Ender Tin

Ender Tin

Senin, 8 Juni 2020

Ngkiong.com-Pukul 13.00 saya pulang pelayanan bulanan dari TPK (Tempat Pelayanan Kopkardios) Rama dalam kondisi lowbat dan compang camping. Semalam saya hanya tidur satu atau dua jam. Efek kopi yang saya minum kemarin sore membuat saya tetap terjaga hingga pagi. Saya bangun dalam kondisi yang berantakkan dan berangkat kerja dengan keadaan jengejiut. Karena terburu-buru, saya pun tidak sempat sarapan. Saya jadi sadar, mengawali hari dengan senyuman saja ternyata tidak cukup, kita harus sarapan biar punya tenaga dan fit. Dalam banyak hal, pola hidup saya sangat buruk. Saya terlampau sering lupa bagaimana cara menyayangi diri sendiri melalui kebiasaan-kebiasaan yang baik dan sehat.

Lambung saya perih sekali; karena tidak sarapan dan mungkin efek kandungan zat minuman sachet -entah zat apa namanya-  yang disuguhkan salah satu anggota di Rama. Dalam keadaan lelah dan lapar, Ruteng rasanya jauh sekali. Saya memacu sepeda motor dalam kecepatan tinggi; gigi lima, tarik full gas. Dalam kecepatan tinggi, jarak antara hidup dan mati menjadi kian menipis; salah sedikit, saya bisa kecelakaan dan mati. Untunglah Tuhan menjaga saya, lagipula belakangan ruas jalan makin sepi. Meskipun sepi, tidak berarti kita bisa semberono to?

Jalanan dan kota terasa lenggang; seperti kehilangan roh dan aura kehidupannya. Pandemi menghapus banyak senyum dan membuat banyak aktivitas terhenti. Banyak roda ekonomi yang tidak berputar dan tidak bergerak. Padahal untuk tetap hidup, manusia wajib memastikan segalanya tetap berputar dan bergerak, tak peduli selambat apa perputaran dan pergerakan itu.

Baca juga: Bagaimana Kita Bisa Menulis?

Saya singgah sebentar di salah satu warung; dan makan dengan sangat lahap. Pelayannya menatap saya dengan tatapan yang sedikit iba. Saya terharu, bukan karena tatapan ibanya tetapi karena pelayanannya yang sangat ramah. Ia sepertinya sangat paham, keberlangsungan usaha mereka bergantung pada banyak hal, salah satunya bergantung pada bagaimana cara mereka memperlakukan setiap pelanggan yang datang. Dari pelayan-pelayan semacam ini saya belajar untuk menjalankan tugas saya sebagai staf divisi secara excellent. Pelanggan dan anggota adalah raja yang membuat kami tetap hidup. Bukankah setiap kita -mengutip Pram- wajib berterima kasih pada segala yang memberi kehidupan?

Saya bersyukur karena masih bisa makan. Di luar sana, di sekitar saya, atau di belahan dunia yang lain: ada banyak orang yang harus mengencangkan ikat pinggannya dan ada tambahan barisan orang yang tidak sempat mengecap makanan. Pada sepiring nasi, saya menemukan wajah Tuhan dan sekeping surga. Tuhan dan surga terkadang sesederhana itu; tak serumit dan tak seabstrak yang dikotbahkan imam-imam di televisi.

Foto: Floribertus Rahardi

Setelah nyawa saya kembali terkumpul, saya pulang. Di sudut lapangan Motang Rua, saya mendapati sebuah pemandangan yang menarik. Di sisi barat laut, terlihat seorang ibu sedang asyik membersihkan ‘kebunnya’. Siapapun tentu tahu lapangan ini bukan miliknya, tetapi beberapa orang di kota kecil ini tahu ia mengolah beberapa meter persegi areanya menjadi sebuah kebun kecil. Dalam banyak hal, saya kerap kali seperti ibu ini: mengklaim sesuatu yang bukan milik saya lalu di saat yang lain membantah suatu hal buruk sebagai sesuatu yang bukan milik saya. Saya sering pura-pura lupa pada pesan: “Neka daku data! Neka data daku!”

Ibu itu dikenal sebagai Ender Tin (Nder Tin). Ende dalam bahasa Manggarai berarti ibu atau mama, sedangkan akhiran -r yang melekat pada kata ende merupakan enklitik. Enklitik itu unsur tata bahasa yang tidak berdiri sendiri dan selalu bergabung dengan kata yang mendahuluinya. Enklitik (semisal: -nya, -mu, -ku) dipakai untuk menyatakan kepemilikan. Enklitik –r pun demikian. Enlitik –r dalam bahasa Manggarai berarti ‘–nya’. Jadi Ender Tin berarti ibunya Tin atau mamanya Tin. Ibu ini merupakan ibu dari seseorang yang bernama Tin.

Ender Tin merupakan seorang wanita dewasa yang mengalami gangguan jiwa, entah sejak kapan. Siang itu, seperti kebiasaannya pada beberapa hari tertentu, ia begitu sibuk dengan aktivitas mengurus kebunnya. Ia setia menyiangi rumput, menggemburkan tanah, menanam tanaman, dan membakar rumput-rumput kering pada kebun kecilnya. Sudah lama ia menanam jagung dan ubi jalar. Karena giat dan semangatnya, tanaman itu tumbuh dengan subur dan hijau. Ibu ini mengingatkan kita pada satu hal yakni: tanah Manggarai memang ibu yang luar biasa. Rahimnya menghidupkan segala yang ditanam dan dirawat. Rahim ibu Manggarai potensial dan bukan marginal; sayangnya potensial namun (dibuat) mati. Bukankah kita hanya perlu menghidupkannya kembali; maka roda kehidupan kita akan terus berjalan tanpa harus keluar? Saya jadi teringat lagu Koes Plus yang direaransemen dengan sangat cantik oleh Musikimia: “Orang bilang tanah kita tanah surga; tongkat kayu dan batu jadi tanaman. .”

Baca juga: Penyesalan Mantan Mahasiswa Kupu-kupu

Saya berhenti untuk waktu yang cukup lama dan memperhatikan aktivitasnya. Dari cara ia merawat tanamannya, sepertinya  ia menaruh cinta dan perasaan memiliki yang tinggi terhadap tanaman-tanaman tersebut. Ia menabur cinta, jauh sebelum menabur benih tanaman. Barangkali untuk menghasilkan sesuatu yang baik, pertama-tama kita memang harus menabur rasa cinta dan menumbuhkan perasaan memiliki yang kokoh.

Dalam diamnya, ia bekerja dengan giat. Ia tidak sibuk dengan hal lain, selain menyibukkan diri dengan aktivitas kerja itu sendiri. No talk, action only. Pada momen ini, kita pelan-pelan menyadari eksistensi manusia tak sekadar ditentukan oleh keberpikirannya, namun lebih jauh oleh kebertindakannya. Hampir semua orang bisa berpikir, banyak yang orang bisa berpikir cerdas dan kritis, namun tidak semua orang bisa bertindak; minimal tentang apa yang dipikirkannya. Kita terlampau sering sibuk berpikir hingga lupa cara memulai.

Ender Tin, wanita tua yang mengalami gangguan jiwa menampilkan manusia dalam dimensi homo faber sejati. Ia dalam usia tua dan dalam keadaan gangguan jiwa tidak kehilangan jiwa pekerjanya.

Ender Tin, wanita tua yang mengalami gangguan jiwa menampilkan manusia dalam dimensi homo faber sejati. Ia dalam usia tua dan dalam keadaan gangguan jiwa tidak kehilangan jiwa pekerjanya. Kondisi gangguan jiwa tak serta merta merampas dan membatasi jiwa pekerjanya. Saya mengklaim diri sebagai orang yang sehat secara jasmani dan rohani namun kerap kali gagal menjadi sehat dalam artian yang lebih luas dan lebih mendalam. Saya, di usia semuda sekarang dalam banyak situasi kerap kali memilih tuk bermalas-malasan, membuang-buang waktu secara percuma; padahal ada banyak hal produktif yang seharusnya bisa saya buat. Saya cenderung konsumtif namun kurang produktif, cenderung pula terjebak dalam dimensi: no action, talk only.  Saya lebih banyak menonjolkan diri sebagai homo ludens yang lebih suka bermain-main dan mempermainkan banyak hal, termasuk dalam aktivitas kerja itu sendiri. Terkadang betapa tidak bergunanya saya.

Saya kemudian menghidupkan kembali motor saya lalu pulang dengan begitu banyak kicauan di kepala saya.  Diam-diam, jauh di dasar hati, secara tulus saya mau bilang: terima kasih, Ender Tin!

Ichan Lagur

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP