Memilih Berpapasan dengan Ayam atau Anjing

Memilih Berpapasan dengan Ayam  atau  Anjing

Ngkiong.com – Setiap kali melewati gang-gang kecil, jalanan umum sampai setapak yang dibangun dari dana desa, tak jarang jantung berdebar lebih kencang ketika hewan peliharaan yang keluar dari rumah mengagetkan beberapa pengendara roda dua dan roda empat. Tidak seperti di kota-kota besar yang tertib merumahkan hewan peliharaan, di kampung saya dan kompleks keramaian yang dilewati,  ayam dan anjing belum dirumahkan. Ayam dan anjing menjadi kelompok teratas selain manusia, kendaraan roda dua, dan roda empat yang menikmati infrakstruktur yang dibangun pemerintah.

Hewan peliharaan seperti ayam dan anjing selalu begadang ria di tengah jalan umum, gang-gang kecil dan kompleks perkampungan. Secara kasat mata, anjing dan ayam memiliki hasrat untuk berkumpul dan berorganisasi layaknya manusia. Tak jarang, kedua jenis hewan ini bergerombol, bolak-balik hingga jalanan dikuasai. Seperti manusia, ayam dan anjing selalu memastikan diri untuk menghirup udara segar.

Ayam merupakan pengguna jalan raya setelah manusia. Mungkin pembaca sekalian ada yang pernah  merogoh kocek dan harus menggagalkan kencan dengan gebetan karena harus membayar ayam yang ditabrak di tengah perjalanan menuju rumah calon mertua.  Atau harus berdebat dengan pemilik ayam karena yang bersangkutan memaksa mengganti-ganti rugi untuk ayam yang telah mati itu dengan sejumlah  uang. Dan sialnya, ayam yang telah mati tersebut diberikan kepada pemiliknya. Jangan-jangan sang pemiliknya sengaja membiarkan  ayam itu sibuk-sibuk tak jelas di tengah jalan. Jumlah uang yang dibayar pun tergantung kelas ayam yang ditabrak. Ayam dengan tubuh kekar dan calon petarung biasanya berkisar Rp 250.000, di bawah itu berkisar Rp 80.000-90.000.

Baca Juga: Multikulturalisme Sepakbola

Anjing, salah satu kelompok lain juga sering dijumpai berkumpul dan beraktivitas di jalanan. Jika ayam sering bergerombol, maka anjing sering berjalan sendirian. Sepertinya anjing merupakan spesies tipe introvert, yang nyaman beraktivitas ketika sendirian. Perlu diingat pula bahwa anjing merupakan hewan dengan kemampuan adaptasi cukup baik dengan manusia,  terutama respon yang diberikan melalui tatapan matanya.

Pernahkah pembaca sekalian harus menjual handphone atau membatalkan registrasi SPP dan kepentingan lainnya karena membayar ganti rugi atas anjing yang tak sengaja ditabrak atau dilindas oleh ban motor atau mobil. Sesuatu yang tak pernah diinginkan. Bahkan beberapa di antaranya harus sampai ke pemerintah desa setempat karena perdebatan yang tak kunjung menemui titik temu. Hal ini disebabkan oleh ketegangan yang berujung penggunaan diksi yang tak enak didengar. Untungnya, sebagian besar tidak sampai pada persoalan pidana.

Selama berpapasan dengan ayam dan anjing, penulis melihat bahwa kedua hewan tersebut memiliki refleks atau respon yang berbeda untuk setiap  gerak eksternal yang ada. Selama berpapasan dengan kedua hewan tersebut, penulis membuat sebuah kesimpulan sederhana bahwa ayam memiliki respon yang cukup cepat ketimbang anjing ketika berhadapan dengan gerak eksternal. Ini bukan hipotesis dalam sebuah penelitian skripsi, hanya satu asumsi sederhana penulis. Anda juga bisa tidak sependapat dengan penulis.

Hal lain yang sering dijumpai juga adalah umpatan pemilik hewan tersebut yang cukup unik. Pilihan kata yang beragam kadang membuat kuping panas ketika disimak baik-baik.  Setan,  iblis, penjahat, pemeran utama, pemeran pembantu, roh jahat, dan berbagai doa buruk yang tak harus didengar (memang ada doa yang buruk?)

Baca Juga: Belajar dari Santo Yosep; Seorang Pendiam yang Berbuat Banyak

Tentu pembaca meragukan cerita yang penulis ajukan ini. Jadi begini, beberapa minggu lalu, mendekati seratus meter menuju kompleks pemukiman. Seekor anjing yang sedang sibuk putar kiri dan putar kanan harus menerima kenyataan kaki kirinya patah. Sebab, seorang pemuda yang ingin mengambil beberapa boks ikan di pasar inpres Ruteng secara tidak sengaja mendaratkan besi berjalan itu pada kaki kiri anjing tersebut. Pada saat itu sang pemuda harus membatalkan beberapa rencana kerjanya. Ia harus menerima kenyataan motor yang dikendarainya harus terpental sejauh sepuluh meter dari lokasi jalan umum. Untungnya yang bersangkutan dalam keadaan baik-baik saja meski kaki kirinya harus mencium aspal yang belum memanas bersama teriknya matahari. Pemilik anjing tersebut juga ikut berempati dengan kondisi sang pemuda.

Jujur saja, jika memilih untuk berpapasan dengan ayam atau anjing di tengah jalan, penulis akan lebih memilih berpapasan dengan ayam. Tentu setiap kita tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi ketika mengendarai kendaraan roda dua atau roda empat. Penulis mengajukan argumentasi ini atas realitas yang nyata. Seperti yang dibahas di awal bahwa ayam memiliki refleks yang cukup baik. Selain itu, ayam jika diuangkan relatif murah ketimbang ketika kita menabrak anjing. Tetapi, sekali lagi semoga hal itu tidak terjadi terhadap pembaca sekalian.

Baca Juga: Blogger yang Berguru pada Blogger

Beberapa pengendara sepeda motor juga banyak yang nekat. Hal ini bisa dibuktikan dengan sepeda motor yang tak memiliki lampu penerangan ketika malam hari. Ketika berpapasan dengan ayam dan anjing, kelompok ini rentan mengalami konsekuensi buruk. Persoalan ini tentu tidak bisa diterima jika terjadi kasus tabrakan dengan hewan peliharaan.

Pada akhirnya, tulisan yang saudara-saudari baca ini sepertinya hanya menghabiskan waktu. Harapannya, semoga Anda sekalian dijauhkan dari ayam dan anjing yang suka berkumpul di jalanan raya sehingga tidak merugikan waktu, uang, keterlambatan bertemu mertua,  dan kesehatan. Sebab, keselamatan berada di atas segalanya. Waspadalah.*

Vian Agung*

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP