Berharap Jadi Aktivis Biar Bisa Idealis

Berharap Jadi Aktivis Biar Bisa Idealis
Foto : Ilustrasi Malangtimes

Ngkiong.com – Tan Malaka pernah mengatakan bahwa “Idealisme adalah Kemewahan Terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”. Ini salah satu kalimat yang memengaruhi hidup saya dan memutuskan hidup dan terlibat dalam dunia organisasi dan menjadi . Rambut gondrong, pakaian yang semrawut, memakai headshet, dan menenteng buku Pram serta Marxisme.

Ketika pergi kampus dengan gaya seperti ini, saya merasa bahwa dunia ini milik saya, seakan-akan menjadi pusat perhatian, bahwa apa yang kalian nikmati sekarang adalah hasil jerih payah kaka senior saya. Ketika istirahat sering menikmati kopi sambil membaca buku-buku kiri tidak lupa lagu-lagu yang berbau kritik seperti Jason Ranti, The Panas Dalam, atau Nosstress memenuhi daftar musik kesukaan. Saat malam hari, cenderung mencari orang-orang untuk berdiskusi, bertanya tentang ketidakadilan, dan diakhiri dengan kritikan untuk pemerintah.

Sebuah kebiasaan yang sangat menyenangkan ketika turun ke jalan untuk berorasi, kepala diikat dengan kain bertuliskan keadilan sambil berteriak hidup mahasiswa, hidup rakyat Indonesia. Sebuah situasi yang mengantar saya pada posisi bahwa apa yang dirasakan rakyat tergantung seberapa sering saya berdemo berorasi.

Predikat aktivis sebenarnya bukan gaya-gayaan, apalagi sebagai ajang untuk cari pacar. Kita sudah rasakan bagaimana seorang aktivis yang betul-betul memperjuangkan kepentingan rakyat dengan iklas.

Saya misalnya. Persoalan yang berat justru muncul pasca kuliah. Ketika di wisuda dengan IPK yang cukup untuk digunakan di massa mendatang. Mantan aktivis akan cenderung menghadapi pertanyaan, apa yang mesti dilakukan sekarang? Atau pertanyaan dari orang tua, kapan kamu cari kerja? Pada posisi ini, saya akan cenderung untuk berpikir dan mencari jalan keluar. Toh pada akhirnya saya membutuhkan uang utnuk menghidupi diri sendiri dan suatu saat mungkin anak dan istri saya.

Mencari info lowongan kerja dan masuk dari kantor ke kantor membawa lamaran. Sesekali ketika lelah dengan jalannya hidup, mencoba membaca ramalan zodiac barangkali ada ramalan yang sesuai dengan kenyataan hidup. Pada akhirnya, jalan yang akan saya pilih adalah mencari senior-senior yang telah bekerja di birokrasi atau di kantor pemerintahan.

Baca juga:Permata di Pinggiran Kota Ruteng

Mengajak mereka berdikusi lalu pada akhirnya bercerita tentang masalah, ya masalah saya, mencari pekerjaan itu. Sebagai kaka yang baik, tentunya mereka memahami apa yang menjadi kegelisahan saya. toh mereka juga pernah berada di posisi yang sama.

Mereka akan menghibur dengan beberapa isu hangat seperti tambang yang merupakan musuh aktivis atau menceritakan buku baru hasil pengembangan konsep Tan Malaka dan Karl Marx. Baru, di akhir diskusi tutup dengan tawaran pekerjaan. Mulai bekerja tanpa harus melamar dan seleksi. Sebuah keputusan bijak tanpa harus unjuk rasa. Yah, berkat menjadi aktivis tadi.

Pada posisi ini, sebagai mantan aktivis pastinya akan sangat dilema. Ketika masa kuliah getol berbicara dan menolak dengan keras yang namanya nepotisme. Tetapi di sisi lain saya memang membutuhkan pekerjaan. Seperti teori Minus Manum yang menjadi makan sehari-hari saya dulu, memilih yang terbaik diantar yang terburuk.

Artinya saya akan tetap memilih pekerjaan meskipun melalui jalur Nepotisme dari pada harus menganggur dan ditekan dengan berbagai pertanyaan dari orang tua. Pada posisi ini, idealisme hanya sebuah fase menuju kedewasaan, toh semua manusia di dunia ini pada akhirnya membutuhkan uang dan pekerjaan tidak peduli harus melalui pintu yang mana.

Hidup mantan aktivis.

Penulis: Arsy Juwandi, Redaktur Ngkiong

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Google Analytics Stats

generated by GAINWP