Motang Rua

Motang Rua

ngkiong.com Setiap kisah sejarah sebaiknya ditulis dan diwariskan; atau ia akan hidup dalam banyak warna; atau ia sampai pada sebuah kemungkinan terburuk lainnya: ia pelan-pelan memudar lalu menghilang bersama waktu!

Manusia, sebagai makhluk yang menyejarah selalu punya banyak cara untuk menjaga ingatannya. Patung merupakan satu dari sekian banyak cara yang dipakai manusia untuk menjaga cerita dan ingatan tentang sesuatu atau tentang seseorang tetap hidup di tengah masyarakat. Patung tokoh-tokoh kenamaan dibangun, selain sebagai bentuk penghormatan, ia menjadi semacam wujud yang mempertautkan suatu peristiwa di masa lalu dan masa sekarang. Melalui patung, ada rekaman cerita, kisah, peristiwa, dan semangat masa lampau yang coba dihadirkan kembali ke masa sekarang. Ia menjadi sebuah ornamen yang mewakili kisah dan perjalanan hidup seorang tokoh; sekaligus membawa api semangat dan visi tokoh yang disimbolkannya.

Di jantung kota Ruteng, tepatnya di sisi utara badan lapangan Motang Rua berdiri sebuah patung. Patung itu berwarna keemasan; sebuah simbol keagungan dan kebesaran. Ia digambarkan dalam karakter pejuang; tangan kanan yang sedikit terangkat memegang tombak, sementara tangan kirinya menggenggam kapak. Ia memakai sapu (destar), dan pada pinggangnya tergantung sebuah parang. Tatapan mata pada wajah tuanya menatap jauh ke depan; sepertinya ada ribuan hari yang keras yang telah dilewatinya. Wajah tuanya menyimpan cerita, kisah, dan semangat juang yang panjang. Pada raut wajahnya tersirat ribuan kilo langkah yang telah dilalui. Dalam diamnya ia seolah berpesan: perjalanan kita masih panjang. Tepat di hadapannya berdiri bangunan megah kantor Pemda Kabupaten Manggarai; ruang tempat tongkat estafet visi dan semangat perjuangan dipindahkan.

“Manusia, sebagai makhluk yang menyejarah selalu punya banyak cara untuk menjaga ingatannya,”

Baca Juga: https://ngkiong.com/rekomendasi-aktivitas-menyenangkan-selama-merebaknya-covid-19/

Yah, patung tersebut ialah patung seseorang yang konon katanya merupakan pahlawan Manggarai, Kraeng Guru Rombo Pongkor  Motang Rua (Ame Numpung). Ia lahir tahun 1864 dan meninggal dunia pada tahun 1952. Tokoh ini semasa hidupnya pernah dibuang ke Betawi dan Aceh selama kurang lebih 25 tahun. Patung Motang Rua dibangun ketika usia proklamasi menyentuh usia nyaris tiga per empat abad, ketika usia kematiaannya melewati usia separuh abad. Patung itu pernah ditempatkan di sisi utara Mbaru Wunut lalu setelah perdebatan yang panjang dari berbagai pihak akhirnya dipindahkan ke sisi utara badan lapangan Motang Rua.

Foto : Dok Ichan Lagur

Dalam lingkup lokal, Motang Rua tak pernah dikisahkan seheroik Jenderal Sudirman, Pattimura, Tuanku Imam Bonjol, atau tokoh-tokoh lain yang diklaim sebagai pahlawan nasional -entah apa tolok ukur yang dipakai untuk menentukan kadar “kenasionalan” seorang tokoh? Apa memang nasionalisme itu sesuatu yang bisa ditimbang?-. Dalam skala lokal Manggarai ia tak banyak dikisahkan bahkan hampir dilupakan. Ia pun tak banyak diceritakan dalam lembaran mata pelajaran di Manggarai. Sejarah di bangku sekolah sibuk menghafal tanggal, peristiwa, dan nama-nama tokoh di seberang sana; sementara dunia bahasa dan sastra seperti enggan tuk menelurkan dan mengangkat beberapa kisah kedaerahan, termasuk kisah Motang Rua.

Secara umum yang orang tahu, Motang Rua adalah pahlawan Manggarai. Titik. Hanya itu dan tidak ada jawaban lebih terkait pertanyaan: kapan, di mana mengapa, dan bagaimana. Beberapa yang beruntung barangkali sempat membaca kisah Motang Rua; sementara beberapa yang lain membangun kisah heroik Motang Rua dalam imajinasi yang lahir dari proses duplikasi kisah Sudirman, Pattimura, Tuanku Imam Bonjol, dan lain sebagainya yang mereka baca pada buku sejarah di malam menjelang ujian.

Dalam ketiadaan, Motang Rua kemudian dibangun dengan imajinasi. Imajinasi sebagai sesuatu yang bersayap terbang sejauh batas pikiran sang empunya imajinasi itu sendiri. Efeknya, kisah tentang Motang Rua oleh generasi-generasi yang lahir belakangan dibangun dalam bingkai yang berwarna-warni. Ia diterbangkan secara berbeda pada ritual tombo turuk oleh orang tua kepada anaknya menjelang tidur; dan tentu saja hinggap secara berbeda pula pada ranting-ranting ingatan sang anak. Proses itu terus berlanjut, dan melalui sayap imajinasi yang berbeda kisah tentang Motang Rua akhirnya sampai pada suatu titik: ia hidup dalam banyak rupa, bergantung bagaimana setiap pencerita meniupkan plotnya. Yang pasti, di antara pilihan warna itu, batasan antara nyata dan tak nyata tentang Motang Rua menjadi kian tak pasti. Motang Rua dan segala hal tentangnya menjadi kian samar.

“Dalam lingkup lokal, Motang Rua tak pernah dikisahkan seheroik Jenderal Sudirman, Pattimura, Tuanku Imam Bonjol, atau tokoh-tokoh lain yang diklaim sebagai pahlawan nasional -entah apa tolok ukur yang dipakai untuk menentukan kadar “kenasionalan” seorang tokoh? Apa memang nasionalisme itu sesuatu yang bisa ditimbang?”.

Baca Juga: https://ngkiong.com/tantangan-implementasi-nilai-pancasila-dalam-kehidupan-sehari-hari/

Pada beberapa golongan menyedihkan yang tidak punya budaya tutur tombo turuk, atau pada sekelompok orang yang tidak punya skemata yang cukup tentang sesosok tokoh yang kita sebut sebagai Motang Rua; lapangan dan patung yang ada di jantung kota hanyalah sebuah benda mati yang tidak membawa cerita, kisah, visi, dan semangat apa-apa. Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang semasa kecil bahkan hingga sedewasa ini tak punya gambaran yang cukup tentang pahlawan daerah yang kita elu-elukan. Hal yang terbayang dalam kepala kecil kami ketika berbicara tentang Motang Rua hanyalah sebatas nama seorang pahlawan yang diabadikan pada sebuah lapangan luas tempat kami menyongsong senja dengan bermain bola; tempat apel dan atraksi 17-an dilaksanakan. Tak lebih dari itu. Ohh, betapa menyedihkannya kami.

Lantas, di tengah fenomena ini apakah saya dan mereka-mereka yang gagap sejarah yang abai? Ataukah kegagapan berjamaah ini adalah efek domino dari keengganan tuk menuliskan dan mewariskan sejarah sendiri sebagai bagian dari perasaan inferioritas tersembunyi? Adakah sebentuk patung yang bisu itu sudah cukup tuk menjawab secara lengkap: itu siapa?

Penulis : *Ichan Lagur

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP