Sopi

Sopi
Image: Ilustrasi LexMedica News

Ngkiong-Sopi merupakan minuman tradisional masyarakat Manggarai. Ia sudah ada sejak lama dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. Sopi sudah ada sejak zaman Firaun dan zamannya Yesus. Bahkan dalam Yohanes 2:1-11 dikisahkan bahwa mukjizat pertama Yesus tidak main-main: ubah air menjadi anggur (sopi). Luar biasa; ini kabar sukacita bagi segenap penikmat sopi.

Dalam injil dikisahkan bahwa pada saat pesta di Kana stok anggurnya tuan pesta habis. Tanta Maria minta diap anak Yesus untuk “buat sesuatu” supaya ada anggur. Masih menjadi misteri teologis: apakah Yesus ubah itu air jadi anggur karena DIA seorang peminum atau karena DIA tidak enakan dengan DIA punya mama? Kita tidak tahu. Melalui tulisan ini, penulis tidak bermaksud memberikan penjelasan secara biblis karena bukan seorang teolog.

Secara ekonomi dan kultural, sopi mempunyai peranan yang sangat penting. Secara ekonomi, orang bisa menghidupi keluarganya dengan berjualan sopi. Banyak anak juga bisa menyelesaikan pendidikan karena orang tuanya bekerja sebagai pembuat sopi atau penjual sopi. Omset usaha sopi menjanjikan. Pembuat  dan penjual sopi jarang sepi pelanggan, apalagi kalo sopinya enak.

Baca juga: Romansa Mantan Anak Kos

Dalam konteks budaya Manggarai, sopi menjadi salah satu komponen krusial. Ia selalu ada dalam banyak hal: tuak curu, masuk minta, teing hang, ngo sida, dan lain sebagainya. Pada budaya tuak curu misalnya, secara simbolik tuak a.k.a sopi menjadi lambang kehormatan. Budaya ini menjadi simbol penerimaan dan penghormatan kepada tamu yang datang.

Di Manggarai, jika yang datang dianggap sebagai tamu kehormatan, maka ia diterima dengan minuman kehormatan; oleh sopi, bukan jas jus, floridina, coca-cola, apalagi ale-ale beku. Baru-baru pas Kaka Victor Laiskodat datang ke Manggarai, ia diterima dengan sopi melalui momen tuak curu. Kalo saja tempo hari panitia nekat terima pake ale-ale beku, bapa tua bisa saja suruh mereka push up, ajak tinju (macam dengan Chris Jhon), atau tendang mereka ke laut.

Terlepas dari hal tersebut, sopi juga punya pengaruh buruk. Sopi menjadi salah satu pemicu konflik dalam rumah tangga. Tidak sedikit bapa-bapa di Manggarai yang pukul istri karena mabuk. Kalo mabuk pikiran tidak bisa berjalan dengan baik; efeknya tangan bekerja lebih cepat dari otak. Ketika mabuk, itu bapa-bapa lupa bahwa dulu dia kejar seorang nona dan ambil hati calon bapa mantunya lewat sopi serta rokok (di samping hati calon mama mantu lewat sirih pinang alias cepa).

Baca juga: Peran Orang Tua dalam Pembelajaran dari Rumah

Kasus di pesta-pesta juga seringkali dipicu oleh sopi. Biasanya pukul sebelas malam ke atas adalah waktu yang cukup rawan. Di waktu-waktu seperti ini biasanya sopi sudah naik, pandangan agak kabur, jadi lebih sensitif, dan mental jagoan sudah muncul. Kalo sudah mabuk dan orang senggol sedikit pas goyang Kaka Enda, langsung baku hajar; orang senyum sedikit dengan timi target, buka dada dan kawe pe’ang; orang yang lewat depan kursi tidak tegur dan permisi, langsung tantang duel, dan lain sebagainya.

Di sisi lain kebiasaan minum sopi yang berlebihan baik dari segi jumlah maupun frekuensi juga memicu lahirnya beberapa penyakit. Lambung, hati, dan ginjal adalah komponen yang paling rawan. Efek dari minum secara berlebihan biasanya muncul saat memasuki usia-usia senja. Banyak golongan tua yang biasa pukul dada sebagai peminum hebat di masa mudanya sering kali keok dan keluar masuk rumah sakit secara berkala.

Penulis mengamati, bahwa fenomena yang biasa terjadi setelah minum sopi ialah orang akan jadi jomel, mental jadi bagus, dan jadi lebih bijak. Beberapa kawan yang pendiam, biasanya jadi lebih banyak omong kalo sudah minum beberapa putaran. Penulis seringkali menemui tipe orang semacam ini di pesta. Dari tidak saling kenal, tiba-tiba datang, baku tos dan peluk lalu tiba-tiba omong banyak hal.

Sopi bisa buat mentalnya orang jadi bagus. Terkadang, beberapa orang perlu sopi untuk bisa punya mental tampil depan orang banyak. Ada orang yang harus minum dulu baru punya nyali dan bisa omong depan umum. Penulis punya kenalan yang tidak bisa nyanyi depan umum kecuali kalo sudah minum sopi. Ada juga beberapa teman yang bisa ungkap perasaan pas sudah mabuk. Pada sloki ke sekian tiba-tiba jadi puitis lalu kirim puisi. Tipe semacam ini kalo ditolak gampang ngelesnya: “Maaf enu, tadi malam saya mabuk!”.

Baca juga: Tak Perlu Malu untuk Menulis Sesuatu

Ada juga tipe orang yang jadi bijak kalo lagi mabuk. Beberapa orang biasanya menjadikan sopi sebagai pelarian di kala stres. Pada momen putus cinta misalnya, tidak jarang beberapa orang menjadikan sopi sebagai obat penenang.

Suatu ketika seorang kawan, sebut saja AJ pernah mengajak penulis ke rumahnya. Tumben malam itu ia menyiapkan sopi. Awalnya kami ngobrol biasa. Entah mengapa, pada gelas ke sekian ia mulai curhat, bernostalgia tentang kenangan dan masa-masa indahnya. Lalu pada putaran-putaran ke sekian, ketika sopi makin menipis ia jadi lebih dewasa dan memandang momen patah hatinya dari banyak sudut. Makin banyak putaran, makin bijak dan cerdas. Luar biasa!

Entah bagaimana refleksi terkait dinamika dan fenomena akibat sopi membawa penulis pada suatu permenungan: segala sesuatu yang kurang atau berlebihan itu tidak baik. Sifat baik, kewaspadaan, pola makan, pola istirahat, porsi kerja, perasaan, dan lain sebagainya yang kurang atau berlebihan itu tidak baik. Segala sesuatu harus proporsional.

Tubuh manusia misalnya: kekurangan dan kelebihan zat-zat penting dalam tubuh itu tidak baik. Banyak kematian terjadi di negara-negara miskin karena kekurangan makanan dan zat gizi dalam tubuh. Sebaliknya, banyak juga kematian dan  orang yang nyawanya terancam karena kolesterol atau pun obesitas; karena pola makan dan kandungan zat yang berlebihan.

Alkohol (sopi) juga demikian. Kita perlu mengatur takarannya, biar tidak bikin kaco dan tidak sakit. Kalo bikin kaco karena sopi, urusannya panjang bisa sampe ke sel. Kalo kau sakit karena sopi, itu juga repot apalagi kalo kau seorang jomblo dan tidak ada yang rawat. Bahwa kemudian ada di antara pembaca yang bisa jadian karena minum sopi lalu tiba-tiba puitis dan berani ungkap, segenap Tim Redaksi Ngkiong.com mengucapkan selamat!

Akhir kata, kita sepakat e teman-teman em: mabuklah secara wajar dan jangan mabuk agama!

*Cheerrsss. . .

Ichan Lagur, Redaktur Ngkiong

diap= dia punya

kalo= kalau

timi=Pacar

masuk minta= lamaran

tuak curu= ritual penyambutan tamu terhormat

teing hang= ritual pemberian makan jiwa/roh leluhur

ngo sida= permintaan bantuan dari anak Rona (wife giver) kepada anak Wina (wife receiver) untuk memenuhi urusan adat.

pake= pakai

kawe peang= cari di luar

kaco= kacau

jomel= ramah

enu= panggilan khas untuk perempuan

Bagikan Artikel ini

One thought on “Sopi

  1. Reply
    Edi Sugiarto
    02/06/2021 at 11:43 pm

    Mantap pak guru muda,terus semangat dalam menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP