Berkorban untuk Nonton Televisi: Sebuah Studi Nostalgia Masa Kecil

Berkorban untuk Nonton Televisi: Sebuah Studi Nostalgia Masa Kecil
Foto : Ilustrasi Liputan6

Ngkiong-Di awal tahun 2000-an, televisi menjadi barang mewah bagi orang-orang pelosok seperti kami. Saya yakin, pembaca yang dibesarkan di kampung pasti merasakan hal yang sama.

Tulisan ini merupakan sebuah upaya merekam kembali pengalaman masa kecil meskipun hanya sebagai sebuah nostalgia. Sebab, narasi tentang masa lalu adalah pijakan bagi kita untuk lebih memaknai setiap peristiwa yang ada.

Dulu, televisi hanya dimiliki oleh orang yang cukup mampu untuk membeli dan memiliki barang mewah tersebut. Biasanya, mereka juga memiliki genset atau generator sebagai sumber penerangan, mengingat saat itu PLN belum masuk. Dan mereka yang memiliki barang mewah ini biasanya latar belakang ekonomi yang kuat seperti guru, tenaga kesehatan, dan kepala desa.

Memiliki perangkat  seperti itu adalah sebuah kehebatan dan efek tidak langsungnya yaitu mereka memiliki status sosial yang cukup prestisius di tengah masyarakat.

Hal yang menarik dari  bapak-bapak ini yaitu mereka didewakan bak pahlawan. Tingkat popularitas dan elektabilitas mereka di sebuah desa sangat tinggi. Jika ada pesta atau acara tertentu, mereka biasanya diberi tempat duduk yang spesial.Tidak jarang pula memberi sambutan mewakili para penonton undangan.

Baca juga:Belajar Mengasihi Dari Empri Magi, Founder Sekolah Alam Dyatame Sumba

Tepat di awal tahun 2001, ketika pertama kali televisi ada, kami bahkan tidak sempat makan malam.Televisi bak seorang permaisuri yang diagungkan kedatangannya. Saya baru menyadari betapa kemajuan saat itu adalah barang langka yang disyukuri ketika ada di depan mata.

Betapa kenyangnya perut saat pertama kali melihat gambar yang bergerak di layar televisi. Sebuah pemandangan yang luar biasa hebatnya saat itu.

Betapa struggle-nya anak seusia saya waktu itu. Bayangkan saja, untuk menonton video lagu โ€Kadorโ€ harus dibayar dengan mengumpulkan beberapa batang kayu kering. Beberapa anak rela menyisihkan kayu hasil pencarian di hutan untuk tiket menonton. Sementara anak lainnya mengambil kayu di dapur tanpa berkorban seperti beberapa anak lainnya.

Atau, sebelum masuk ke rumah sang pemilik televisi, saya dan teman-teman harus menimba air masing-masing dua jerigen. Biasanya jarak tempuh ke mata air pun cukup jauh. Ada lagi yang disuruh mencari rumput untuk makanan kambing.

Baca juga: Sopi

Namun perlu diingat, salah satu persyaratan penting juga adalah harus berteman baik dengan anak pemilik rumah. Sebab dialah kunci apakah kita diizinkan menonton atau tidak. Atau kita diizinkan menonton tetapi dari celah rumah atau jendela. Biasanya momen itu dipakai oleh anak pemilik TV untuk menjahili teman-temannya. Menembak pakai sunta misalnya. Jika anaknya menangis cukup dengan memanggilnya untuk nonton di dalam rumah dan duduk paling depan. Mau seberapa pun lebam akibat tembakan sunta tadi tidak jadi masalah.

Menonton telah menumbuhkan sikap militan bagi anak-anak saat itu. Bayangkan saja, beberapa anak harus mengalihfungsikan baju kausnya menjadi jaket. Baju yang seadanya itu dipaksakan untuk menutup kakinya dari dinginnya malam.

Ternyata, pragmatisme telah ada dalam diri kami saat itu. Padahal saat itu kami tidak sedang berada dalam usaha bertahan hidup dalam ketatnya proses seleksi alam.

Waktu itu, ada satu drama luar negeri yang tayang di TVRI setiap Jumat dan Sabtu malam. Saya lupa judulnya, tetapi tokohnya bernama Duan dan Xia Fu. Drama ini biasa tayang pukul 20.00 WITA. Tiga puluh menit sebelum drama ini mulai tayang, setengah masyarakat dari dua anak kampung memenuhi salah satu rumah yang memiliki televisi.

Bisa ditebak, tren anak-anak seangkatan saya waktu itu adalah bermimpi memiliki jurus seperti Duan dan Xia Fu. Setidaknya bisa melumpuhkan teman sekolah dengan jurus naga api. Dan menjadi kebiasaan umum bagi kita yaitu menceritakan kembali ketika berada di kelas besoknya, padahal saat malamnya sama-sama menonton.

Di antara kisah itu, pemilik televisi sesekali juga membutuhkan waktu privasi. Tidak setiap malam anak-anak dari dua kampung dibiarkan datang menonton di rumah tersebut.

Foto : Dokumen Suara.com

Baca juga: Romansa Mantan Anak Kos

Tetapi, ada saja beberapa anak yang iseng datang lalu membuat lubang kecil pada pintu pemilik rumah. Beberapa anak nekat setiap kali datang โ€œninikโ€ ketika tidak dibiarkan masuk, lubang kecil itu menjadi jalan keluar terbaik.

Wiro Sableng, Barry Prima, Adven Bangun, Si Buta dari Goa Hantu, merupakan nama yang tak asing bagi kami saat itu. Beberapa anak nekat datang ke kota Ruteng hanya untuk meminjam kaset VCD di Om Joni punya toko.

Dari semua hal itu, patut kita syukuri bahwa betapa luar biasanya para pemilik televisi saat itu yang rela membiarkan rumah dan segala konsekuensinya (kotor misalnya) dikunjungi oleh hampir sebagian besar warga desa dengan variasi karakter.

Betapa kebutuhan akan hiburan saat itu sangat tinggi. Bahkan mereka mengorbankan quality timenya dengan saudara sekampung bahkan sedesa.

Saat ini, televisi hampir dimiliki dan ada di setiap rumah-rumah. TV kurang lagi diminati. Anak-anak zaman kini sudah beralih ke youtube dan game. Perubahan selalu pasti datangnya.*

*Vian Agung, Redaktur Ngkiong.com

Bagikan Artikel ini

3 thoughts on “Berkorban untuk Nonton Televisi: Sebuah Studi Nostalgia Masa Kecil

  1. Reply
    Tito Iksan
    16/06/2021 at 6:29 pm

    Jhahaha, dalam momen memberi wejangan saat hajatan nikah biasanya para pemilik televisi memetik kata-kata Wiro Sableng untuk mengiklankan film Wiro serial terbaru. Dengan demikian penonton sekaligus undangan akan merasa penasaran dan siap mengoleksi kayu api terbaik sbgai alat penukar nonton yang disahkan. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

  2. Reply
    Miki misen
    16/06/2021 at 9:19 pm

    Jurus naga genit 212 ( sambil weku wai). Jurus andalan daku danong eme Raha. Mai Tae de lawan ga, ” de..eme jago ta asi pake jurus”.๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜Ž๐Ÿคธ

  3. Reply
    Santo
    17/06/2021 at 8:53 pm

    Terimakasih sudah kembali mengingatkan kita pada kisah kecil,tak patut kita melambai berkata da pada masa silam yang bahagia itu… sukses mimin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP