Sumur: Kritik Sosial dan Refleksi Ekologis

Sumur: Kritik Sosial dan Refleksi Ekologis
Foto: Gremedia.com

Ngkiong.com – Kehidupan manusia tidak terlepas dari peran alam yang berada di sekitarnya. Alam menjadi sumber kehidupan bagi manusia melalui manfaatnya yang amat berlimpah. Manfaat tersebut tampak jelas dalam pemenuhan pelbagai kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, bahkan oksigen sebagai unsur mutlak yang diperlukan manusia.

Singkatnya, alam menyediakan sumber daya yang dibutuhkan dan dihasilkan tanpa campur tangan manusia untuk mendapatkan nilai gunanya. Lantas, apakah manusia juga berperan demikian, sebagai sahabat pencinta alam? Atau justru sebaliknya, berlaku sebagai komunitas destruktif ekologis?  

Tak pelak, realitas kehidupan menampilkan, tidak sedikit perilaku manusia justru menjurus pada penyimpangan ekologis yang perlu mendapat porsi lebih untuk direfleksikan. Sebagai contoh, menurut Forest Watch Indonesia (dalam Muthmainnah, 2020: 58),  pada era Reformasi, angka deforestasi masih sangat tinggi, yaitu 3,52 juta hektar/tahun pada periode 1997-2000; dan 1,09 juta hektar/tahun pada tahun 2014-2015. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai penyumbang emisi gas karbon terbesar keenam di dunia.

Mencermati persoalan serupa yang kerap terjadi, kritik sosial acap kali muncul dari pihak-pihak tertentu  sebagai tanggapan kritis atas masalah sosial yang terjadi. Tujuannya yaitu memperbaiki tatanan sosial yang sedang bermasalah.

Kritik sosial dapat tersalur melalui cerita pendek (baca: cerpen) sebagai bentuk kepekaan akan realitas yang kian mencemaskan. Salah satu cerpen yang menarik perhatian penulis berjudul Sumur. Sumur adalah buku cerpen karangan Eka Kurniawan, nomine Man Booker International Prize 2016 dan peraih Prince Claus Laureate 2018. Cerpen ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris yang termuat dalam antologi Tales of Two Planets dengan judul “The Wel”, diterbitkan oleh Penguin Books pada 2021.

Sumur awalnya bertutur perihal kedekatan antara dua tokoh sentral, yaitu Toyib dan Siti, bahkan keduanya dikisahkan saling menyukai semenjak kecil. Akan tetapi, hubungan keduanya mulai renggang tatkala ayah mereka  berseteru memperebutkan mata air. Alhasil, ayah Siti meninggal tersabit parang dengan usus terburai, sedangkan ayah Toyib suka tak suka harus menelan pil pahit di jeruji besi. Perseteruan antarkeduanya disebabkan akibat kekeringan berkepanjangan sebagai bentuk perubahan iklim.

Perubahan iklim sebagai masalah lingkungan menjadi nada dasar dalam cerpen tersebut. Masalah tersebut bahkan menjadi biang bagi sejumlah persoalan sosial lainnya yang muncul dalam cerita, seperti kejahatan,disorganisasi keluarga, kemiskinan, dan lain sebagainya. Namun, tulisan ini lebih fokus pada permasalahan lingkungan. Kutipan permasalahan lingkungan dalam cerpen tersebut sebagai berikut.

Baca juga:Berharap Jadi Aktivis Biar Bisa Idealis

“Dari mata air itu menjulur parit yang kemudian bercabang dua. Keduanya mengalir menuju dua hamparan sawah yang dibelah oleh perkampungan. Di masa lalu, anak-anak berenang di parit itu dengan arus yang tak pernah berhenti. Para lelaki dewasa mencari ikan di ceruk-ceruk kecil, utamanya belut dan lele. Para perempuan memunguti remis, sejenis kerang kecil yang ketika dimakan, membuat anak-anak tumbuh sehat.” (Kurniawan, 2021: 3).

Itu dulu. Di tahun-tahun belakangan mereka melihat mata air sering menjadi hamparan lumpur. Hujan jarang datang dan kemarau memanjang hingga sebelas bulan dalam satu tahun. Tentu saja hanya sedikit air yang mengalir ke parit, dan lebih sedikit yang diperoleh petak-petak sawah. Air yang sedikit itu harus dibagi-bagi, dan di percabangan parit, mereka memasang pintu air.” (Kurniawan, 2021: 4).

Dari kedua kutipan tersebut, Eka menampilkan dualisme perbandingan  kondisi alam di suatu perkampungan. Dalam kutipan pertama, ia memberikan gambaran tentang kondisi perkampungan yang begitu makmur dengan segala kekayaan alam yang ada. Kondisi alam yang subur itu membuat kehidupan masyarakat lebih harmonis dan menjanjikan keberlangsungan hidup mereka. Namun, dalam kutipan kedua, ia secara gamblang menampilkan kondisi alam yang berbeda. Kondisi tersebut berupa perubahan iklim yang ganas dan ditandai oleh kekeringan berkepanjangan hampir setahun.

Hemat penulis, masalah lingkungan yang timbul tidak terlepas dari ulah manusia sendiri yang dapat dikategorikan ke dalam masalah kejahatan. Masalah kejahatan yang perlu mendapatkan perhatian dewasa ini yaitu whitecollour crime, yang merupakan kejahatan yang dilakukan oleh pengusaha atau para pejabat dalam menjalankan peran dan fungsinya. Bentuk kejahatan serupa juga terdapat dalam cerpen Sumur. Kutipan yang mendukung pernyataan tersebut sebagai berikut.

“Tak banyak yang berubah dari perkampungan itu. Mata air tak juga kembali. Kemarau lebih panjang dari musim penghujan yang sesingkat hidup bunga malam. Bebukitan tak hanya semakin cokelat, tapi juga semakin gersang. Para cukong datang dan membujuk para penduduk kampung menjual kayu-kayu yang tersisa, dan berarti uang yang mudah didapat. Pohon-pohon menghilang, dan itu membuat air semakin sulit, pohon-pohon semakin enggan bertunas. Tak seorang pun termasuk Toyib mengerti bagaimana memotong lingkaran itu, hingga akhirnya tak ada lagi yang bertanya.” (Kurniawan, 2021: 34).

Kutipan tersebut menampilkan kolaborasi tak sedap antara para cukong atau pengusaha dan penduduk kampung. Para cukong melegalkan pelbagai cara demi memaksimalkan laba yang ingin diperoleh dalam usaha  mereka. Praktik tersebut tentu menjadi bagian integral dari logika destruktif kapitalisme yang menganggap alam dan sumber daya yang disediakannya hanya sebagai bahan baku yang penting bagi produksi komoditas yang bernilai tukar tinggi.

Para cukong tersebut digerakan oleh rasionalitas ekonomis yang tinggi sehingga tak salah bila krisis ekologis yang terjadi menjadi bukti tamaknya kapitalisme atas alam. Almira Mujacic dan Amra Nuhanovic  (Mujacic dan Nuhanovic, 2013: 29-30), bahkan meramalkan bahwa pada tahun-tahun mendatang perubahan iklim karena kegagalan ekonomi kapitalis akan semakin parah terutama tampak pada menurunnya produksi pertanian yang mencapai 50 %, munculnya berbagai penyakit, kelangkaan air, suhu udara yang tinggi karena efek rumah kaca, kekurangan gizi yang kronis, hujan asam, dan lain sebagainya. Ramalan ini pun secara perlahan mulai dirasakan dewasa ini.

Selain itu, kritikan juga ditujukan kepada penduduk kampung yang kurang kritis dan minim kepekaan terhadap alam. Alhasil, pemilik modal menikmati keuntungan sebesar-besarnya, sedangkan penduduk miskin yang  dieksploitasi demi keuntungan mereka mengalami penderitaan hebat dan berkepanjangan.

Hal tersebut relevan dengan pernyataan  Yonghong Zhang dalam Journal of Sustainable Society yang sangat empatik menulis “Di seluruh dunia orang-orang miskinlah yang paling banyak meninggal karena polusi dan menjadi korban terbesar dari kehancuran dunia alamiah… . Negara-negara dunia ketiga adalah pelabuhan-pelabuhan polusi (pollution havens)”. Sungguh miris jika hanya menjadi budak serentak penonton kesuksesan orang lain di tanah leluhur sendiri

Baca juga: Permata di Pinggiran Kota Ruteng

Cerpen tersebut membawa kesan tersendiri dalam diri penulis. Penulis merasa  beruntung karena bisa membaca dan menikmati cerpen yang mengangkat isu krusial dan kaya akan nilai-nilai kehidupan. Cerpen Sumur yang dirangkai begitu menarik menjadi momen refleksi ekologis atas perubahan iklim yang tak menentu saat ini. Refleksi yang dibangun bukan hanya sekadar pemeriksaan diri sejauh mana setiap insan bersimpati terhadap alam, melainkan juga perlu adanya aksi konkret berupa gerakan pertobatan ekologis untuk merawat alam.

Pertobatan ekologis sejatinya dimulai dengan perubahan pola pikir. Pola pikir tersebut mencerminkan kesadaran ekologis sebagai suatu cara berpikir yang senantiasa menjaga kesatuan manusia dengan alam. Manusia adalah bagian dari alam, atau menurut Marx, alam adalah tubuh anorganik manusia, sehingga relasi alam dengan manusia tidak lain adalah relasi alam dengan dirinya sendiri. Jika demikian, manusia harus menaruh hormat terhadap alam dengan merawat dan menjaga kelestariannya.

Di samping itu, meningkatkan daya kritis serta membangun kekuatan lokal dibutuhkan agar dapat melawan karakter ekspansif dan eksploitatif kapitalisme atas alam. Kekuatan lokal tidak lain terbentuk akibat kesadaran kolektif akan pembangunan kapitalistik yang alih-alih mengatasnamakan kemajuan peradaban, tapi justru menyingkirkan masyarakat dari kehidupan bersama. Jika kekayaan alam diisap tanpa ampun, maka yang terjadi bukan sebatas krisis ekologis, melainkan juga krisis peradaban.  Singkatnya, keberadaan peradaban manusia saat ini dan masa mendatang tergantung pada sejauh mana alam dilestarikan dan dirawat. 

Penulis: Fridolin Budiman Darmiyanto

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP