Kisah Charles Darwin Jansen; Anak Petani Yang Tidak Pernah Bermimpi Jadi Anggota Polisi

Kisah Charles Darwin Jansen; Anak Petani Yang Tidak Pernah Bermimpi Jadi Anggota  Polisi

Ngkiong.com – Charles Darwin Jansen (26 tahun) tidak pernah membayangkan jika dirinya akan menjadi bagian dari anggota kepolisian Republik Indonesia. Bahkan sejak kecil Ia tidak memiliki cita-cita menjadi seorang yang seperti sekarang: anggota Polisi. 

Pria yang akrab disapa Briptu Charles  tersebut merupakan alumni Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Lelak, Manggarai-Flores-NTT dan merupakan siswa angkatan pertama. Briptu Charles adalah  anak pertama dari pasangan bapak Damasus Lampur dan ibu Susana Seneng (almarhumah).

Seperti mimpi di siang bolong, ketika selesai mengikuti Ujian Nasional (UN) pada tahun 2014 silam, secara tidak sengaja Briptu Charles bertemu dengan Tedi Wawo angggota Polisi Resort Manggarai yang ketika itu bertugas di Desanya untuk mengamankan proses Pemilihan Kepala Desa (Pilkades).

Pada kesempatan itu, pria yang diketahui bernama Tedi itu memanggil Briptu Charles dan berkata, “Adek kamu tinggi, sangat cocok jadi polisi, kebetulan sekarang lagi buka pendaftaran anggota Polri, coba daftar,”  kata anggota Polisi itu kepada Briptu Charles. 

Ketika mendengar perkataan pa Tedi, Briptu Charles pun spontan menanyakan persyaratan untuk mendaftar. Setelah ngobrol santai, Briptu Charles kemudian diarahkan oleh Polisi Tedi untuk mengambil formulir pendaftaran di kantor Polisi Manggarai yang berada di Kota Ruteng, sekitar 20-an Kilo meter dari Kecamatan Lelak tempat ia tinggal.

Keesokan harinya Briptu Charles bergegas menuju ke Kota Ruteng, untuk mengambil formulir pendaftaran. Setelah itu ia mandaftarkan diri dan mengikuti tes melalui jalur Bintara. Setelah dinyatakan lulus administrasi dan memenuhi syarat ia kemudian bersama temannya diberangkatkan ke Maumere untuk mengikuti tes awal. Setelah lulus tes awal ia pun mengikuti tes lanjutan di Kupang.

Dari total 9000 peserta yang mengikuti tes, yang lulus cuman 360 orang termasuk Briptu Charles.  Dari jumlah itu, 126 Polisi Laki-laki (Polki) dan 234 Polisi Wanita (Polwan).

Briptu Charles menceritakan, jika tes Polisi tidaklah mudah, ada begitu banyak tahapan yang mesti dilalui, mulai dari tes kemampuan akademik, olahraga (kemampuan push-up, sit-up, pull-up, renang dan lain sebagainya) dan mengikuti tes kesehatan.

“Dari total 9000 peserta yang mengikuti tes, yang lulus cuman 360 orang termasuk Briptu Charles.  Dari jumlah itu, 126 Polisi Laki-laki (Polki) dan 234 Polisi Wanita (Polwan),”

Foto Dok Briptu Charles, bersama Keluarga (ket foto : tampak tengah ‘ayah’, dan tampak ujung ‘Istri’)

Baca Juga: Bona Jemarut: Didi Kempot-nya Manggarai

Lulus Berkat Doa Keluarga

Briptu Charles mengakui jika dirinya tidak menyangka akan lulus dari proses tes yang telah ia ikuti. Saat dinyatakan lulus, ia merasa senang dan bangga, tak lupa ia berterima kasih kepada Tuhan atas hikmat yang diberikan untuknya, juga kepada kedua orang tua, lebih khusus kepada sang ayah yang telah berjuang sendiri, serta almarhumah mama yang pasti selalu mendoakan anaknya dari surga. Briptu Charles juga tidak lupa berterima kasih kepada semua keluarga besar yang selalu mendukung kariernya serta kepada guru-guru di almamaternya.

Setelah lulus, Briptu Charles bersama rekan lainnya disebut sebagai siswa Seba yang dididik dan dibentuk untuk menjadi Brigadir tugas umum Polri (Gasum Polri) di Sekolah Polisi Negara Kupang angkatan Seba 39/ Tri Wira Nagara dengan jumlah siswa 718, dari NTT 126,  sebagian pengiriman dari Polda Jawa Timur, dan anggota lainnya dari Polda Bali.

Pada tanggal 29 Desember 2014 Briptu Charles kemudian secara resmi dilantik  menjadi anggota Polisi Republik Indonesia (Polri) dengan pangkat Brigadir Polisi Dua (BRIPDA).

Meski hanya didampingi oleh sang ayah dan adiknya, namun ia tetap bangga, dan meyakini mamanya tersenyum bahagia saat melihat Briptu Charles seperti sekarang.

Setelah usai pendidikan dan pelantikan, ia ditempatkan sebagai Bintara Remaja di Polda NTT selama satu bulan. Setelah itu, ia kemudian ditugaskan di Polisi Resort Manggarai hingga sekarang.

“Saat dinyatakan lulus, ia merasa senang dan bangga, tak lupa ia berterima kasih kepada Tuhan atas hikmat yang diberikan untuknya, juga kepada kedua orang tua, lebih khusus kepada sang ayah yang telah berjuang sendiri, serta almarhumah mama yang pasti selalu mendoakan anaknya dari surga,”

Foto Dok Briptu Charles, Saat bertugas dan memberikan penyuluhan hukum

Baca Juga: Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Mencintai Profesi

Meski tidak memiliki cita-cita yang didambakan sejak kecil, namun selama proses tes, setelah lulus dan selama tugas, Briptu Charles perlahan menyatu dengan profesinya sebagai anggota Polisi.

Kini ia sangat mencintai profesinya sebagai penegak hukum, pemelihara Kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat) serta menjadi pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat sesuai tugas pokok kepolisian yang tertuang dalam UU No 2 tahun 2002 pasal 13 tentang kepolisian negara Republik Indonesia.

Briptu Charles meyakini bahwa tugas yang ia jalankan merupakan amanat dan kepercayaan Tuhan untuk menjadi pelayan umat-Nya.

Dalam menjalankan tugas sebagai anggota Polisi, Briptu Charles tidak merasa sendiri, ia selalu dimotivasi oleh keluarga (ayah, oma dan teristimewah isteri tercinta).

“Briptu Charles meyakini bahwa tugas yang ia jalankan merupakan amanat dan kepercayaan Tuhan untuk menjadi pelayan umat-Nya,”

Foto Dok Briptu Charles, Saat mengikuti bakti Lingkungan

Baca Juga: Motang Rua

Mengatasi Masalah Masyarakat Melalui Pendekatan Adat

Pada tanggal 6 Desember tahun 2016 silam, Briptu Charles dipercayakan menjadi Bhayangkara Pembina Keamanan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) di kecamatan Lelak sampai dengan Maret tahun 2020.

Selama masa tugas di kecamatan Lelak, ia hidup berbaur dengan masyarakat, merasakan hidup yang dialami oleh masyarakat setempat. Sehingga saat menyelesaikan konflik di masyarakat ia tidak berjalan sendiri.

Briptu Charles mengisahkan, selama masa tugas ada begitu banyak kasus yang telah ia tangani.

Kasus yang pernah ia tangani diantaranya : Sengketa tanah ulayat (tanah Lingko), tanah rumah tempat tinggal (tanah bangka mbaru), masalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan berbagai masalah sosial lainnya.

Dalam memediasi kasus-kasus tersebut di atas, Briptu Charles tidak hanya mengandalkan kemampuannya. Tetapi Briptu Charles bekerja sama dengan rekan Babinsa, pemerintah desa, pemerintah tingkat kecamatan dan terutama tokoh-tokoh adat dan tokoh agama.

Sebagai orang yang lahir dari rahim tanah Congka Sae, dalam menjalankan tugas, senjata utama yang digunakan Briptu Charles dalam menyelesaikan masalah masyarakat adalah kekuatan budaya. Sehingga tak jarang dalam menyelesaikan masalah ia selalu bersinergi dengan petuah adat ata haeng tae repeng pede, ata caun landuk, riang tanah niang, lonton bongkok kaeng golo (orang yang memiliki pemahaman sejarah sebagai tetua adat dalam sebuah kampung).

Saat dihubungi Ngkiong.com, Briptu Charles juga menceritakan jika dalam menyelesaikan persoalan, ia selalu memberikan peribahasa Manggarai (go’et) yang memiliki makna sangat dalam bagi kehidupan orang Manggarai. 

Dalam upaya menyelesaikan konflik, terkadang Briptu Charles melakukan  pendekatan keluarga, (lonto leok, cama lewang ngger pe’ang cama po’e ngger one).

“Sebagai orang yang lahir dari rahim tanah Congka Sae, dalam menjalankan tugas, senjata utama yang digunakan Briptu Charles dalam menyelesaikan masalah masyarakat adalah kekuatan budaya,”

Selain itu Briptu Charles memegang teguh prinsip gotong royong dalam malaksanakan tugas negara.

“Prinsip saya tidak ada soal yang tak bisa diselesaikan, asalkan atas kerja sama, atas dasar gotong royong dengan tujuan positif, dengan tujuan misi perdamaian dengan pendekatan budaya dalam penyelesaian konflik sosial” kata Briptu Charles.

Briptu Charles mengakui dalam menjalankan tugas selalu mengkolaborasikan  hukum dengan adat setempat melalui pendekatan persuasif.

“Saya belajar budaya Manggarai, saya merasa bahwa pendekatan adat sangat efektif dalam menyelesaikan konflik” ujar Briptu Charles. 

Selain memecahkan masalah yang ada di masyarakat, Briptu Charles mengunjungi lembaga-lembaga sekolah untuk memberikan penyuluhan hukum berkaitan dengan kenakalan remaja (seks bebas, miras, narkotika dan lain sebagainya).

Tidak hanya di sekolah, Briptu Charles juga memberikan penyuluhan hukum di kampung-kampung  pada 9 Desa yang tersebar di seluruh wilayah Kecamatan Lelak.

Sebagai Anggota Polisi, Briptu Charles selalu ambil bagian dalam hajatan di masyarakat. Tak hanya itu, ia  juga hadir di tengah  masyarakat melalui kegiatan giat patroli dialogis, bakti sosial, bakti lingkungan dan membantu masyarakat yang memerlukan bantuan hukum.

Setelah bertugas sebagai seorang Bhabinkamtibmas selama kurang lebih tiga setengah tahun, pada tanggal 24 bulan maret lalu, Briptu Charles kemudian di mutasikan oleh pimpinan pada Satuan Samapta Polres Manggarai di unit Tujawali.*

Profil Singkat

Nama : Charles Darwin Jansen

Tempat tgl lahir : Lahir di Lembor Buruk , 02 Oktober 1994

Anak Dari pasangan bapak Damasus Lampur dan Ibu Susana Seneng (almarhumah).

Riwayat pendidikan umum:

SDI Watu-Weri pada tahun 2007

SMPN 1 Ruteng-Cancar pada tahun 2010

SMAN 1 Lelak pada tahun 2014.

Pendidikan Khusus:

Pendidikan pembentukan Brigadir Tugas Umun Polri  pada tahun tahun 2014 di Sekolah Polisi Negara(SPN) Kupang.

Ditulis Oleh : Juito Ndasung*

Bagikan Artikel ini

One thought on “Kisah Charles Darwin Jansen; Anak Petani Yang Tidak Pernah Bermimpi Jadi Anggota Polisi

  1. Reply
    Hermanus Agung
    10/06/2020 at 11:33 pm

    Selamat sahabat SMP. Sukses selalu. Tuhan memberkati. Salam saudara. Saya teman SMP negri 1 Ruteng Cancar.

Leave a Reply to Hermanus Agung Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP