Ceak Hutu: Ajang Mama-Mama Menjadi Tokoh Publik

Ceak Hutu: Ajang Mama-Mama Menjadi Tokoh Publik

Ngkiong.com – Jika Anda berasal dari wilayah perkampungan atau anak desa di wilayah Manggarai, pasti familiar dengan istilah ceak hutu. Secara leksikal, ceak hutu terdiri dari kata ceak dan hutu. Ceak berarti mencari dan hutu berarti kutu. Secara harfiah ceak hutu berarti mencari kutu. Ceak hutu biasanya dilakukan oleh mama-mama yang mengisi waktu kosongnya dengan mengajak mama-mama tetangga mencari kutu. Biasanya dilaksanakan tanpa suatu perencanaan khusus seperti beberapa kebiasaan masyarakat tradisional lainnya.

Ceak hutu  melibatkan minimal dua orang dan maksimal tak tentu. Pembaca mungkin paham bahwa kegiatan ini merupakan kebiasaan yang lahir atas kesadaran saling membutuhkan. Mama-mama tampaknya paham bahwa manusia merupakan makhluk dualitas. Ia eksis sebagai individu dan eksistensinya sebagai pribadi diakui berkat keberadaannya dalam bermasyarakat. Ceak hutu menjadi simbol mama-mama mengukuhkan eksistensinya di dalam sebuah lingkungan hidup.

Baca Juga: Memilih Berpapasan dengan Ayam atau Anjing

Ceak hutu merupakan salah satu wahana bagi mama-mama sekompleks untuk membicarakan banyak hal. Anda mungkin paham bahwa komunikasi bisa dilakukan dalam bentuk apa saja, di mana dan kapan saja. Tentu dengan tujuan yang bervariasi, tergantung aktornya. Ceak hutu biasanya menjadi sarana yang tepat bagi mama-mama menuangkan semua keresahannya. Percakapan yang dilakukan tentunya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami serta beberapa kode unik yang hanya dipahami oleh internal mama-mama itu sendiri.

Anda mungkin tidak percaya bahwa mama-mama adalah intelijen terbaik yang pernah ada. Tanpa perlengkapan teknologi yang mutakhir, mereka selalu menyampaikan informasi mendekati validitas level atas. Mereka akan menyampaikan semua informasi terhangat di sebuah kampung dari komunitas ceak hutunya. Persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya dan sebagainya akan selalu diup-date. Layaknya talk-show di beberapa media mainstream, mereka memiliki kemampuan membedah setiap persoalan yang ada dengan cukup baik.  Di dalam komunitas kecil itu mereka pun kadang silang pendapat. Level tertinggi mungkin akan terjadi proses dialektika.

Ceak Hutu: Ajang Mama-Mama Menjadi Tokoh Publik
Foto : titavirani.blogspot.com

Baca Juga: Ender Tin

Anak tetangga yang selesai diwisuda tapi masih pengangguran, anak pejabat desa yang hamil di luar nikah, atau seseorang yang membeli mobil dengan kredit tapi ditarik kembali oleh dealer karena telat membayar, merupakan beberapa persolan yang mudah mereka temukan. Mama-mama ini selalu memiliki wacana setiap berkumpul. Hal lain yang dibahas juga seperti rejeki seorang anak yatim piatu yang berhasil membiayai adik-adiknya berkat kerja kerasnya di tanah rantauan. Selain itu, mereka selalu memiliki solidaritas yang cukup tinggi apabila terjadi persitiwa duka.

Atau hal yang paling menarik yaitu membahas sinetron yang baru ditonton semalam. Misalnya, mama A menceritakan tentang kekesalannya terhadap sang tokoh antagonis yang tak manusiawi. Sedangkan mama-mama yang lainnya menyesali seorang tokoh suami yang mencampakkan istrinya di sebuah FTV yang sering diselingi dengan lagu kumenangis. Atau cerita beberapa orang mama yang merasa kagum dengan perkembangan teknologi. Atau yang memiliki media sosial facebook, menceritakan tentang beberapa komentar di dinding facebook-nya bahwa dirinya sekarang sudah cantik.

Baca Juga:Mengapa Kita tak Ramah pada Uang Koin?

Perselisihan sosial selalu menjadi topik menarik yang dibahas oleh mama-mama ini dalam kegiatan ceak hutunya. Seperti, seorang tokoh di sebuah kampung yang kalah dalam  perhelatan pemilihan kepala desa setempat. Mungkin Anda paham bahwa di tengah program Indonesia terang yang digagas pemerintah pusat, masih terdapat beberapa anggota masyarakat yang tidak bisa membeli meteran listrik sendiri. Oleh karena itu, beberapa di antaranya harus membayar pada tetangga yang memiliki meteran listrik sendiri. Kebetulan, sang calon kepala desa ini memiliki tetangga yang tidak memiliki meteran listrik sendiri. Atas dasar informasi yang tak valid bahwa sang tetangga tersebut  tak memilih sang cakades yang kalah itu, naik pitamnya sehingga mencabut kabel listrik yang disambung ke rumah tetangganya.

Hal lain yang sering mereka bicarakan yaitu mimpi-mimpi malam dan sejumlah tafsiran yang kemudian beberapa di antaranya dituangkan dalam bentuk angka-angka sesuai konteks. Atau sekadar membahas keresahan terkait  pembayaran koperasi mingguan di tengah merebaknya covid-19.

Baca Juga: Belajar dari Santo Yosep; Seorang Pendiam yang Berbuat Banyak

Pembaca yang budiman, jika Anda perhatikan bahwa komunitas kecil-kecilan ini juga memiliki daya tawar tersendiri. Beberapa mama-mama juga aktif membicarakan terkait ketimpangan sosial yang ada. Mereka pun kritis akan kondisi di lingkungan yang tidak berpihak. Tidak bisa dipungkiri bahwa mereka pun membangun wacananya sendiri meskipun tidak memiliki landasan dan tujuan  seketat aktivis sosial.

Tidak pernah kita sadari keberadaan mama-mama bersama aktivitas ceak hutu-nya merupakan salah satu alternatif bagi mereka  membentuk kesadarannya sendiri. Meskipun gaungnya tak sehebat politisi kampung yang sering membanggakan kecerdasannya di depan saudara-saudaranya. *

Penulis: Vian Agung

Bagikan Artikel ini

One thought on “Ceak Hutu: Ajang Mama-Mama Menjadi Tokoh Publik

  1. Reply
    Romantisme Arsi Juwandy dalam Memori | Ngkiong
    05/11/2020 at 8:39 pm

    […] Baca juga: Ceak Hutu: Ajang Mama-Mama Menjadi Tokoh Publik […]

Leave a Reply to Romantisme Arsi Juwandy dalam Memori | Ngkiong Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP