Belajar dari Santo Yosep; Seorang Pendiam yang Berbuat Banyak

Belajar dari Santo Yosep; Seorang Pendiam yang Berbuat Banyak

Ngkiong.com – Cerita tentang Santo Yosep suami Maria menyimpan sejuta tanya bagi umat manusia yang mengimani Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat. Dalam pelajaran agama Katolik di sekolah, Santo Yosep jarang dikisahkan, begitu pun dalam kitab suci. Santo Yosep tidak begitu terkenal namun memiliki peran besar dalam karya keselamatan umat Allah.

Santo Yosep adalah tunangan Maria yang gagal ke pelaminan, karena sang calon telah mengandung lebih dahulu. Sejak saat mengatahui Maria hamil, Santo Yosep sempat mengalami galau akut dan kecemasan yang luar biasa. Namun malaikat Tuhan melalui mimpi datang mengingatkan Santo Yosep agar tidak takut mangambil Maria sebagai istri, karena anak yang dikandungan Maria adalah karunia Roh Kudus (baca Mat 1:20).

Setelah melalui mimpi itu, Santo Yosep percaya dan diam-diam mengambil Maria ibu Yesus sebagai istrinya. Walaupun baginya hal itu berat, namun karena kepercayaan dan perintah Tuhan, ia pun menjalankan amanat seperti yang dikatakan dalam mimpinya.

Baca Juga:Blogger yang Berguru pada Blogger

Ketika menjalankan amanah tersebut, Santo Yosep tidak peduli apa kata orang dan lingkungan masyarakat sekitar. Ia hanya menjalankan perintah Tuhan dengan tulus hati tanpa mempertimbangkan hal buruk.

Pada saat Maria hamil tua, Santo Yosep dihadapkan dengan kondisi yang berbahaya. Kabar kedatangan Yesus Kristus Sang Mesias  telah sampai ke telinga Raja Herodes, sehingga ia pun memerintahkan prajuritnya untuk melakukan pembunuhan massal terhadap bayi laki-laki di bawah usia dua tahun.

Mengetahui hal tersebut, atas perintah Tuhan Santo Yosep kemudian membawa keluarganya secara diam-diam mengungsi ke Mesir sampai Yesus dilahirkan (baca Mat:2:14-16).

Dalam potongan kisah pada injil, Santo Yosep merupakan seorang tokoh yang bersahaja, rendah hati, dan pekerja keras. Ia seorang tukang kayu. Selain itu, Santo Yosep dikenal sebagai orang yang pendiam, namun sikap yang ia tunjukan dapat dilihat dari pekerjaan yang ia lakukan.

Berkat ketulusasn dan sikapnya yang jujur penuh rendah hati, ayah angkat Yesus itu pun dikenang khusus dalam Gereja Katolik yang dikenal sebagai hari raya Santo Yosep.  Hari raya tersebut jatuh pada tanggal 19 Maret dalam setiap tahunnya.

Dari kisahnya yang luar biasa itu, banyak gereja, biara, dan sekolah-sekolah katolik di dunia yang menjadikannya sebagai santo pelindung, dengan tujuan agar umat dapat mengikuti jejaknya sebagai tokoh teladan.

Baca Juga: Multikulturalisme Sepakbola

Belajar Menghidupi Sikap Santo Yosep

Spirit yang dimiliki oleh Santo Yosep pada masa hidupnya mesti menjadi cerminan untuk hidup kita di masa kini. Untuk konteks hari ini, jarang kita temukan orang-orang yang memiliki sikap seperti Santo Yosep, termasuk penulis sendiri.

Penulis dalam menulis tentang Santo Yosep masih ragu-ragu untuk mewartakannya, karena penulis belum bisa menghidupi sepenuhnya semangat yang dimiliki oleh ayah angkat Yesus ini.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita menjumpai orang-orang yang lebih banyak berbicara dari pada berbuat, dan lebih banyak gosip daripada refleksi.

Di lingkungan keluarga sering kali kita tidak sabar, mudah menyerah, dan tidak bertanggung jawab. Baik terhadap ayah, ibu, kakak, adik, maupun dengan keluarga dekat lainnya serta lingkungan masyarakat sekitar.

Sebagai umat manusia yang mengimani Tuhan Yesus, mestinya kita belajar banyak dari Santo Yosep yang memiliki sikap rendah hati, penyanyang, setia, dan bertanggung jawab. Dari dia kita belajar mencintai seseorang dengan tulus tanpa memperhitungkan beban rasa yang dimiliki.

Baca Juga: Ender Tin

Salah satu sikap yang patut dijadikan contoh dari Santo Yosep adalah kesetiaan dan kebijaksanaan dalam merangkul keluarganya.

Dalam kisah kitab suci, sikap kesetiaan dan kebijaksanaan Santo Yosep  tercermin pada saat Yesus hilang dalam perjalanan pulang ke Nazaret setelah merayakan paskah di Yerusalem. Meski sebagai ayah angkat, Santo Yosep bersama Maria tetap mencari Yesus, pencarian itu kurang lebih tiga hari lamanya. Ketika ditemukan, ternyata Yesus sedang berdiskusi dengan para ahli kitab suci di bait Allah(Baca Luk 2:41-52).

Sikap-sikap seperti yang dilakukan oleh ayah angkat Yesus ini, mesti kembali dihidupkan dalam aktivitas keseharian. Perilaku yang ditunjukan oleh Santo Yosep pada masa hidupnya patut kita teladani dalam ruang lingkup hidup kita.

Terkadang dalam menjalani aktivitas sehari-hari, kita sering mudah menyerah karena tidak meyakini apa yang kita lakukan. Untuk konteks ini kita juga perlu belajar banyak dari Santo Yosep yang selalu berani dalam mengambil keputusan dengan mematangkan segala resiko yang didapat, sehingga ia pun bekerja dalam kemuliaan nama Tuhan.

Sikap kesetiaan dan kebijaksanaan memang mudah diucapkan, namun sangat sulit untuk dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam lagu madah bakti, Santo Yosep diceritakan sebagai penjaga keluarga Nazaret, kita pun diharapkan dapat membangun keharmonisan dalam keluarga dengan semangat hidup Santo Yosep.

Darinya kita sadar untuk belajar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, dan sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab kepada keluarga serta  model dalam segala aspek kehidupan kita.*

Oleh Juito Ndasung

Bagikan Artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google Analytics Stats

generated by GAINWP