyikapi kematian 30 orang yang mati tenggelam di bekas galian tambang. Ia menyatakan bahwa itu sudah menjadi nasib seseorang mati tenggelam di bekas galian tambang (terungkap dalam sebuah film dokumenter Sexy Killers). Indonesia di tengah berkuasanya kaum kapitalis memang terkesan cukup mampu meningkatkan ekonominyanamun menjadi sebuah ancaman yang terbilang sangat berbahaya bagi kondisi ekologi dan terutama masyarakat-masyarakat kecil yang selalu tidak didengarkan suaranya.

Penulis: Emilianus Dani, siswa kelas XII program Sains di SMAS Seminari Pius XII Kisol

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Google Analytics Stats

generated by GAINWP