Istilah-istilah di Sekolah Calon Imam

Istilah-istilah di Sekolah Calon Imam

Ngkiong.com-Sistem pendidikan calon iman di Flores-NTT memiliki perbedaan yang unik dibandingkan sistem pendidikan pada umumnya. Salah satu yang paling menonjol adalah sistem pendidikan berasrama. Siswa ketika bersekolah di Seminari wajib hukumnya untuk tinggal di asrama, tidak diizinkan untuk pulang ke rumah dan bertemu orang tua selama proses pendidikan berlansung atau membeli jajan ketika bersekolah.Tujuannya jelas bahwa siswa sedini mungkin dididik hidup mandiri dan sederhana sehingga saatnya nanti ketika menjadi imam mereka telah terbiasa dengan hidup mandiri dan sederhana. Yah meskipun tidak bisa dimungkiri juga beberapa pastor masih diketahui memiliki barang mewah bahkan lebih dari satu.

Beberapa pakar dunia pendidikan mengatakan bahwa sistem pendidikan seperti ini memang sangat bagus, lebih terarah dan dapat dikontrol dengan mudah. Karena semua aktivitas siswa telah diatur mulai dari jam bangun pagi, berdoa, makan, belajar, olahraga, sampai kembali tidur malam. Apalagi ketika siswa tinggal di asrama, setiap hari mereka dilatih untuk menghargai dan memanfaatkan waktu dengan baik. Misalnya, melatih cara mengolah tanah dan memanfaatkannya untuk menanam sesuatu seperti sayur yang nantinya akan digunakan untuk mereka sendiri.

Sistem pendidikan asrama juga telah mengasah beberapa hal pada diri siswa seperti rasa persaudaraan, menghargai satu sama lain, menghormati sesama, serta disiplin. Alasannya jelas, pembina tidak mentolerir siswa yang melakukan tindakan yang “melenceng” dari aturan.

Baca juga: Tambang di Tengah Kuasa Kaum Kapitalis

Selain perkembangan diri, hal lain yang tidak kalah heboh adalah perkembangan bahasa. Anak seminari memang hebat dalam menciptakan bahasa-bahasa baru. Entah itu julukan, isitilah, atau sandi morse untuk mengelabui Pembina.

Dalam tulisan ini saya akan membahas beberapa istilah yang hanya dipakai oleh siswa seminaris (sebutan untuk siswa yang bersekolah di Seminari). Istilah-istilah ini hanya berlaku saat mereka bersekolah di sana karena ketika keluar istilah itu menjadi sesuatu yang asing bagi orang lain.

Deker 

Membahas pendidikan berasrama tidak bisa lepas dari perkara makanan. Membicarakan makanan yang enak bagi siswa seminari adalah hal yang tabu. Ketika lonceng dibunyikan, siswa akan berbondong-bondong ke kamar makan. Dimulai dengan doa, selanjutnya siswa akan duduk berdasarkan kelompok makan. Akan ada yang ditunjuk sebagai ketua meja dan dia yang berhak untuk cedok pertama.

Namun sebelum itu, akan ada petugas yang menghidangkan makanan di meja-meja. Mereka yang bertugas sebagai pelayan saat makan itulah yang disebut sebagai “deker”. Tugas mereka sangat berat karena harus menyiapkan termos nasi, lauk serta memperhatikan adik kelas yang tidak dapat jatah makan saat itu. Sebab menjadi kakak kelas di asrama dan seminari adalah anugerah. Engkau bisa melakukan apa saja, termasuk mangambil jatah lebih banyak. Jika ada yang kurang atau tidak mendapat makanan para deker harus cekatan dalam mengatasi masalah itu. Nasib lambung siswa seminari sebenarnya ada di tangan mereka. Petugas deker biasanya dipilih oleh ketua dan staff osis.

Spuler

Masih beruntung ketika siswa seminari dipilih menjadi deker. Sebab ada pekerjaan yang lebih “menyedihkan” dari pada menjadi seorang deker yaitu Spuler. Tugas mereka adalah mencuci piring dari penghuni asrama selama 1 minggu. Apalagi jumlah anggota asrama tidak pernah kurang dari 200 orang.

Saat setelah makan, para siswa biasanya pergi ke kamar belajar. Deker akan menangani kamar makan, mereka akan mengembalikan dan membersihkan kamar makan. Tugas berat menanti para spuler yaitu cuci piring. Mereka harus memastikan bahwa semua piring telah dicuci dan dikembalikan ke masing-masing meja makan. Sebab jika ada satu piring yang hilang atau tidak dicuci maka hari itu mereka akan melewatkan perjamuan.

Baca juga: Tentang Kita dalam Nunduk

Somal

Masih di lingkup kamar makan, ada satu istilah yang sering disebut yaitu somal. Istilah ini diberikan kepada mereka yang banyak makan. Di asrama hampir semua siswa kuat makan tetapi tetap saja ada yang paling kuat. Mereka itulah yang selalu menjadi penyebab anggota deker kena teguran karena kekurangan makanan. Apalagi jika ada jadwal makan daging, dapat dipastikan lauk pasti berkurang. Setiap angkatan selalu memiliki sosok somal dan setiap siswa mengakui skill makan mereka memang di atas rata-rata dan konsisten. Maka jangan heran jika pada suatu momen Anda menemukan seorang imam yang rakus, hartanya banyak, kendaraan mewah; mungkin semasa sekolah dulu dia adalah legenda Somal.

Penggoda

Penggoda adalah singkatan dari pengurus got dapur. Di seminari got dapur terkenal sangat kotor dan ketika siswa mendapat tugas sebagai penggoda mereka akan berjibaku dengan sampah-sampah yang dihasilkan oleh tanta-tanta yang memasak. Pembina tidak pernah toleransi, ketika siswa diminta untuk bekerja maka hasilnya harus bersih. Mereka yang sering menjadi penggoda semasa sekolah akan terlihat jelas ketika mereka menjadi imam dan bertugas di paroki. Kebun paroki dan lingkungan pasti akan terlihat bersih.

Pembela

Ini adalah salah satu tugas yang selalu diidam-idamkan oleh para siswa seminaris. Menjadi pembela adalah pekerjaan yang mulia sekaligus yang paling menyenangkan. Pembela adalah mereka yang mengurus orang sakit. Mereka yang mengantar orang sakit ke klinik, atau saat pelajaran berlangsung. Ketika ada yang sakit merekalah yang pertama kali mengantarnya ke asrama. Mereka punya alasan yang baik ketika terlambat masuk kelas.

Dan itulah istilah-istilah yang sering dipakai oleh siswa seminari istilah yang menghiasi jagat dunia asrama selama 6 tahun (jika tidak keluar). Tentunya siswa selalu berharap mendapat tugas yang ringan dan menyenangkan tetapi untuk menjadi manusia yang kuat dan baik kita mesti terbiasa mengerjakan banyak hal termasuk menyiapkan makanan bagi para somal. Tugas dan tanggung jawab yang diberikan tidak berlaku selamanya tetapi hanya satu minggu dan akan terus diganti. Ketua OSIS selalu bijak, dibawah bimbingan para frater TOP mereka akan membagi rata setiap tugas dan mengawasi saat bertugas.

Penulis: Arsi Juwandy

Ilustrasi: Opin Sanjaya

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Google Analytics Stats

generated by GAINWP