Lambu

Lambu
Foto : Ilustrasi Kaltim. Tribunews.com

Ngkiong.comLambu merupakan salah satu entitas orang Manggarai. Lambu secara harfiah diterjemahkan sebagai kegiatan mengunjungi. Kegiatan sosial yang satu ini sangatlah terikat dengan kehidupan orang Manggarai. Keterikatannya dengan masyarakat menjadikan lambu salah satu identitas orang Manggarai. Aktivitas satu ini biasanya menumbuhkan sikap toleransi yang tinggi antara beragam suku dan latar belakang sosial masyarakat di Manggarai, bahkan tidak sedikit pula orang-orang luar Manggarai merasakan tingginya toleransi.

Seorang dosen saya, yang  pernah mengabdi di salah satu lembaga pendidikan di Manggarai, bercerita tentang orang Manggarai yang selalu ramah dengan orang baru. Kebetulan saya seorang mahasiswa dan kuliah di salah satu kampus swasta di Jawa Timur. Saya tersenyum cengar-cengir di tengah jeda kuliah di dalam kelas, bangga dengan ceritanya tentang orang Manggarai.

Jika biasanya, di Jawa ketika didatangi orang baru patut dicurigai terlebih dahulu, maka orang Manggarai malah langsung mengajaknya untuk minum kopi, lebih dari itu sambil menikmati kopi, tiba-tiba langsung disuguhkan makanan. Kemudian tetangga lainnya datang ke rumah tersebut menyapa orang baru dengan segala upaya untuk berbahasa Indonesia dengan baik. Jika penampilan dan perawakan orang baru itu seperti seorang pegawai, mereka memanggilnya “pa”, bukan singkatan dari bapak. Dari penggalan cerita dosen saya ini,  membuat  saya lebih bangga dengan budaya lambu di Manggarai.

Namun di sisi lain, saya sedikit takut dengan keramahan orang Manggarai. Ketakutan itu berdasar pada kemungkinan ada mata-mata (seperti di film-film) datang ke Manggarai, lalu langsung disuguhkan kopi dan aneka makanan. Kebiasaan orang Manggarai jika mereka ditanyakan satu hal, maka jawabannya akan lebih banyak bahkan hal yang tak ditanyakan akan dijawab, itu karena terselip nilai jomel dalam jiwa orang Manggarai, dengan begitu nilai mata-mata dalam diri seorang mata-mata akan tercemar, mereka akan terlihat seperti seorang wartawan oplosan yang sedang berjuang mencari head berita.

Baca juga: Toe Manga Isung; Sebuah Basa-Basi Sosiolinguistik

Lambu dan cinta menjadi sebuah hal yang tak dapat dipisahkan dalam realita anak muda zaman dulu, karena Lambu yang ini lebih dari sekadar kegiatan berkunjung. . Umumnya saat Lambu anak muda kebanyakan tombo mboat.

Target utama pria muda Borjuis (sebutan untuk celana panjang jeans yang menjadi trend fashion anak muda) adalah gadis desa yang dengan segala kesempurnaannya, mulai dari hati yang lembut sampai kepada ke-ayuan-nya yang lebih dari segalanya.

Anak muda zaman dahulu sering menggunakan istilah “neho keta loke weki de darat” (Bagaikan kulit bidadari), putih bersinar, wangi dan langsing menjadikan sosok gadis itu sebagai dewi para borjuis saat itu. Apabila sosok dewi di desa itu hanyalah satu, maka tantangan lambu semakin berat, pelatihan, serta penyusunan skema  harus dipercepat dan sigap. Jika kaka gaya lambat ade nona su tagae orang laen, maka pelaksanaan lambu tidak seharusnya ditunda-tunda .

Demi kelancaran lambu mungkin jauh-jauh hari, setidaknya berkenalan dengan salah satu anggota keluarga gadis terlebih dahulu, entah itu kakak, sepupu, ataupun kedua orang tuanya. Jika mereka sering dijumpai, mulailah dengan bertegur sapa seperti “om atau tanta Ngo nia ite?”  (Om, tanta, mau ke mana?) meskipun Anda sudah tahu tujuan dari om dan tanta, atau jika om pulang sendirian saat senja dari kebun cobalah untuk menawarkan kopi “ole om wie keta Kole dite, cenggo Inung kopi di”  (Aduh om, larut sekali pulangnya, mari minum kopi dulu).  Sebuah keberuntungan jika rumah Anda adalah jalur utama menuju kebun om dan tanta yang ditargetkan menjadi mertua.

Inilah alasan utama cinta pria muda zaman dahulu lebih terawat dibandingkan kita-kita yang hidup di zaman modern ini. Dengan aplikasi facebook saja langsung dapat nomor whatsApp, sudah dapat nomor whatsApp langsung ajak kencan, sudah kencan ajak nikahan, sungguh terlalu gampang, tapi mengapa masih ada yang jomblo e?

Kesiapan hati dan tanggung jawab adalah modal utama, meskipun setelah mengenal cinta tai kucing saja rasa coklat, tapi bagaimana kita membawa cinta itu sampai kemudian hari kita dipisahkan lagi karena cinta dari sang empu-Nya kehidupan adalah hal yang paling rumit. Ada pepatah dalam bahasa Inggris yang pernah muncul di beranda Facebook, saya lupa lagi siapa yang merepost, bunyinya seperti ini “falling in love is easy but staying in love is very beautifuly“.

Baca juga: Mie; Kuliner Legend Rasa Kelas Sosial

Di dalam lambu tercipta pula kegiatan-kegiatan lain. Ibu-ibu biasanya dari awal mulanya sekadar lambu saja  muncul kegiatan lain seperti ceak hutu (cari kutu), kebut muwang (mencabut uban), curhat dan timbulnya kegiatan-kegiatan kreatif lainnya seperti membuat kolak, nasi wajik, tanam sayur dan banyak lagi.

Di dunia tumbuh-tumuhan boleh kita sebut lambu sebagai akar. Kalau saja nilai positif lambu terus dijaga mungkin pertemuan RT, pertemuan desa, pertemuan camat bisa diganti dengan kegiatan lambu saja, misalnya pada hari Minggu, biasanya pak dewan mengundang masyarakat untuk melakukan pertemuan desa dengan ungkapan “nanti setelah misa ada pertemuan di kantor serbaguna”, kemudian diganti dengan “nanti setelah misa, lambu sina serbaguna taung“. Mungkin terdengar seperti kurang sah saja sebagai bahasa formal, namun jika lambu memiliki hasil yang lebih baik daripada sekadar pertemuan, bukan tidak mungkin kata lambu setara dengan kata pertemuan.

Walaupun lambu menjadi tiket utama menuju kesuksesan toleransi dalam kehidupan masyarakat Manggarai, tidak sedikit pula nilai-nilai negatif dari lambu. Lambu ngo inung kopi, tau-taunya judi, Lambu kawe hae ganda, tau-taunya ganggu wina data. Ada banyak hal-hal negatif lainnya yang terjadi saat lambu.  Segala sesuatu tindakan Anda mengunjungi rumah orang dengan niat baik atau buruk sekalipun akan disebut lambu. Karena lambu merupakan sebuah kebudayaan kita masyarakat Manggarai, mulailah menyebutkan lambu jika tujuannya positif saja, jangan menjadikan lambu sebagai alat untuk mencapai kesuksesan hal-hak buruk.

Penulis: Paulinus Susanto Biu, mahasiswa  tingkat akhir jurusan pendidikan bahasa Inggris STKIP PGRI Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia. Lahir di Desa Kajong, Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai

Bagikan Artikel ini

4 thoughts on “Lambu

  1. Reply
    Liani
    30/08/2021 at 6:53 pm

    Sebuah cerita yang menarik dan menjadi sebuah motivasi. Berangkat dari kehidupan nyata di Manggarai, cerita ini menginspirasi dan dapat membangun sebuah kisah yang luar biasa lagi nantinya.

    1. Reply
      Santo
      03/09/2021 at 6:47 pm

      Terima kasih kak

  2. Reply
    Tito Iksan
    03/09/2021 at 5:53 pm

    ois mntrap ase daku. tulisan yg berkualitas, dgn diksi yg mudah dicerna.

    1. Reply
      Santo
      03/09/2021 at 6:48 pm

      Terima kasih kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP