Penyesalan Mantan Mahasiswa Kupu-kupu

Penyesalan Mantan Mahasiswa Kupu-kupu

ngkiong.com – Mahasiswa merupakan kelompok sosial terkemuka di negeri ini. Keberadaannya menjadi urgen bagi masyarakatnya hidup. Mahasiswa dalam sejarah bangsa ini telah memberikan sumbangsih yang cukup prestisius bagi perkembangan dan kemajuan di bidang sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya. Mulai dari zaman sebelum kemerdekaan hingga kisah protes RUU PKS.

Mahasiswa menjadi poin penting dari setiap upaya peradaban. Di dalam sejarahnya mahasiswa juga dihadapkan pada kondisi zaman yang terus berubah. Mahasiswa menjadi kelompok yang harus selalu relevan dengan kondisi sosialnya hidup. Ia menjadi pion yang menghadirkan kehidupan yang ideal dengan menghubungkan teori dan kenyataan.

Ketika mengemban status dan tugas sebagai mahasiswa (beberapa tahun lalu), saya dihadapkan pada pengelompokan mahasiswa yang sering disampaikan oleh senior dan tatkala mengalami langsung ketika bergelut dalam dunia perkuliahan.

“Mahasiswa dalam sejarah bangsa ini telah memberikan sumbangsih yang cukup prestisius bagi perkembangan dan kemajuan di bidang sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya,”

Baca Juga: Perjalanan ke Yogyakarta: Sebuah Catatan

Pengelompokkan tersebut diantaranya mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan intra dan ekstra kampus atau sering disebut mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat) dan mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang).

Saat menjadi mahasiswa saya masuk dalam tipe kedua atau mahasiswa kupu-kupu. Teknik memimpin rapat, interupsi, AD/ART organisasi dan sebagainya merupakan kosa kata asing bagi saya. Tak seperti mahasiswa aktivis yang sering peka pada realitas sosial, saya dan beberapa teman selalu merasa tak relevan dengan segala peristiwa sosial yang terjadi. Bahkan, merasa tak bangga dengan status mahasiswa yang sedang diemban.

Jika memperhatikan pola pengembangan diri dalam lingkup organisasi banyak hal positif yang ditempa. Diantaranya keterampilan berbicara, menulis, memimpin, dipimpin, dan masih banyak hal lain yang dijalankan. Satu hal yang gratis dan jarang ditemukan di ruang kuliah.

Ketika sedang berkumpul dengan teman-teman mahasiswa tipe kura-kura, diam adalah salah satu sikap terbaik yang diambil, sebab mereka memiliki speak art di atas rata-rata. Setiap argumentasi yang mereka sampaikan selalu melalui observasi pada data dan alur berpikir yang tepat. Waktu mereka pun banyak dihabiskan di tempat-tempat yang penting seperti ruang sekretariat organisasi, gedung pemerintah, lokasi masalah sosial dan tempat-tempat lainnya.

Selain itu, mereka punya keunikan yaitu jaringan sosial yang cukup luas sehingga tidak salah jika kemampuan sosial mereka pun cukup baik. Mereka memiliki senior organisasi yang cukup banyak dan itu sepertinya banyak membantu pengembangan soft dan hard skill mereka.

Sementara itu, (jreng-jreng) saya dan beberapa teman tipe mahasiswa kupu-kupu memiliki kondisi yang berbanding terbalik dengan teman-teman aktivis. Kekhasan mahasiswa kupu-kupu yaitu banyak menghabiskan waktu di kos, teman yang itu-itu saja bahkan tak memiliki teman sekalipun. Kelebihan yang kami miliki mungkin hanya kolom presensi setiap mata kuliah yang hampir penuh dan di atas standar. Bahkan dosen tak masuk pun harus diminta untuk mengisi kuliah. Sungguh satu-satunya sikap patriotik tersisa yang kami miliki.

“Kekhasan mahasiswa kupu-kupu yaitu banyak menghabiskan waktu di kos, teman yang itu-itu saja bahkan tak memiliki teman sekalipun. Kelebihan yang kami miliki mungkin hanya kolom presensi setiap mata kuliah yang hampir penuh dan di atas standar,”

Hal yang tak kalah penting yaitu jas almamater yang nyaman di lemari pakaian, sebab jarang ada kegiatan yang diikuti dalam satu semester. Jas almamater selalu menjadi kawan lemari dalam kurun waktu delapan semester kuliah. Sungguh satu kondisi yang jika dipikir-pikir sangat tragis. Di tengah perbincangan yang menghabiskan kesempatan yang tak ada pentingnya itu, kami menjadikan itu lelucon yang menyenangkan.

Baca Juga: Motang Rua

Setelah menamatkan perkuliahan, realita lapangan yang dinamis membuat saya menjadi sangat rapuh. Lapangan kerja yang susah, tidak memiliki relasi yang cukup ditambah lagi dengan soft skill yang rata net membuat hidup ini menjadi sangat susah.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Bermasyarakat sepertinya tak semudah mengerjakan tugas kuliah penelitian pendidikan dengan metode SKS (sistem kebut semalam). Setiap perbincangan tentang kemasyarakatan dan kompleksitasnya dirasa asing. Orang pun mempertanyakan gelar dan marwah pendidikan tinggi yang diemban. Sungguh sebuah realitas yang tak mau terus dihadapi.

Hal itu tentu dibuktikan dengan ketidakmampuan menerjemahkan ilmu yang baku dalam benak. Ia hanya sekumpulan teori dalam bentuk IPK yang pas-pasan pula. Tetapi, saudara-saudaraku, apa pun yang terjadi hidup harus tetap dijalani. Bersyukur saja sudah cukup untuk menjalani hidup yang banyak tidak manfaatnya ini. Proses menuju sesuatu yang lebih besar biasanya melewati tantangan yang begitu besar.

Penulis: Vian Agung

Bagikan Artikel ini

One thought on “Penyesalan Mantan Mahasiswa Kupu-kupu

  1. Reply
    Olik
    08/06/2020 at 9:32 pm

    Sy juga mantan mahasiswa kupu2, sy menikmatinya.. Sy yakin setiap orang dapat berkembang dg caranya masing2.. setiap orang dapat menjadi berkualitas, dg banyak cara.. kacamata unk melihat kualitas setiap orang pun beragam..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP