Asistensi dan Nasib Para Alumni STKIP Ruteng

Asistensi dan Nasib Para Alumni STKIP Ruteng
Foto: Dok postflores.com

Ngkiong.com – Menjadi salah satu guru di daerah yang jauh dari kota memang menjadi tantangan tersendiri. Ada banyak tugas dan tanggung jawab yang mesti diemban. Di Manggarai misalnya, guru dituntut untuk menjadi seorang yang multi talent: mulai dari memimpin doa, menjadi wasit voli, MC, Editor foto sampai menjadi pelatih paduan suara gereja (Koor).

Saya sebagai seorang guru juga mengalami hal yang sama, apalagi dengan titel mantan anak didik Almarhum Pater Piet pedo Neo menjadi nilai plus di mata masyarakat. Memang tidak salah juga, hampir setiap tahun mahasiswa STKIP Santu Paulus Ruteng (sekarang universitas) akan selalu mengadakan kegiatan asistensi. Itu adalah kegiatan yang mengharuskan mahasiswa untuk terlibat dengan masyarakat dalam perayaan tertentu semisal perayaan Natal atau Paskah. Mereka akan diminta untuk mengambil alih semua tugas kecuali memimpin perayaan ekaristi. Biasanya hal yang ditunggu-tunggu oleh masyakarat atau anggota KBG adalah suara emas mahasiswa. Bagaimana tidak, sosok almarhum Pater Piet dikenal sebagai salah satu maestro musik di daratan flores bahkan NTT. Ketika menyebut nama beliau maka yang terlintas dalam benak kita adalah seni musik, nada, not balok, dan koor.

Bca juga:Istilah-istilah di Sekolah Calon Imam

Asistensi memang menjadi program legend kampus yang didirikan oleh Alm. Pater Yan van Roosmalen itu. Setiap perayaan Natal atau Paskah mahasiswa akan dibagi dalam kelompok kecil dan menyebar di hampir setiap paroki di seantero keuskupan Ruteng. Karena mendapat titel sebagai program legend, mahasiswa hampir menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk latihan koor. Lebih dari itu, Asistensi adalah pertaruhan harga diri mahasiswa, organisasi, prodi, kampus, dan dosen. Apalagi dosen kami sebagian besar adalah imam, artinya jarang sekali seorang imam itu salah dalam mendidik siswa atau mahasiswanya. Itu adalah pemikiran yang ada di masyarakat. Tidak ada paragraf yang tepat untuk menyanggah kalimat itu bahkan dengan teori Abraham Maslow.

Masalah yang muncul kemudian adalah bagi mereka kaum-kaum marginal di kampus, mereka yang memiliki suara fals, tidak tahu baca not tetapi selalu mendapat nilai A mata kuliah seni musik. Mereka adalah orang-orang yang berpotensi menjadi tokoh antagonis dan merusak citra kampus. Kalimat yang sering saya dengar ketika latihan koor karena tidak bisa bernyanyi dengan nada yang sudah ditentukan. Tetapi setiap masalah pasti ada jalan keluar, maka ketika asistensi mereka yang tidak pernah menyerah dengan keterbatasan suara ini akan diberi tugas lain, menjadi koster, dokumentasi, membawa persembahan, atau keamanan.

Masalah lain yang muncul adalah pasca kuliah dan bekerja menjadi seorang guru. Semakin jauh daerah kita dengan ibu Kota Kabupaten maka peran dan tanggung jawab kita semakin besar. Di mata masyarakat guru adalah orang yang disegani, mereka tahu banyak hal. Yang tidak disadari oleh sebagian besar masyarakat adalah bahwa tidak semua guru bisa membaca not. Alih-alih ingin mengejar not lari, not malah makin jauh dari suara.

Seorang teman alumnus STKIP Ruteng pernah berbagi ceritanya. Saat asistensi paskah sekitar tahun 2015, dia dan beberapa teman di kelompoknya dipercayakan untuk menjadi anggota koor kelompok suara tenor. Saat jadwal latihan di kampus mereka jarang mengikuti  latihan dengan serius, sehingga nada lagu yang dilatih kurang dikuasai. Akibatnya ketika hari H, mereka pindah menjadi kelompok bass. Tetapi setelah pelatih mendengar dengan teliti ternyata nada yang mereka nyanyikan adalah sopran.

Atau pengalaman lainnya saat asistensi yaitu saat dua orang teman yang berdebat tentang nada dan ketukan yang tepat dalam sebuah lagu persembahan. Keduanya berdebat cukup sengit nan menegangkan. Keduanya dilerai oleh seorang senior yang cukup paham dengan not dan semua hal tentang koor. Hal yang membagongkan adalah hal yang dipertahankan dari kedua teman itu salah. Mungkin mereka punya skill berdebat sesuai dengan visi misi mereka bahwa semua harus diperdebatkan. Tujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Tapi sabar, mereka tidak sempat mengeluarkan kata interupsi saat itu. Kan bukan bahas AD/ART organisasi.

Baca juga:Tambang di Tengah Kuasa Kaum Kapitalis

Seorang teman perempuan juga selama asistensi, beliau tidak dilibatkan dalam kelompok koor. Beliau menjadi anggota tetap menari. Menurutnya, passionnya adalah menari. Baginya, menari adalah denyut nadi kehidupan, tanpa menari ada sesuatu yang kurang. Saat makan pun dia mencedok  nasi dengan gerakan menari. Setiap ketua panitia pelaksana asistensi sudah tahu posisi yang harus di isi oleh beliau satu ini, koordinator penari. 

Pengalaman-pengalam unik nan menggemaskan ini hanya bagian kecil dari kekuatan kebersamaan selama asistensi. Meski di tempat kerja banyak alumnus yang harus belajar dari nol terkait not, ketukan, intonasi dan sebagainya. Tetapi, secara keseluruhan asistensi tetap memberikan sumbangsih yang cukup besar  bagi alumnus STKIP Ruteng, terlebih khusus soal kepemimpinan, tanggung jawab, dan kepekaan dengan teman-teman. Di akhir kata, penulis ucapkan salam untuk semua kawan-kawan yang waktu koor hanya menyanyikan lagu di bagian akhir, apalagi lagu post komuni Haec Dies.***

Oleh: Arsi Juwandy, Redaktur Ngkiong

Bagikan Artikel ini

One thought on “Asistensi dan Nasib Para Alumni STKIP Ruteng

  1. Reply
    Monika
    06/03/2022 at 10:54 am

    Yayaa benar sekali. Saya juga punya pengalaman saat melaksanakan asistensi yang sekarang zamannya lebih di kenal dengan PKM (Pengabdian kepada Masyarakat). Banyak hal yang sering terjadi saat latihan ataupun ketika hari H-nya. Saya pribadi selama melaksanakan PKM saya selalu menjadi DIRIGEN bukan karena saya tahu baca not tetapi modal kepercayaan diri dan bisa memimpin sebuah lagu dan membawakan lagu tersebut dengan baik dan tentunya dengan anggota koor yang suaranya luar biasa😂😂😂 Secara tidak sadar, ini yang namanya pendustaan terhadap Alm. PATER PIET karena sekarang tidaklah seperti dulu di mana duluan not baru lirik😂😂

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Google Analytics Stats

generated by GAINWP