Romansa Mantan Anak Kos

Romansa Mantan Anak Kos
Foto: Ilustrasi Popbela.com

Ngkiong.com-Kos adalah infrastruktur yang menjadi salah satu  penyangga bagi tercapainya beberapa harapan yang ditanamkan oleh anak manusia akan kehidupan yang lebih baik. Ia tak sekadar ruang berukuran tertentu yang berfungsi sebagai tempat berteduh dan berbagi. Lebih dari itu, kos merupakan rubrik sederhana dengan kumpulan ingatan yang terus dipelihara oleh setiap insan yang mendiaminya. Cerita tentangnya selalu mengalami perubahan terus menerus.

Pemilik kos biasanya hanya memahami dan memanfaatkan sebagai ladang bisnis. Mereka jarang menyadari bahwa kos telah menjadi medium bagi terciptanya proses sosial dan terbentuknya pola perilaku orang-orang yang mengalami perubahan terus menerus. Tentu mereka tidak percaya bahwa pemilik kos telah membantu menjembatani peradaban manusia. Pemilik kos adalah salah satu basis dasar bagi terciptanya perubahan sosial (apa-apaan ini? Macam teorinya bapa kecil saya, Karl Marx ya). Ah sudahlah!

Menjadi anak kos, terlebih di kota Ruteng telah memberikan banyak pelajaran bagi saya dan beberapa teman selama mengemban tugas menjadi mahasiswa di salah satu kampus swasta di kota itu.

Baca juga: Peran Orang Tua dalam Pembelajaran dari Rumah

Ruteng, kota kecil dan sederhana yang masih terus berbenah mencari bentuk terbaik sebagai sebuah rumah yang ramah bagi setiap anak yang ingin berteduh, selalu tenang ketika riak-riak datang di beberapa kota lainnya. Ia sering disapa kota molas, selalu menarik perhatian. Orang datang dan pergi membangun kemegahan ceritanya sendiri bagi anak-anaknya yang disaksikan perisai kota.

Pertautan diri dengan dinginnya Ruteng telah memberikan satu bentuk pembelajaran diri. Kompleksitas yang diberikan oleh kota kecil itu sedikit membentuk romansa ketika sudah tak berada di kota itu lagi. Meski tak semodern kota metropolitan, Ruteng tetap simbol sebuah kesungguhan akan sebuah arti kenyamanan, tidak seperti mantanmu.

Anak kos dengan bermacam-macam persoalannya; mabuk-mabukkan, penggrebekan, dan masih banyak citra yang dicerminkan oleh headline media masih memiliki banyak kisah yang perlu menjadi nostalgia.

Sebagai orang yang datang dari kampung yang cukup udik tapi bukan kampungan, mandiri menjadi satu kata penguat untuk menjalani hidup sebagai anak kos yang cukup profesional. Tentu, saya dan beberapa anak kos tak sehebat para pujangga. Kami hanyalah seonggok daging yang sama juga dengan para hartawan ingin meraih masa depan, termasuk membangun masa depan bersama kamu.

Baca juga: Cinta Tak Pernah Salah

Dan perlu diingat, kami bangga menjadi bagian dari kota kecil ini dengan semua kebaikan dan keburukannya, kehangatan dan keegoisannya, keengganan dan inisiatifnya. Kami pun selalu berharap agar kota kecil ini selalu teduh. Agar setiap yang beranjak darinya akan selalu merindukan kehangatan yang dimilikinya. Seperti seorang anak yang rindu akan hangat dekapan ibunya.

Seingat saya, beberapa persoalan sosial yang melibatkan anak kos telah melambungkan citra tak enak anak kos ketimbang beberapa hal baik yang hanya menjadi remah di headline media.

Dari semua itu, cerita kehidupan anak kos pria selalu menjadi romansa tersendiri. Seorang teman, pernah menceritakan pada saya tentang kebiasaan mereka makan nasi tanpa sayur, atau tak makan karena sibuk stalking anak baru di kos tersebut. Katanya juga, mereka sering membeli tahu isi sebagai lauk favorit saat makan pagi, siang dan malam.

Atau problematika percintaan anak kos yang tak pernah bersahabat dalam membangun hubungan asmara. Selalu bertemu dengan yang salah alias jaga orang pu jodoh.

Baca juga: Memetik Pesan Sejarah dalam Cerpen “Salamah dan Malam yang Tak Terlupakan” Karya Lilik HS

Pada hakikatnya, orang dewasa tidak suka diatur kehidupan pribadinya. Beberapa orang suka dengan prinsip itu, termasuk pemilihan kos. Bagi beberapa orang mindset itu bermasalah, dan mereka pun menyadari hal itu. Tetapi, bukankah orang dewasa adalah orang yang bisa membendung gelombang.  Bukankah kesalahan bisa menjadi sebuah peluang bagi kita untuk terus berbenah.

Ada teman yang menetap di sebuah kos yang memiliki aturan yang jelas alias ketat. Teman yang lainnya menimpal kos yang ketat itu memangnya baju.

Menjalani hidup di kos-kosan selalu berkaitan dengan kelas sosial. Tidak banyak ditemukan orang dengan kemampuan ekonomi mumpuni sengaja hidup di kos. Kecuali beberapa di antaranya yang menempuh pendidikan, tetapi di kota ini sebagian besar yang hidup di kos adalah sesama saudaraku yang memiliki keterbatasan ekonomi, berteduh untuk sebuah cita-cita akan masa depan.

Di atas semua itu, kos adalah sebuah simbol bahwa segala sesuatu tak ada yang benar-benar menetap dan abadi. Semua orang akan datang dan pergi, menulis cerita hidupnya yang beriringan dalam ruang dan waktu. Hikmah akan setiap persinggahan adalah puncak bagi manusia untuk terus memahami itu.

Oleh Vian Agung, Redaktur Ngkiong.com

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP