Cerita Seorang Penggemar Sepak Bola

Cerita Seorang Penggemar Sepak Bola

Ngkiong.com-Sepak bola menjadi olahraga dan hiburan dengan penggemar paling banyak di planet ini.Tentu, pendapat ini bisa diterima dengan kenyataan yang telah dilihat dan dialami selama ini. Sebagian besar dari kita pasti pernah mendribel, memegang, dan menendang bola di lapangan atau di kelas ketika guru tidak masuk kelas. Atau teman SMP saya harus menggunakan bola deodoran sebagai pengganti bola sepak, dengan perhitungan meningkatkan skill dribel dan menggocek lawan.

Setiap perhelatan besar seperti UEFA Champions League, EURO, atau World Cup, kita menyaksikan betapa berkualitasnya komentator bola di layar kaca. Ada orang berkomentar bahwa seseorang jago omong bola, tetapi tidak bisa main bola. Misalnya saja, sebagai penggemar sepakbola, hal terkecil sampai terberat tentang bola sepak kurang lebih banyak yang tahu. Teori tentang luas dan lebar lapangan tentu sudah dipelajari dalam mata pelajaran PJOK kelas VIII SMP. Istilah teknis tentang sepakbola seperti gaya permainan melebar, gaya kick and rush, jogo bonito-nya Brazil,  sampai tiki-taka menjadi informasi umum yang harus diketahui oleh penggemar bola.

Beberapa tahun terkahir, -tentu sebelum saya melanjutkan tulisan ini pembaca pasti sudah menebak bahwa saya akan membahas persaingan panjang Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Kalau pun tidak, baguslah. Yang pasti jika Anda sebagai penggemar bola sepak di bawah tahun 2010 pasti punya preferensi selain klub yang dibela CR7 dan Lionel Messi.

Penggemar sepak bola era lama punya pandangan yang sedikit berhaluan romantik. Mereka akan menceritakan kekuatan liga Italia yang berhasil mendominasi Eropa. Saya juga hanya tahu akan kehebatan Maldini dan Nesta mengawal lini pertahanan Italia dan AC Milan.

Baca juga: Lambu

Beberapa orang tentu punya sisi sejarah tersendiri sehingga menjadi penggemar bola sepak. Misalnya, seorang bapak-bapak ketika pertama kali membeli TV di tahun 2007 langsung menyukai sosok Cristiano Ronaldo saat MU membantai AS Roma di perempat final liga chanpions Eropa. Beliau bersama tetangga sangat antusias menyaksikan pertandingan tersebut atas saran Om Binus yang  menjadi tenaga profesional pemasang antena parabola waktu itu. Atau, beberapa anak asrama di pertengahan tahun 2009 mulai mengagumi Messi dan Barcelona hanya karena ikut-ikutan anak asrama lainnya menyaksikan final liga champions kala itu yang dimenangkan oleh Barcelona.

Atau, sejak Manchester City menjadi klub kaya raya, fansnya pun ternyata ada. Meskipun mereka sering dicap anak bawang karena menjadi pengggemar klub yang baru muncul. Bisa jadi mereka adalah orang yang yakin akan masa depan, karena tidak ada hal yang dibanggakan pada masa lalu.

Di sosial media pun bisa disaksikan betapa dinamisnya para penggemar bola meng-counter setiap berita yang ada tentang klub yang digemari. Salah satu contoh menyedihkan yang bisa diangkat tentu saja penggemar Arsenal yang sering di-bully karena klub kebanggaan mereka yang belakangan sering tampil lucu-lucuan.

Baca juga: Toe Manga Isung; Sebuah Basa-Basi Sosiolinguistik

Hal lain yang menarik dari penggemar bola sepak adalah adanya kelompok karbitan yang bisa menjadi penggemar semua klub. Bisa jadi minggu ini menjadi pengggemar MU, bulan depan jadi pengemar Everton, bisa jadi tiga bulan depannya lagi jadi pengemar Huddersfield Town. Bisa jadi sesekali mereka jadi penggemar klub liga tiga Peru. Tergantung pasang surutnya tim.

Dari semua itu  perseteruan pendukung Messi dan Cristiano Ronaldo sejak tahun 2009 menjadi salah satu pusat perhatian, selain kebencian pendukung Barcelona kepada Luis Figo di era sebelumnya. Kita semua sepakat bahwa dominasi kedua pesekbola handal ini telah menjadi sorotan penggemar bola di seluruh dunia. Kebetulan membahas siapa yang terbaik dari keduanya bisa jadi akan berdampak buruk bagi penulis. Skip.

Seorang teman punya pengalaman cukup unik. Menurutnya, menjadi penggemar sepakbola memudahkan kita dalam menguasai salah satu materi geografi. Menurutnya kita tidak perlu bersusah payah menghafal negara-negara di belahan dunia ini, tetapi cukup dengan menonton pertandingan dan berita sepakbola.

Bayangkan, menonton turnamen Copa Amerika telah membantu kita mengetahui negara-negara Amerika Latin beserta ibu kotanya. Misalnya, negara Cile (Chile, Cili, atau Chili) dengan ibu kotanya Santiago yang menjadi asal negaranya Alexis Sanches dan Arturo Vidal bisa dengan mudah diketahui karena sering menonton pertandingan dan berita sepak bola di televisi.  Atau negara Slovakia bisa menjadi pengetahuan umum karena pesepak bola Marek Hamsik yang pernah membela Napoli.

Selain itu, negara seperti Aljazair, Mesir, dan Maroko yang berlokasi di Afrika Utara bisa kita ketahuai melalui pemain-pemain seperti Riyad Mahrez, Muhamed Salah, Hakim Ziyech, dan Hakimi. Atau negara kita pernah dijajah oleh Belanda cukup lama yang memiliki klub terkenal seperti Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven, dan FC Utrrecht.

Baca juga: Mie; Kuliner Legend Rasa Kelas Sosial

Tentu contoh macam ini tidak terlalu penting jika mengacu pada tuntutan zaman sekarang yang mengharuskan orang berpikir kritis. Kalau kata teman saya yang menjadi guru Seni Budaya, siswa harus dilatih dengan high order thinking skill (HOTS). Jadi, kata kerja operasional seperti mengetahui ada di level satu. Tetapi, setidaknya kita harus mengetahui agar bisa memahami. Ah sudahlah, kenapa membahas soal HOTS pas omong bola sepak?

Ada lagi orang-orang yang dulu rela mengambil koran di ruang pembina hanya di bagian halaman olahraga. Dengan syarat, sang pembina pun sudah membaca di halaman yang sama. Biasanya, beliau sangat peduli dengan klasemen tiap pekan di masing-masing liga. Di era itu hanya ada Flores Pos, Pos Kupang, dan kebetulan ada Kompas. Jadi, tersirat minat baca juga mulai dipupuk.

Oh ya, sebelum saya menutup tulisan ini, saya ingin membagikan prestasi terbaik saya di bidang sepak bola. Saya pernah mengisi pos penjaga gawang karena kebetulan jumlah anggota kelas kami sebelas orang. Catatan terbaik saya adalah menepis tendangan pinalti pada pertandingan penyisihan grup turnamen kenaikan kelas. Pada saat itu, kebetulan lompatan saya tepat dengan arah bola. Jadi hanya kebetulan, bukan meniru david De Gea. Glory Man United!

Penulis: Vian Agung, Redaktur Ngkiong.com.

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP